Puisi: Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan perjalanan batin yang intens, diwarnai kesunyian, kenangan, dan ...
Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu

telah kususuri
setapak sajak
yang dulu kau lalui
sambil sesekali mereguk arak
atau mengulum kuntum
bunga rumput

di batas cemas
aku terjaga
dan bergegas

tiba di gubugmu
terpukau aku
kembang lalang
mekar sempurna
kesuir angin
dan jejak basah hujan
candi tua
dan matamu
yang pucat senja
menunggu waktu
yang luruh
dalam tubuh

o, jiwa berlumut
kau kutuk sunyi
menjadi batu
bekal pendakianku
menuju puncak
paling nikmat
paling laknat

1995

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan perjalanan batin yang intens, diwarnai kesunyian, kenangan, dan pengamatan terhadap alam maupun diri sendiri. Penyair menggunakan simbol-simbol alam—bunga rumput, angin, hujan, dan kembang lalang—untuk mengekspresikan pengalaman emosional dan refleksi eksistensial. Puisi ini memadukan pengalaman fisik (perjalanan ke gubug) dengan pengalaman batin yang mendalam, menghadirkan ketegangan antara kekaguman, kecemasan, dan sunyi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian, kenangan, dan pencarian makna dalam perjalanan hidup. Puisi ini juga menyinggung hubungan antara manusia dan alam sebagai cermin pengalaman batin, serta pengungkapan konflik antara kenangan masa lalu dan kesadaran diri saat ini.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang menyusuri jejak seseorang—mungkin orang yang dekat secara emosional—yang dahulu meninggalkan tanda dalam hidupnya. Perjalanan ini berpuncak pada gubug sang “kau,” di mana penyair terpukau oleh alam di sekitarnya dan kehadiran sosok yang menunggu dalam diam. Kesunyian yang dikutuk menjadi batu menjadi simbol bekal dan hambatan sekaligus pendorong untuk melanjutkan perjalanan batin.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada refleksi tentang kesunyian sebagai bagian dari pengalaman manusia. Kesunyian bukan hanya kehilangan suara atau kehadiran, tetapi juga menjadi batu sandungan sekaligus pendorong introspeksi. Mata yang “pucat senja” dan “jiwa berlumut” menegaskan proses peluruhan waktu, pengalaman, dan kenangan yang membentuk identitas.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, penuh kekaguman, sekaligus mencekam. Ada ketegangan antara keindahan alam—kembang lalang, angin, hujan—dan kesunyian yang membekukan. Perpaduan ini menciptakan atmosfer meditasi batin yang sarat refleksi dan intensitas emosional.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya menerima kesunyian sebagai bagian dari perjalanan hidup dan introspeksi. Kesunyian bisa menjadi penghalang sekaligus bekal untuk memahami diri, orang lain, dan hubungan manusia dengan alam dan waktu.

Puisi “Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu” adalah puisi yang menekankan perjalanan batin melalui pengalaman alam dan kenangan. Wayan Jengki Sunarta berhasil meramu kesunyian, alam, dan introspeksi menjadi satu kesatuan puitik yang memikat, mengajak pembaca merenungkan makna waktu, kenangan, dan diri sendiri dalam ruang sunyi yang transformatif.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.