Puisi: Kitab Maryam (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi "Kitab Maryam" karya Asep S. Sambodja menegaskan bahwa jalan kebenaran hampir selalu sepi, tetapi justru di sanalah nilai kemanusiaan dan ...
Kitab Maryam

di sebuah sendang,
maryam menanggalkan pakaian
udara gerah
meski air tenang
di bawah pohon rindang

tanpa suara
datang lelaki itu,
tampan dan rupawan
tapi menggelisahkan

"tenang maryam!
aku utusan allah
datang kemari untuk memberimu
seorang anak laki-laki."

maryam, 13 tahun, gemetar
"kalau kau seorang mukmin
yang bertakwa, enyahlah!
jangan kau ganggu aku!"

"aku utusan allah
percayalah, aku kemari
untuk memberimu seorang anak,
laki-laki."

"bagaimana mungkin?
itu mustahil
aku belum pernah tersentuh
tubuh laki-laki
aku bukanlah perempuan jalang
aku bukan perempuan nakal."

"ya, demikianlah
tuhan berfirman, ‘demikian itu mudah bagiku!"
kata pemuda itu,
yang tak lain adalah jibril

dan maryam pun pasrah
seperti daun diterbangkan angin
seperti bumi yang merengkuh cahaya
matahari

yusuf, kerabat dekat maryam,
yang selalu bersama
dalam suka dan duka
dan saling percaya,
akhirnya curiga
"maryam, apakah kamu…?"

"ya, aku hamil."

"maryam!
sungguh memalukan
dan memilukan
ayahmu, imran, adalah orang saleh
keluargamu orang baik-baik
dan kau, sepengetahuanku, gadis suci."

"saudaraku, tidakkah engkau tahu
allah menciptakan adam
dan istrinya
tanpa bibit laki-laki
dan bibit perempuan?"

ditemani yusuf, maryam pun menyepi
ia melahirkan bayi laki-laki
dan allah memberinya kemudahan
buah kurma untuk dimakan
dan air bening sungai untuk diminum

sejak itu, maryam puasa bicara
orang-orang heboh
bahkan ada yang hendak melempar batu
"hei, maryam!
ayahmu bukanlah berandal
dan ibumu bukan pelacur
tapi, engkau seperti itu?
engkau menggendong anak
sementara kau masih gadis
siapa ayah si anak?
dengan siapa kau berbuat?
najis!"

maryam menunjuk bayinya
ia enggan bicara
apalagi pada mereka yang telah
ditutup hatinya

ia, bayi itu, bicara
—meski usianya baru 40 hari—
"sungguh
aku adalah hamba allah
aku diberi kitab oleh allah
dan aku dijadikan nabi
aku selalu diberkahi
di mana pun aku berada
dan allah berpesan padaku
agar shalat dan berzakat
semasa hidup
dan harus berbakti pada ibu
allah tidak menjadikanku
sebagai orang yang kejam
dan durhaka
keselamatan tetap melekat padaku
saat aku dilahirkan
saat aku mati
saat aku dibangunkan dari mati."

mereka terbengong-bengong
mendengar bayi bicara
dan sarat makna

sementara hirdaus, penguasa negeri syam
tak senang, tak tenang
mendengar kehadiran isa
ia ingin membunuhnya

yusuf yang baik
tak tega membiarkan isa terbunuh
ia membawa Maryam
dan anaknya ke mesir
hidup menyepi lagi
dari sepi ke sepi

setelah 30 tahun berlalu
isa tampil di depan publik
sampaikan firman-firman allah
sampaikan perintah allah
ia bisa berjalan di atas air
bisa menyembuhkan orang sakit parah
—meski tak sekolah kedokteran
dan ia sangat dicintai umatnya

tapi orang-orang yahudi membencinya
mereka ingin membunuh isa
karena isa
menyampaikan kebenaran

hari itu allah mengangkatnya ke langit
untuk diturunkan kembali
menjelang hari akhir
menjelang kiamat nanti

Sumber: Ballada Para Nabi (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Kitab Maryam" merupakan sajak naratif panjang yang mengolah kembali kisah Maryam dan Isa dalam tradisi keimanan Islam dengan bahasa puitik yang manusiawi dan dramatik. Penyair tidak sekadar menuturkan ulang kisah suci, melainkan menekankan sisi batin, konflik sosial, dan ketegangan kemanusiaan yang mengiringi peristiwa kenabian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keimanan, kepasrahan, dan ujian kesucian. Di dalamnya juga terkandung tema ketidakadilan sosial, prasangka masyarakat, kekuasaan yang takut pada kebenaran, serta kemenangan wahyu atas fitnah dan kekerasan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan hidup Maryam sejak menerima kabar kelahiran Isa hingga masa kenabian Isa di usia dewasa. Kisah dimulai dari perjumpaan Maryam dengan Jibril, kehamilan yang mengundang kecurigaan, tekanan sosial, kelahiran Isa, mukjizat bayi yang berbicara, hingga ancaman penguasa dan penolakan masyarakat terhadap ajaran kebenaran yang dibawa Isa.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah keimanan sering menuntut keberanian untuk menanggung kesendirian dan fitnah. Maryam digambarkan sebagai sosok yang memilih pasrah kepada kehendak Tuhan, meski harus menghadapi cercaan dan kekerasan simbolik. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kebenaran tidak selalu diterima dengan lapang, bahkan sering dianggap ancaman oleh kekuasaan dan mayoritas.

Suasana dalam puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini bersifat dramatis, haru, dan tegang, dengan peralihan antara kesunyian spiritual, kepanikan sosial, dan ketakutan politis. Ada juga nuansa khusyuk dan sakral ketika mukjizat dan firman Tuhan dihadirkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya menjaga keimanan, kesucian niat, dan kejujuran meski harus menghadapi tekanan sosial. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa kebenaran ilahi tidak dapat dipadamkan oleh fitnah, kekerasan, maupun kekuasaan, sebab ia akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Puisi "Kitab Maryam" karya Asep S. Sambodja adalah sajak religius yang kuat secara naratif dan emosional. Ia menghidupkan kembali kisah suci bukan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai pengalaman manusia yang penuh luka, ketakutan, dan iman. Dengan bahasa yang jujur dan berani, puisi ini menegaskan bahwa jalan kebenaran hampir selalu sepi, tetapi justru di sanalah nilai kemanusiaan dan ketuhanan diuji dan dimuliakan.

Asep S. Sambodja
Puisi: Kitab Maryam
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.