Puisi: Kroncong Tenggara (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Kroncong Tenggara” karya Nirwan Dewanto bercerita tentang seseorang yang bernyanyi—secara harfiah dan simbolik—di hadapan alam dan ...

Kroncong Tenggara

Dawaiku bergetar di atas danau
swaraku tergelar sampai ke pulau,
syairku terang bersemu hijau,
lidahku sebidang kulit limau.

Kepak sayap sepanjang hari,
kepak senyap bagi matahari.
Di depanku jangan kau sembunyi,
sebab telingamu kuisi nyanyi.

Jagalah semua buluh perindu,
sebab telah kujaga tanah airmu.
Berilah aku gema paling biru,
sebab aku nyala sepanjang lagu.

Swaraku melayang di atas segara,
jiwa manis bertandang ke tenggara,
habis manis, tebu kian kencana,
manis gerimis, lagu kian sempurna.

2006

Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Kroncong Tenggara” karya Nirwan Dewanto memancarkan kekuatan bunyi, irama, dan citraan yang lekat dengan musik serta lanskap maritim Nusantara. Sejak baris awal, puisi ini menegaskan diri sebagai nyanyian—suara yang bergetar, melayang, dan menyebar melintasi danau, pulau, hingga segara. Kroncong dalam judul bukan sekadar genre musik, melainkan metafora kebudayaan: sebuah nyanyi panjang tentang identitas, tanah air, dan perjumpaan rasa di wilayah tenggara.

Tema

Tema utama puisi ini adalah nyanyian kebudayaan dan identitas yang berakar pada alam serta wilayah maritim Nusantara. Puisi ini juga mengangkat tema kesetiaan pada tanah air, perayaan bunyi, dan keberlanjutan tradisi melalui metafora musik dan suara.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bernyanyi—secara harfiah dan simbolik—di hadapan alam dan pendengarnya. Suara, syair, dan nyanyiannya menjelajah danau, pulau, dan laut; mengisi telinga, menjaga tanah air, dan merayakan kehadiran jiwa-jiwa manis di wilayah tenggara. Penyair tampil sebagai penyanyi, penjaga, sekaligus perantara gema kebudayaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa nyanyian (seni, bahasa, dan tradisi) adalah cara menjaga dan menghidupkan identitas kolektif. Janji “telah kujaga tanah airmu” menempatkan seni sebagai tindakan etis—sebuah tanggung jawab. Gema “paling biru” dan nyala “sepanjang lagu” menyiratkan harapan akan resonansi yang terus hidup, lintas ruang dan waktu.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa meriah, hangat, dan afirmatif, dengan energi musikal yang konsisten. Ada rasa percaya diri yang tenang, perayaan yang tidak meledak-ledak, tetapi berdenyut stabil seperti irama kroncong.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan pesan bahwa seni dan budaya adalah medium penjagaan memori, identitas, dan kebersamaan. Dengan merawat “buluh perindu” dan menjaga tanah air lewat nyanyi, manusia diajak setia pada akar kulturalnya sambil membuka diri pada gema yang lebih luas.

Puisi “Kroncong Tenggara” karya Nirwan Dewanto adalah nyanyian tentang suara yang menjaga—menjaga tanah air, memori, dan keindahan yang tumbuh dari laut dan pulau. Dengan bahasa yang musikal dan citraan yang kaya, puisi ini merayakan seni sebagai gema yang melintas batas, manis namun bertanggung jawab, dan terus menyala sepanjang lagu.

Nirwan Dewanto
Puisi: Kroncong Tenggara
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.