Puisi: Landskap Sabang (Karya Doel CP Allisah)

Puisi “Landskap Sabang” karya Doel CP Allisah bercerita tentang kedatangan seseorang ke Sabang pada senja hari. Ia menyaksikan laut yang meredam ...
Landskap Sabang

Senja hari, begitu aku tiba
laut meredam cahaya merah langit
akupun tepekur menyonsong malam
mendamaikan keruh pikiran dengan sunyi sabang hari ini

Ah, betapa gairah aku kenang
gadis-gadis menenteng dagangan
dari dulu, kemana bersembunyi?
blue jeans dan entah apa lagi
pasaran luar negeri

Pagi hari, ya pagi hari
lewat jendela tinggi hotel sabang hill
seharian aku berlayar dengan pikiranku
aneuk laot-batee itam
kelokan naik turun jalan kota
wangi cengkeh dalam lembabnya angin laut
aku berlayar
pulau rondo-rubiah, entah apalagi
dengan pikiranku
menggapai-gapai keriuhan
orang-orang di pelabuhan
barang-barang di pelabuhan
kapal-kapal di pelabuhan
atau cerita jengek, inang-inang kegelian menyelip bawaan di selangkangan
dimana bersembunyi kesibukan panjang gerombolan orang-orang datang?
(di-pulo-geu-peu-weh)
dalam pikiranku, aku semakin paham
jalan-jalan kembali sunyi
dan sebelum senja kembali datang
aku kemaskan catatan-catatan
lalu mempersiapkan perpisahan
di pelabuhan teluk itu
kami sama sepi kini.

Desember, 1986
Catatan:
  • Aneuk laot-batee itam: Nama-nama tempat
  • Jengek: Jenggo ekonomi, istilah bagi para penyelundup di masa jaya Freeport Sabang, kebanyakan perempuan pendatang dari luar Aceh.
  • Pulo-geu-peu-weh: Pulau yang diasingkan, dalam sejarah penjajah Belanda, pernah dijadikan pulau untuk mengasingkan para tahanan.

Analisis Puisi:

Puisi “Landskap Sabang” karya Doel CP Allisah menghadirkan potret Sabang pada Desember 1986 sebagai ruang geografis sekaligus ruang kenangan. Penyair tidak hanya melukiskan panorama alam, tetapi juga denyut ekonomi, sejarah, dan perubahan sosial yang membentuk wajah kota pelabuhan itu. Sabang tampil sebagai lanskap yang memuat gairah masa lalu dan kesunyian masa kini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan sosial dan memudarnya gairah ekonomi serta kehidupan di Sabang. Puisi memadukan nostalgia, sejarah, dan refleksi personal dalam satu bentang lanskap pesisir.

Puisi ini bercerita tentang kedatangan seseorang ke Sabang pada senja hari. Ia menyaksikan laut yang meredam cahaya merah langit dan mencoba mendamaikan pikirannya dalam kesunyian kota. Kenangan pun muncul tentang masa lalu yang lebih ramai—gadis-gadis penjual barang pasaran luar negeri, aktivitas pelabuhan, serta kisah para jengek (penyelundup ekonomi di masa kejayaan perdagangan Sabang).

Melalui jendela Hotel Sabang Hill, penyair berlayar dengan pikirannya menyusuri tempat-tempat seperti Aneuk Laot dan Batee Itam, juga pulau-pulau seperti Rondo dan Rubiah. Ia mengenang keriuhan pelabuhan dan kesibukan panjang orang-orang datang dan pergi. Namun pada akhirnya, kota kembali sunyi, dan perpisahan terasa sama sepinya dengan pelabuhan itu sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada refleksi tentang kefanaan kejayaan. Sabang pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan, tetapi waktu dan sejarah mengubah segalanya. Penyebutan Pulo-geu-peu-weh (pulau pengasingan di masa kolonial Belanda) menyiratkan lapisan sejarah yang getir: Sabang bukan hanya tempat perdagangan, tetapi juga tempat pembuangan dan keterasingan.

Kesunyian yang berulang dalam puisi menegaskan bahwa setiap gairah—baik ekonomi maupun sosial—pada akhirnya akan surut, menyisakan kenangan dan catatan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa nostalgis, melankolis, dan reflektif. Ada perpaduan antara kenangan yang penuh gairah dan kenyataan kini yang sunyi. Senja dan pagi hari menjadi bingkai waktu yang memperkuat kesan perenungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa perubahan adalah keniscayaan sejarah. Kejayaan, kesibukan, dan gairah ekonomi dapat memudar, tetapi jejaknya tetap hidup dalam ingatan dan catatan. Manusia diajak untuk memahami dan menerima dinamika waktu tanpa melupakan sejarah yang membentuk suatu tempat.

Puisi “Landskap Sabang” karya Doel CP Allisah adalah catatan puitik tentang sebuah kota pelabuhan yang pernah bergairah lalu sunyi. Melalui perpaduan lanskap alam, sejarah, dan memori personal, puisi ini menghadirkan Sabang bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai ruang waktu yang menyimpan gema kejayaan dan kesepian dalam satu tarikan napas panjang.

Doel CP Allisah
Puisi: Landskap Sabang
Karya: Doel CP Allisah
© Sepenuhnya. All rights reserved.