Kita Tak Pernah Berhenti Pergi
Selangkah, dua langkah, tiga, lalu tujuh
Aku menoleh ke bubungan rumahku
Ada angin, mengusap
Hatiku susut
Akankah aku harus berangkat meninggalkan
selimut kasihmu, ibu
Engkau berkata, lelaki harganya dalam pergi
Bila patah, patahlah!
Di perih garamnya samudera
Matahari tak kan pernah lengah
mengusir burung-burung nazar
mendekat pada nyawamu yang meregang
Karena engkau lelaki yang mati dalam pergi
Bila mati!
Tapi kita tak pernah berhenti pergi
Karena kita
Tak dipersiapkan untuk mati
Kita hidup!
Maka satukan
hidup pada mati dan mati pada hidup
Satukan nafas bumi
dengan panasnya darah
dengan dinginnya kesabaran
dan masa bodohnya keberanian
Bacakan:
"Baginda Ali di depanku!
Abubakar di kananku!
Sayidina Umar di kiriku!
Usman di belakangku!
Langit-bumi, dunia luar dunia dalam
Menghentak arasy
Barakka Lailahaa Illallah!
Barakka Kunfayakuun!
Haaaahhhhhh!!!"
Bubungan rumah menjauh
Di cakrawala aku menangkap lintasan wajahku
Yang remuk bentuk
Karena telah aku iyakan
mencarinya dalam pergi
Tak berhenti…
Makassar, 10 Juni 2000
Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Catatan:
Orang Bugis membaca mantra.
Analisis Puisi:
Puisi "Kita Tak Pernah Berhenti Pergi" karya Rahman Arge adalah karya sastra yang penuh dengan makna mendalam tentang perjalanan hidup, perpisahan, dan kematian. Puisi ini merangkai kata-kata dengan indah untuk menggambarkan kerentanan manusia dalam menghadapi perubahan dan kepergian.
Tema Sentral: Puisi ini mengangkat tema perjalanan hidup dan kematian. Pengarang menggunakan metafora perjalanan dan kepergian sebagai cara untuk merenungkan kehidupan manusia yang penuh perubahan, perpisahan, dan kematian.
Kerentanan Manusia: Dalam puisi ini, pengarang menggambarkan kerentanan manusia terhadap perubahan dan kepergian dengan indah. Baris-baris seperti "Aku menoleh ke bubungan rumahku / Ada angin, mengusap / Hatiku susut" menciptakan gambaran perasaan cemas dan perubahan yang tidak terelakkan dalam hidup.
Pergi dan Kehidupan: Puisi ini mengungkapkan pemahaman bahwa kepergian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Kata-kata seperti "Tapi kita tak pernah berhenti pergi / Karena kita / Tak dipersiapkan untuk mati / Kita hidup!" menyoroti bagaimana perjalanan hidup terus berlanjut dan kepergian adalah bagian yang melekat dalam pengalaman manusia.
Cinta dan Pemisahan: Pengarang juga mengekspresikan perasaan cinta dan kehilangan melalui kata-kata seperti "Akankah aku harus berangkat meninggalkan / selimut kasihmu, ibu." Ini menggambarkan perasaan cinta terhadap orang yang tersisa di belakang saat seseorang memulai perjalanan atau perpisahan.
Pemberontakan dan Kecerdasan Spiritual: Pengarang juga menyelipkan elemen spiritual dengan memanggil nama-nama tokoh suci Islam seperti Ali, Abubakar, Umar, dan Usman. Ini memberikan nuansa pemberontakan dan keteguhan spiritual dalam menghadapi perubahan dan perjalanan hidup.
Puisi "Kita Tak Pernah Berhenti Pergi" karya Rahman Arge adalah sebuah karya sastra yang memadukan bahasa indah dan simbolisme mendalam untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terus berlanjut, perubahan yang tak terhindarkan, dan kerentanannya dalam menghadapi kepergian dan kematian. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti sejati dari hidup dan bagaimana kita dapat memahami makna kepergian dengan lebih mendalam.
Puisi: Kita Tak Pernah Berhenti Pergi
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir pada tanggal 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.