Puisi: Langgar Purwodiningratan (Karya Arifin C. Noer)

Puisi "Langgar Purwodiningratan" karya Arifin C. Noer bercerita tentang seseorang yang memasuki sebuah langgar tua di kawasan Purwodiningratan.
Langgar Purwodiningratan

Udara sangat lembab basah pada dinding-dindingnya
duh, bagai gua yang sunyi di tengah hutan
Kemana gerangan perginya? Wahai, hatiku sendiri
merasa asing di rumah sendiri

Tiang-tiang yang rapuh sawang di sudut kelabu
duh, bagai lelaki tua yang lesu
Tasbih kehilangan talinya!
Kesibukan apa gerangan yang memadati waktunya?
Wahai, dalam sukmaku sendiri ibu bercerita
bahwa jemaah belakangan ini sibuk berbelanja
dan repot menjahitkan baju-bajunya

Tabuh yang berlubang rayap-rayap menggigitinya
duh, bagai tubuh perajurit dengan berjuta luka
Dimana pemukulnya? Wahai, anak-anak yang manis itu
berkejar-kejaran memperebutkan kayu itu
Ya, Allah, ampunilah mereka
Kalau wajahnya kotor sebab tangan ibu-bapaknyalah yang kotor

Tikar yang rusak dan koyak-koyak parah
duh, bagai hidupku dan diriku sendiri yang berlumur dosa
Darimana aku? Allah, semalam ini aku mencari rumah
tetapi pintu-pintu di seluruh Mataram telah rapat tertutup
sedangkan angin kemarau menyusahkan nafasku
Maka izinkanlah tubuh yang lusuh ini
terjatuh di sini dan bersimpuh di hadapan-Mu

Cuaca yang ungu
Langit-langit yang hampir luluh
Duh, bagai kota yang telah lama ditinggalkan
akibat suatu peperangan
Kemana mereka? Sekali lagi ibuku menegur:
Fien, mereka sedang tidur
Aku pun bertanya: Adakah selamanya mereka tidur?
Ibu pun pergi mengabur sementara
kudengar gemerisik
jubah-Mu ......

Sumber: Horison (Desember, 1966)

Analisis Puisi:

Puisi "Langgar Purwodiningratan" karya Arifin C. Noer merupakan potret lirih tentang ruang ibadah yang kehilangan denyut kehidupannya. Melalui gambaran fisik langgar yang rapuh, lembab, dan sepi, penyair menghadirkan kegelisahan spiritual sekaligus kritik sosial yang tajam. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang bangunan, tetapi juga tentang manusia, iman, dan keterasingan di tengah rutinitas duniawi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan spiritual dan kemerosotan nilai religius dalam kehidupan masyarakat. Di balik itu, terselip pula tema kritik sosial tentang manusia yang semakin jauh dari ruang ibadah dan makna penghambaan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memasuki sebuah langgar tua di kawasan Purwodiningratan. Ia menyaksikan kondisi langgar yang rusak, sepi, dan nyaris ditinggalkan jamaahnya. Dalam keheningan itu, penyair berdialog dengan dirinya sendiri, dengan ingatan tentang ibunya, dan akhirnya dengan Tuhan. Pencarian akan “rumah” bermuara pada keinginan untuk bersimpuh dan kembali kepada Sang Pencipta.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kerusakan bangunan langgar sejatinya mencerminkan kerusakan batin manusia. Kesibukan berbelanja, menjahit baju, dan urusan duniawi menjadi simbol kelalaian manusia terhadap ibadah. Pertanyaan “adakah selamanya mereka tidur?” menyiratkan kegelisahan penyair terhadap umat yang seolah terlelap secara rohani.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, sunyi, dan penuh kegetiran. Kelembaban, rayap, tikar koyak, serta angin kemarau membangun nuansa kesepian dan kelelahan batin. Namun, di balik suasana itu, terdapat nada pasrah dan harap ketika penyair memohon izin untuk bersimpuh di hadapan Tuhan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi adalah ajakan untuk kembali menyadari hakikat ibadah dan membersihkan batin. Puisi ini mengingatkan bahwa kelalaian spiritual bukan semata kesalahan individu, melainkan juga hasil dari lingkungan sosial dan kebiasaan kolektif yang menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.

Puisi "Langgar Purwodiningratan" adalah puisi reflektif yang kuat, menggabungkan kritik sosial, pencarian spiritual, dan kesadaran akan dosa manusia. Arifin C. Noer menghadirkan langgar bukan sekadar tempat ibadah, melainkan cermin batin masyarakat yang perlahan kehilangan cahaya iman.

Puisi Arifin C. Noer
Puisi: Langgar Purwodiningratan
Karya: Arifin C. Noer

Biodata Arifin C. Noer:
  • Arifin C. Noer (nama lengkapnya adalah Arifin Chairin Noer) lahir pada tanggal 10 Maret 1941 di kota Cirebon, Jawa Barat.
  • Arifin C. Noer meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta.
  • Arifin C. Noer adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.