Puisi: Kawula-Gusti (Karya Ngurah Parsua)

Puisi “Kawula–Gusti” karya Ngurah Parsua bercerita tentang perjalanan batin seorang hamba yang merindukan Tuhannya. Pencarian itu berlangsung dalam ..
Kawula-Gusti

hati telaga bening
wajah di air hening
rindu pada-Mu

engkau jiwa sumber jiwa
            dilerai ruang bungkus kaca
    tembus pandang bertatapan
gelisah rayuan kalbu
    menyesakkan batin
        mendaki ke puncak kesucian

kudus pencarian
di lorong kemuliaan
antara Maha Besar dan pengabdi
di dua jiwa
tersekat selaput sutra
bertatapan di taman rindang damai
penyatuan bayang-bayang
manunggal tanpa berlekatan
ketika sempurna tiba

Denpasar, 2004

Sumber: 99 Puisiku (Lembaga Seniman Indonesia Bali, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Kawula–Gusti” karya Ngurah Parsua merupakan puisi religius-spiritual yang menyoroti hubungan batin antara manusia (kawula) dan Tuhan (Gusti). Dengan bahasa yang lembut, simbolik, dan kontemplatif, puisi ini menghadirkan pengalaman pencarian spiritual yang intim, sunyi, dan mendalam. Pilihan diksi yang minimalis namun sarat makna menjadikan puisi ini lebih menyerupai doa atau meditasi batin daripada narasi konvensional.

Tema

Tema utama puisi ini adalah relasi spiritual antara hamba dan Tuhan, khususnya proses pencarian, kerinduan, dan penyatuan batin tanpa meleburkan identitas. Puisi ini mengangkat tema kesucian jiwa, pengabdian, dan kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam ruang batin manusia.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seorang hamba yang merindukan Tuhannya. Pencarian itu berlangsung dalam keheningan hati, digambarkan melalui simbol telaga bening, air hening, dan lorong kemuliaan. Relasi kawula–Gusti tidak hadir sebagai perjumpaan fisik, melainkan pertemuan jiwa yang dibatasi “selaput sutra”—sebuah batas halus antara manusia dan Yang Maha Suci.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hubungan manusia dengan Tuhan merupakan proses batin yang penuh kesadaran, kerinduan, dan penyucian diri. Penyatuan yang dicapai bukanlah peleburan total, melainkan keselarasan dan kedekatan spiritual: “manunggal tanpa berlekatan.” Hal ini menegaskan pandangan bahwa manusia tetaplah hamba, meskipun mencapai kedekatan tertinggi dengan Sang Pencipta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, damai, dan kontemplatif. Nuansa ketenangan spiritual muncul melalui gambaran taman rindang, telaga bening, dan air hening. Meskipun terdapat kegelisahan batin dalam proses pencarian, keseluruhan suasana puisi tetap mengarah pada ketenteraman dan kedamaian batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa pencarian Tuhan memerlukan ketulusan, kesabaran, dan penyucian batin. Hubungan kawula dan Gusti bukan soal jarak fisik, melainkan kedalaman kesadaran jiwa. Manusia diajak untuk menempuh jalan spiritual dengan rendah hati, tanpa ambisi untuk “melebur”, tetapi dengan kesiapan untuk menyatu dalam keselarasan kehendak.

Puisi “Kawula–Gusti” karya Ngurah Parsua adalah refleksi spiritual yang halus dan mendalam tentang relasi manusia dengan Tuhan. Melalui bahasa simbolik dan suasana kontemplatif, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungi makna pengabdian, kesucian, dan kerinduan jiwa. Puisi ini menegaskan bahwa kesempurnaan spiritual bukanlah tentang menghilangkan diri, melainkan menemukan harmoni sejati antara kawula dan Gusti.

Ngurah Parsua
Puisi: Kawula-Gusti
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.