Puisi: Kepada Si Mati (Karya Djajanto Supra)

Puisi “Kepada Si Mati” bercerita tentang seseorang yang berbicara kepada orang yang telah meninggal, tetapi merasa kata-katanya justru menyesatkan ...
Kepada Si Mati

kata-kataku akan menyesatkan
lebih baik diam, mengangguk
atau memberi senyuman
pergilah arah ke mana suka
anak yang durhaka
gelandangan bagai laparku
jangan meminta
kedermawanan tiada lebih
dari jiwa
yang mengulurkan kasih
dengan sekuntum bunga.

Jakarta, 1969

Sumber: Sastra (Oktober, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Kepada Si Mati” menghadirkan ungkapan batin seseorang yang berbicara kepada sosok yang telah tiada. Dengan bahasa singkat dan simbolik, penyair menampilkan kesadaran akan keterbatasan kata, rasa bersalah, dan kerinduan yang hanya dapat diungkapkan melalui kesunyian dan gestur sederhana. Puisi ini terasa seperti elegi pendek yang sarat penyesalan sekaligus kasih.

Tema

Tema puisi ini adalah kematian, penyesalan, dan kasih yang tak sempat terungkap. Puisi juga menyentuh tema kesunyian komunikasi antara yang hidup dan yang telah pergi.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berbicara kepada orang yang telah meninggal, tetapi merasa kata-katanya justru menyesatkan atau tak memadai. Karena itu ia memilih diam, mengangguk, atau tersenyum sebagai bentuk komunikasi batin.

Sosok yang mati disebut “anak yang durhaka” dan “gelandangan bagai laparku”, yang mengisyaratkan hubungan emosional yang rumit—mungkin penuh luka atau penyesalan. Pada akhirnya, satu-satunya pemberian yang mungkin hanyalah kasih yang sederhana, diibaratkan sekuntum bunga.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kata-kata sering tak mampu menjembatani penyesalan terhadap orang yang telah tiada. Diam, senyum, dan bunga menjadi simbol penghormatan dan kasih terakhir.

Sebutan “anak yang durhaka” bisa menyiratkan rasa bersalah, baik dari si mati maupun dari penyair sendiri. Sementara “gelandangan bagai laparku” menyiratkan kekosongan batin dan kerinduan yang tak terpenuhi. Puisi ini menegaskan bahwa hubungan manusia sering baru disadari nilainya setelah kehilangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipetik antara lain:
  • Hargai hubungan sebelum kehilangan terjadi.
  • Kata-kata tidak selalu cukup untuk mengungkapkan kasih.
  • Penyesalan sering datang setelah perpisahan abadi.
  • Kasih yang tulus bisa hadir dalam bentuk sederhana.
Puisi “Kepada Si Mati” adalah elegi singkat tentang penyesalan dan kasih yang terlambat diungkapkan. Djajanto Supra menampilkan kesadaran bahwa kata-kata sering gagal menjangkau kedalaman hubungan manusia, terutama setelah kematian. Dalam kesunyian, senyum, dan sekuntum bunga, tersimpan ungkapan kasih paling sederhana sekaligus paling dalam.

Puisi Djajanto Supra
Puisi: Kepada Si Mati
Karya: Djajanto Supra

Biodata Djajanto Supra:
  • Djajanto Supra lahir pada tanggal 13 Maret 1943 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.