Puisi: Kidung Damai (Karya Motinggo Boesje)

Puisi “Kidung Damai” karya Motinggo Boesje menghadirkan visi tentang bumi damai, tempat bayi bermain tanpa takut, dan hewan-hewan buas tak lagi ...
Kidung Damai

Kidung ini kidung pohon, dahan, dan buah
Kidung ini kidung damai
Kidung ini kidung anak domba dan serigala
yang makan rumput bersama
di padang hijau
padang damai

Kidung ini kidung bocah angonan
Kidung ini kidung macan dan lembu
yang beriring
bersama anak kambing
dan anak harimau
di padang hijau
padang damai

Kidung ini kidung bayi
Kidung untuk pengusir takut:
agar si bayi tak diterkam maut
saat bermain di sela belukar
di dekat lubang ular
di padang damai

Kidung ini kidung damai
Damai di rumah, di pasar, dan di ladang
Damai di kantor, di pabrik
Kidung pengusir orang fasik

Kidung ini kidung pohon perkasa
Kidung pembasuh dosa
di tepi sungai
di bumi damai.

Sumber: Aura Para Aulia (1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Kidung Damai” karya Motinggo Boesje adalah sajak yang sarat nuansa spiritual dan humanistik. Dengan repetisi frasa “Kidung ini…”, penyair membangun irama seperti nyanyian doa yang terus mengalun. Puisi ini menghadirkan gambaran dunia ideal: alam, manusia, dan makhluk buas hidup berdampingan tanpa permusuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perdamaian universal. Penyair mengangkat gagasan tentang harmoni yang melintasi batas—antara manusia dan alam, antara yang lemah dan yang kuat, bahkan antara pemangsa dan mangsa.

Selain itu, puisi ini juga memuat tema spiritualitas dan pengharapan akan dunia yang bersih dari kekerasan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah “kidung” atau nyanyian yang memuliakan damai. Kidung tersebut mencakup pohon, dahan, buah, bocah angonan, bayi, hingga hewan-hewan yang secara alami bermusuhan—anak domba dan serigala, macan dan lembu—yang kini hidup berdampingan dan makan rumput bersama di padang hijau.

Penyair juga menggambarkan damai hadir di berbagai ruang kehidupan: rumah, pasar, ladang, kantor, hingga pabrik. Bahkan kidung ini disebut sebagai “pengusir orang fasik” dan “pembasuh dosa”.

Dengan demikian, puisi ini melukiskan dunia ideal yang harmonis dan tenteram, seolah menjadi doa bagi umat manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah harapan akan transformasi moral dan sosial. Ketika serigala dan anak domba makan bersama, itu bukan sekadar gambaran alam, melainkan simbol rekonsiliasi dan berakhirnya permusuhan.

Padang hijau dan padang damai menjadi metafora dunia yang seimbang, tempat rasa takut terusir dan kehidupan berjalan tanpa ancaman. Kidung ini bukan hanya nyanyian literal, tetapi simbol doa kolektif manusia agar kekerasan, kebencian, dan kefasikan sirna.

Puisi ini juga dapat dibaca sebagai kritik tersirat terhadap realitas yang penuh konflik—karena dunia yang digambarkan justru sangat kontras dengan kenyataan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa tenang, penuh harapan, dan religius. Repetisi “Kidung ini…” menciptakan nuansa liturgis atau seperti pembacaan doa bersama. Atmosfernya damai dan optimistis, meski di baliknya tersimpan kesadaran akan ancaman (maut, serigala, macan).

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini jelas: manusia hendaknya merawat dan memperjuangkan perdamaian dalam seluruh aspek kehidupan. Damai bukan hanya milik satu ruang, tetapi harus hadir di rumah, pasar, kantor, pabrik, hingga ladang.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk percaya bahwa harmoni adalah mungkin—asal manusia mau membersihkan diri dari kebencian dan kefasikan.

Puisi “Kidung Damai” karya Motinggo Boesje adalah puisi doa yang membayangkan dunia tanpa permusuhan. Dengan irama repetitif dan citraan alam yang kuat, penyair menghadirkan visi tentang bumi damai, tempat bayi bermain tanpa takut, dan hewan-hewan buas tak lagi saling memangsa.

Puisi ini bukan sekadar nyanyian, melainkan seruan moral agar manusia menciptakan perdamaian nyata dalam kehidupan sehari-hari—sehingga bumi benar-benar menjadi “bumi damai.”

Motinggo Boesje
Puisi: Kidung Damai
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
© Sepenuhnya. All rights reserved.