Puisi: Khotbah Mafioso (Karya Rahman Arge)

Puisi “Khotbah Mafioso” karya Rahman Arge menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam melalui ironi dan satire. Dengan memadukan dunia kriminal, ...
Khotbah Mafioso

Kita dengarkan percakapan itu
Di kursi-kursi atas orang-orang atas
Tak ada beda nonton film
Ketika Don Artobello, cukong para gangster
Sisilia
Meminta Don Luchessi, politisi hitam dengan
Doktrin-doktrin licik
Memberikan khotbah suci:
        "Uang adalah senjata,"
        "Politik menuntun kapan menarik picunya!"

Hari ini, katanya dengan air mata
Sekian dulu khotbah suci
Yang ditimba dari hidup yang tulus
Untuk pegangan awal
Bagi anak-anak domba kesucian
Azimat
Untuk hidup selamat
Amin

Jakarta, 2002

Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Khotbah Mafioso” karya Rahman Arge menghadirkan kritik sosial-politik yang tajam melalui ironi dan satire. Dengan memadukan dunia kriminal, politik, dan bahasa religius, puisi ini menyingkap bagaimana kekuasaan kerap dibungkus oleh retorika moral yang tampak suci, tetapi sejatinya sarat kepentingan. Judul puisi sendiri sudah memunculkan paradoks: khotbah—yang identik dengan nilai luhur—disandingkan dengan mafioso, simbol kekerasan dan kejahatan terorganisasi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemunafikan kekuasaan dan manipulasi moral dalam relasi antara uang, politik, dan kekerasan. Puisi ini menyoroti bagaimana ajaran-ajaran yang terdengar suci justru digunakan untuk membenarkan praktik licik dan brutal.

Puisi ini bercerita tentang percakapan para elite—“orang-orang atas”—yang disaksikan layaknya tontonan film. Dua tokoh simbolik, Don Artobello (mafia/cukong gangster) dan Don Luchessi (politisi hitam), terlibat dalam dialog yang melahirkan sebuah “khotbah suci”. Isi khotbah itu menyederhanakan relasi kekuasaan menjadi rumus dingin: uang sebagai senjata dan politik sebagai penentu kapan pelatuk ditarik. Di bagian akhir, khotbah ini diwariskan kepada “anak-anak domba kesucian” sebagai azimat hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik keras terhadap cara elite memproduksi dan mewariskan ideologi kekerasan serta keserakahan dengan balutan moralitas. Bahasa agama digunakan sebagai legitimasi, sementara masyarakat—yang diibaratkan anak domba—menjadi penerima ajaran tanpa daya kritis. Puisi ini menyiratkan bahwa kekuasaan sering bekerja secara sinis: kejahatan tidak tampil telanjang, melainkan dibungkus air mata, kesucian, dan kata “Amin”.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa satiris, sinis, dan ironis. Ada kesan dingin dan getir ketika percakapan tentang kekerasan diperlakukan seperti tontonan biasa. Di saat yang sama, nuansa religius yang dipelintir menciptakan suasana ganjil dan mengganggu, seolah pembaca dipaksa menyadari betapa rapuhnya batas antara khotbah dan propaganda.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk bersikap kritis terhadap wacana moral yang datang dari pusat kekuasaan. Puisi ini memperingatkan bahwa tidak semua yang dibungkus kesucian benar-benar bermaksud baik, dan bahwa bahasa agama atau moral sering kali dimanfaatkan untuk melanggengkan kekerasan dan ketidakadilan.

Puisi “Khotbah Mafioso” karya Rahman Arge adalah puisi kritik yang berani dan tajam. Dengan memadukan dunia mafia, politik, dan bahasa agama, puisi ini membongkar wajah kekuasaan yang manipulatif dan penuh kepalsuan. Karya ini mengingatkan pembaca agar tidak menelan mentah-mentah setiap khotbah yang datang dari atas mimbar kekuasaan, sebab di balik kata “Amin” bisa saja tersembunyi senjata yang siap ditembakkan.

Rahman Arge
Puisi: Khotbah Mafioso
Karya: Rahman Arge

Biodata Rahman Arge:
  • Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir pada tanggal 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan.
  • Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
  • Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.
© Sepenuhnya. All rights reserved.