Kedasih
tit tit tuit tit tit tuit
betapa bunyimu menyayat
tit tit tuit tit tit tuit
siapa kan jadi mayat
burung kedasih suaramu sayu
bencana apa mendukung sendu
tit tit tuit tit tit tuit
burung berparuh tajam
tit tit tuit tit tit tuit
bunyimu menyentuh hatiku dalam
siapa tak tahu kedasih malas
gemar bertelur di sarang kipas
Sumber: Horison (November, 1971)
Analisis Puisi:
Puisi “Kedasih” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menghadirkan gambaran burung kedasih dengan bunyi khasnya yang berulang: “tit tit tuit”. Bunyi ini tidak sekadar suara alam, melainkan simbol kesedihan, firasat bencana, dan kegelisahan batin manusia. Melalui pengulangan bunyi dan citraan burung, penyair membangun suasana muram yang berkaitan dengan pertanda dan nasib.
Tema
Tema puisi ini adalah kesedihan dan firasat kemalangan yang dihadirkan melalui simbol alam, khususnya suara burung kedasih. Puisi juga menyinggung sifat alami dan reputasi burung tersebut sebagai metafora perilaku manusia.
Puisi ini bercerita tentang suara burung kedasih yang terdengar berulang dan menyayat hati. Penyair merasakan bunyi itu sebagai pertanda bencana atau kematian (“siapa kan jadi mayat”). Ia menggambarkan kedasih sebagai burung bersuara sayu, berparuh tajam, dan dikenal malas karena bertelur di sarang burung lain. Penggambaran ini menghubungkan karakter burung dengan perasaan duka dan kecemasan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan firasat buruk dan kesedihan yang datang dari luar diri manusia namun mengguncang batin. Suara kedasih melambangkan pertanda kemalangan atau kematian. Sifat kedasih yang “malas” dan bertelur di sarang lain juga menyiratkan kritik terhadap perilaku parasit—makhluk yang hidup bergantung pada orang lain.
Dengan demikian, burung kedasih tidak hanya simbol duka, tetapi juga cermin sifat manusia yang mengambil keuntungan dari pihak lain, sehingga memunculkan kegelisahan moral.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa muram, sendu, dan mencekam ringan. Bunyi berulang “tit tit tuit” menciptakan kesan monoton sekaligus mengusik, seperti pertanda yang terus menghantui.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyiratkan pesan agar manusia peka terhadap pertanda alam dan suara batin yang mengingatkan akan bahaya atau kemalangan. Selain itu, ada sindiran terhadap sifat malas dan parasit yang merugikan pihak lain.
Puisi “Kedasih” merupakan puisi pendek namun kuat melalui permainan bunyi dan simbol alam. Piek Ardijanto Soeprijadi menjadikan suara burung sebagai lambang kesedihan, pertanda, dan kegelisahan batin manusia. Melalui repetisi bunyi dan citraan sederhana, puisi ini menunjukkan bagaimana alam dapat menjadi cermin nasib dan perilaku manusia—bahwa suara kecil pun mampu menghadirkan makna besar tentang duka dan peringatan hidup.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.