Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Lalu Segenap Suara (Karya Yudhistira A.N.M. Massardi)

Puisi “Lalu Segenap Suara” karya Yudhistira A.N.M. Massardi bercerita tentang kehidupan petani yang memulai hari di sawah dengan harapan sederhana, ..
Lalu Segenap Suara*

Dengan cahaya matahari keindahan diawali
Lalu segenap suara: kercik air, kokok ayam, cicit burung-burung
Dengan hanya cangkul di tangan, kehidupan ini diawali
Petani mengolah segenap harapannya yang tersisa

Jika sawah tak mungkin berkembang
Jika cangkul, parang, tak mungkin diayunkan
Apakah petani harus berkubur di lumpur?
Haruskah mereka menyerah begitu saja?

Jika orang-orang lain bisa bersenang
Jika kota tetap dijadikan lambang
Mungkinkah petani bisa bertahan
Dari rasa sakit dan ketakutan: jurang yang dalam...?

Sumber: Rudi Jalak Gugat (1982)
Catatan:
Dinyanyikan Franky Sahilatua.

Analisis Puisi:

Puisi “Lalu Segenap Suara” karya Yudhistira A.N.M. Massardi menampilkan potret kehidupan petani yang sederhana namun sarat kecemasan sosial. Di tengah keindahan pagi desa, tersimpan kegelisahan tentang masa depan pertanian dan nasib petani yang terdesak modernisasi. Puisi ini bergerak dari harmoni alam menuju pertanyaan kritis tentang ketidakadilan struktural antara desa dan kota.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan ketidakpastian hidup petani di tengah perubahan sosial dan dominasi kota. Puisi menyoroti ketimpangan antara kehidupan agraris dan kehidupan modern.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan petani yang memulai hari di sawah dengan harapan sederhana, tetapi menghadapi ancaman hilangnya lahan, alat kerja, dan keberlangsungan hidup. Penyair mengajukan pertanyaan retoris: jika sawah tak berkembang dan pekerjaan tak mungkin dilakukan, apakah petani harus menyerah atau tenggelam dalam kemiskinan, sementara kota tetap bersenang?

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dalam puisi:

Pertanian yang terpinggirkan – sawah tak berkembang melambangkan sektor agraris yang diabaikan.
  • Ketimpangan desa–kota – kota menjadi lambang kemajuan, sementara petani tertinggal.
  • Harapan yang menipis – petani hanya memiliki “sisa harapan” yang diolah seperti tanah.
  • Ancaman eksistensi petani – pertanyaan tentang “berkubur di lumpur” menyiratkan hilangnya profesi dan identitas petani.
  • Ketidakadilan sosial – sebagian orang bersenang, sementara petani hidup dalam sakit dan takut.
Puisi menyiratkan kritik sosial terhadap pembangunan yang tidak berpihak pada petani.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi bergerak dari tenang dan alami (pagi desa dengan suara alam) menuju cemas dan getir (pertanyaan tentang masa depan petani). Perubahan ini menegaskan kontras antara keindahan alam dan realitas sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa kehidupan petani sebagai fondasi pangan dan budaya tidak boleh diabaikan oleh pembangunan yang berpusat pada kota. Puisi mengajak pembaca menyadari ketidakadilan sosial dan pentingnya menjaga keberlangsungan pertanian serta martabat petani. Petani tidak seharusnya menyerah atau hilang dalam sistem yang timpang.

Puisi “Lalu Segenap Suara” adalah puisi kritik sosial yang berangkat dari lanskap desa menuju persoalan struktural pertanian. Yudhistira A.N.M. Massardi menampilkan petani sebagai sosok yang mengolah harapan di tengah ancaman hilangnya lahan dan ketimpangan dengan kota. Melalui suara alam yang indah dan pertanyaan yang getir, puisi ini mengingatkan bahwa jika petani runtuh, maka fondasi kehidupan bersama ikut terancam.

Yudhistira ANM Massardi
Puisi: Lalu Segenap Suara
Karya: Yudhistira A.N.M. Massardi

Biodata Yudhistira A.N.M. Massardi
  • Yudhistira A.N.M. Massardi (nama lengkap Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi) lahir pada tanggal 28 Februari 1954 di Karanganyar, Subang, Jawa Barat.
  • Yudhistira A.N.M. Massardi dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980-1990-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.