Kecambah
telah kuikuti jejak gelap
ke mana semalam berpesiar
di pelukannyalah, ada bias isyarat menyilaukan
tapi selalu setiap pagi
kecambah yang tersemai di bawah mimpi
mengulur tangan jauh-jauh
menyongsong sisa nyawaku di kebun jambu
1976
Sumber: Bulan Tertusuk Lalang (1982)
Analisis Puisi:
Puisi “Kecambah” karya D. Zawawi Imron menampilkan bahasa yang ringkas namun padat makna. Melalui simbol alam yang sederhana, penyair menghadirkan perenungan tentang perjalanan batin, gelap dan terang, serta harapan yang terus tumbuh meski berasal dari pengalaman yang tidak selalu cerah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah harapan dan kebangkitan hidup setelah melewati kegelapan. Kecambah menjadi lambang kehidupan baru yang muncul dari tanah, dari sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dan nyaris tak terlihat.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menelusuri “jejak gelap” malam—sebuah perjalanan batin yang penuh tanda dan isyarat menyilaukan namun belum memberi kejelasan. Meski demikian, setiap pagi selalu hadir kecambah yang tumbuh di bawah mimpi, mengulurkan tangan ke arah sisa nyawa penyair di kebun jambu. Kehadiran kecambah menjadi penanda kehidupan yang terus berlanjut.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada keyakinan bahwa dari pengalaman gelap, lelah, atau luka batin, selalu ada kemungkinan tumbuhnya harapan baru. Kecambah melambangkan daya hidup, iman, atau optimisme yang perlahan muncul dan mengajak manusia untuk kembali menyambut kehidupan, meski dengan sisa tenaga yang ada.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana reflektif dan kontemplatif, bergerak dari nuansa gelap dan samar menuju kesan lembut yang penuh harap di bagian akhir.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk tidak menyerah pada kegelapan pengalaman hidup. Setiap pagi selalu membawa kemungkinan baru, dan harapan—sekecil apa pun—dapat menjadi pegangan untuk terus bertahan dan melangkah.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini meliputi:
- Metafora, seperti “jejak gelap”, “kecambah yang tersemai di bawah mimpi”, dan “sisa nyawaku”,
- Personifikasi, pada kecambah yang “mengulur tangan” dan “menyongsong”,
Puisi "Kecambah" karya D. Zawawi Imron adalah puisi singkat yang menegaskan daya hidup manusia. Dengan simbol alam yang sederhana namun kuat, puisi ini menunjukkan bahwa di balik gelapnya pengalaman, selalu ada benih harapan yang tumbuh pelan-pelan, siap disambut oleh siapa pun yang masih bersedia membuka diri pada pagi.

Puisi: Kecambah
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.