Analisis Puisi:
Puisi “Kota Bumi Gas” karya Mahdi Idris menampilkan refleksi kritis terhadap kondisi kota yang tampak modern namun sarat masalah sosial. Dengan gaya bahasa yang padat dan imajinatif, puisi ini menyuarakan realitas kehidupan warga kota yang tertindas oleh ketimpangan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam.
Tema
Tema puisi ini adalah kritik sosial dan kondisi kota modern yang penuh kontradiksi. Mahdi Idris menyoroti bagaimana pembangunan dan eksploitasi alam—khususnya gas—tidak selalu berpihak pada masyarakat yang tinggal di kota tersebut.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari di kota yang tampak “jatuh bangun dalam mimpi”. Jalan-jalan penuh lubang, debu yang beterbangan, serta anak sungai yang lahir dari pori-pori musim menggambarkan kesulitan dan ketidakpastian hidup warga kota. Sementara harga gas tinggi menjadi simbol ketidakadilan ekonomi yang jauh dari kehidupan mereka.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menekankan ketimpangan sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari pembangunan kota dan eksploitasi sumber daya alam. Warga kota tetap berjuang untuk bertahan meski kondisi fisik kota rusak dan sumber daya tidak berpihak pada mereka. Ada kritik halus terhadap pemerintah atau pihak yang mengatur sumber daya, yang menikmati keuntungan sementara rakyat tetap kesulitan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa suram, penuh ketidakpastian, dan sedikit frustrasi. Pembaca diajak merasakan realitas kota yang “jatuh bangun”, di mana siang dan malam menjadi bayangan suram dan kehidupan warga seperti “sungai tanpa muara”—berjalan namun tak menemukan tujuan atau keadilan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan simbolik:
- “Lubang tanpa penggali” dan “debu-debu bersayap memasuki sarang awan” menimbulkan citra kota yang rusak namun tetap hidup.
- “Anak sungai lahir dari pori-pori musim” memberi gambaran kehidupan yang muncul dari kesulitan dan ketidakpastian.
- “Gas perbarel harga tinggi” menjadi simbol ekonomi yang tidak merata dan menjauh dari kesejahteraan rakyat.
Majas
Beberapa majas yang digunakan antara lain:
- Personifikasi, misalnya “anak sungai lahir dari pori-pori musim”, memberi kehidupan pada alam sebagai saksi kondisi manusia.
- Metafora, seperti “sungai tanpa muara” yang menggambarkan kehidupan warga yang terjebak dan tak menemukan tujuan.
Puisi “Kota Bumi Gas” adalah puisi kritis yang memotret ketimpangan sosial dan kondisi kota yang ambivalen. Mahdi Idris berhasil menampilkan realitas urban yang keras dengan bahasa simbolik yang kuat, mengajak pembaca menyadari dinamika pembangunan dan dampaknya pada masyarakat.