Kuundang Gerimis
Di tengah padangmu yang luas
Kabut menipis, dan burung-burung pun mericis
Dalam sarang
Kuundang malam
Lengang rebahkan diriku sesudah tualang
Katamu: Laki-laki harus menanam jelatang
Dalam juang
Kuundang angin
Di malam dan di siang
Dinginnya, gigilnya, bibirku biru lekang
Elang juga yang berkulin
Kuundang panas yang garang
Kemarau, katamu: Harus bermula dari dalam
Tapi, aku selalu saja merajut kenang
Di siang dan di malam
Sumber: Horison (Mei, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi "Kuundang Gerimis" menghadirkan pergulatan batin seseorang yang berhadapan dengan alam, ingatan, dan tuntutan hidup. Dengan diksi yang ringkas namun simbolik, Rusli Marzuki Saria menata puisi ini sebagai ruang perenungan tentang keteguhan, penderitaan, dan kenangan yang terus berulang, meskipun hidup menuntut kekerasan dan daya tahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan batin dan ketahanan diri dalam menghadapi kehidupan. Di dalamnya juga tersirat tema kedewasaan, keteguhan laki-laki, serta konflik antara kenangan personal dengan tuntutan untuk kuat dan tahan uji.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengembara (“sesudah tualang”) dan berhadapan dengan berbagai unsur alam: malam, angin, panas, kemarau. Unsur-unsur tersebut dihadirkan sebagai sesuatu yang “diundang”, seolah-olah penyair dengan sadar memasuki situasi sulit demi memahami dirinya sendiri. Di sela pengalaman itu, muncul suara “katamu” yang memberi petuah tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki bersikap dalam hidup dan perjuangan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan proses pendewasaan dan pembentukan jati diri melalui penderitaan. “Menanam jelatang” dan menghadapi “panas yang garang” dapat dimaknai sebagai kesediaan menerima luka, kerasnya hidup, dan konflik batin sebagai bagian dari perjuangan. Sementara itu, kemunculan kenangan yang terus dirajut menunjukkan bahwa masa lalu dan perasaan personal tidak pernah benar-benar hilang, meskipun seseorang berusaha tampil kuat.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana dalam puisi yang hening, dingin, dan kontemplatif. Kabut yang menipis, malam yang lengang, gigil, serta bibir yang membiru menciptakan suasana kesepian dan kelelahan batin. Namun di balik itu, ada juga nuansa tekad dan ketabahan yang perlahan tumbuh.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kekuatan sejati tidak hanya dibentuk oleh ketegaran lahiriah, tetapi juga oleh kemampuan menghadapi ingatan, rasa sakit, dan konflik batin. Puisi ini menyiratkan bahwa perjuangan hidup memang keras, tetapi manusia tetap manusiawi—ia boleh mengingat, merasakan dingin, dan merajut kenangan, meskipun dituntut untuk kuat.
Puisi "Kuundang Gerimis" adalah puisi reflektif yang menempatkan alam sebagai cermin batin manusia. Rusli Marzuki Saria menghadirkan pergulatan antara tuntutan untuk kuat dan dorongan untuk tetap mengingat, menjadikan puisi ini sebagai potret sunyi tentang proses menjadi dewasa di tengah kerasnya hidup.
Puisi: Kuundang Gerimis
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.