1983
Sumber: Horison (Agustus, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Kertanegara: Renungan Hari Akhir” karya Abdul Hadi WM merupakan salah satu puisi naratif-reflektif yang kuat dalam khazanah sastra Indonesia modern. Puisi ini menggabungkan sejarah, mitologi, spiritualitas, dan kritik eksistensial dalam satu bangunan teks yang panjang dan intens. Sosok Kertanegara—raja terakhir Singhasari—dihadirkan bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai simbol manusia yang berada di ambang runtuhnya kekuasaan, makna hidup, dan keyakinan dirinya sendiri.
Puisi ini bukan puisi sejarah dalam arti kronik, melainkan sebuah perenungan batin tentang kehancuran, kesadaran, dan keterlambatan penyesalan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehancuran kekuasaan dan kekosongan batin manusia. Abdul Hadi WM menggambarkan bahwa kejatuhan Kertanegara bukan hanya akibat serangan musuh atau pengkhianatan politik, tetapi berakar pada kehampaan spiritual, kesombongan, dan kerakusan yang telah lama tumbuh di dalam dirinya.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesementaraan (kefanaan), pertarungan antara ego dan kesadaran, serta relasi manusia dengan Tuhan pada saat-saat paling genting. Kekuasaan, kemegahan, dan kenikmatan duniawi ditampilkan sebagai sesuatu yang rapuh dan menipu.
Puisi ini bercerita tentang detik-detik batin Raja Kertanegara menjelang keruntuhan Singhasari akibat pemberontakan Jayakatwang. Namun alur cerita tidak disajikan secara linear atau historis, melainkan melalui arus kesadaran tokoh utama.
Kertanegara digambarkan sedang berada di istana, dikepung musuh, dikelilingi arak, perempuan, dan kemewahan yang dulu menjadi simbol kejayaannya. Di tengah mabuk, pesta, dan hawa nafsu, ia justru dilanda pertanyaan eksistensial yang berulang: “Dari mana datang bibit kekosongan ini?”
Puisi ini menampilkan pergulatan batin seorang raja yang dulu merasa seperti matahari, elang, dan harimau—simbol kekuatan absolut—namun kini menyadari dirinya rapuh, ketakutan, dan sebatang kara di hadapan kematian.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang kuat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan landasan moral dan spiritual. Abdul Hadi WM seolah ingin mengatakan bahwa kehancuran sebuah kerajaan sering kali bermula dari kehancuran batin penguasanya.
Kekosongan yang berulang-ulang disebut bukan sekadar kehampaan emosional, melainkan kekosongan nilai: hilangnya kasih, empati, dan kesadaran akan keterbatasan manusia. Kertanegara baru menyadari semuanya ketika segalanya telah terlambat—ketika musuh telah di depan pintu dan kematian tak bisa ditawar.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa penyesalan yang datang di ujung waktu tidak selalu membawa keselamatan, melainkan hanya pemahaman pahit tentang kesia-siaan hidup yang dijalani dengan keliru.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung kelam, muram, dan penuh kegelisahan. Dari awal hingga akhir, pembaca diajak masuk ke ruang batin yang sesak oleh kecemasan, ketakutan, dan kebingungan. Gambaran istana yang gemetar, angin malam yang gusar, langit mendung, serta bayang-bayang musuh memperkuat nuansa kehancuran yang tak terelakkan.
Di saat-saat tertentu, suasana berubah menjadi lirih dan reflektif, terutama ketika Kertanegara berbicara langsung kepada Tuhan atau merenungi dirinya sendiri sebagai “sosok kebohongan dengan baju penuh hiasan indah”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan tentang bahaya kesombongan, kerakusan, dan pemujaan terhadap kekuasaan. Abdul Hadi WM menegaskan bahwa kemegahan duniawi tidak mampu menyelamatkan manusia dari kehancuran batin dan kematian.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa manusia seharusnya tidak menunda kesadaran dan pertobatan. Ketika kesadaran datang terlalu lambat, yang tersisa hanyalah penyesalan dan keterasingan dari diri sendiri maupun Tuhan.
Puisi “Kertanegara: Renungan Hari Akhir” merupakan karya reflektif yang tidak hanya mengajak pembaca menengok sejarah, tetapi juga bercermin pada kondisi manusia modern. Melalui sosok raja yang runtuh, Abdul Hadi WM menghadirkan pertanyaan universal tentang kekuasaan, kesia-siaan, dan relasi manusia dengan Tuhan.
Puisi ini menegaskan bahwa kehancuran terbesar bukanlah runtuhnya istana atau kerajaan, melainkan runtuhnya makna hidup di dalam diri manusia itu sendiri.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
