Puisi: Langit. Awan. Angin (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Langit. Awan. Angin” karya Rusli Marzuki Saria bercerita tentang kondisi manusia yang terjebak dalam sejarah dan kekuasaan yang menindas, ...
Langit. Awan. Angin

Ada langit. Awan. Angin
Algojo Nero modern
Kultus orang seorang
Dupa pemujaan

Kemarau gugurkan daun-daun
Pepohonan
Cucu Yudas fitnah
Garangnya sejarah

Sepinya. Kelelawar tergantung
Aku jamah guna nasib-sialmu
Atau seperti Khayam difitnah
Lewat sihir zaman ini

Ada langit. Awan. Angin
Dewa-dewa hutan belantara
Bukit-bukit batu yang diam
Di sini

Sumber: Horison (Oktober, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Langit. Awan. Angin” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan dialog yang kompleks antara alam, sejarah, dan pengalaman manusia. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair menyampaikan kritik sosial, refleksi eksistensial, serta hubungan manusia dengan alam dan masa lalu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah interaksi antara manusia, alam, dan sejarah. Puisi ini menyoroti bagaimana kekuatan sejarah dan kekuasaan memengaruhi kehidupan manusia, sekaligus menampilkan alam sebagai saksi dan tempat refleksi atas ketidakadilan dan penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang kondisi manusia yang terjebak dalam sejarah dan kekuasaan yang menindas, digambarkan melalui simbol “Algojo Nero modern” dan “Cucu Yudas fitnah”. Alam—langit, awan, angin, pepohonan, bukit-bukit batu—menjadi saksi bisu dari kekejaman, fitnah, dan nasib sial manusia. Penyair hadir sebagai pengamat sekaligus bagian dari sejarah dan penderitaan yang digambarkan, mempertanyakan peran dan nasibnya di tengah hiruk-pikuk zaman.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap ketidakadilan dan penindasan yang berlangsung sepanjang sejarah, serta bagaimana manusia sering menjadi korban “sihir zaman” yang tak terlihat. Alam dan elemen alamiah menjadi simbol kesabaran, ketenangan, dan kesaksian atas peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa gelap, sunyi, dan penuh ketegangan. Referensi terhadap “kemarau”, “fitnah”, dan “nasib sial” membangun nuansa getir dan cemas. Di sisi lain, langit, awan, dan angin menghadirkan kesan luas, tenang, dan misterius, seakan alam menyimpan keseimbangan di tengah kekacauan manusia.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah kesadaran akan posisi manusia dalam sejarah dan alam, serta pentingnya refleksi atas keadilan, kebenaran, dan ketahanan eksistensial. Puisi ini mengingatkan pembaca bahwa meski manusia menjadi korban kekuasaan dan fitnah, alam tetap menjadi saksi dan simbol ketahanan serta ketenangan.

Puisi “Langit. Awan. Angin” adalah puisi reflektif yang menyatukan alam, sejarah, dan pengalaman manusia. Rusli Marzuki Saria menampilkan ketegangan antara kekuasaan, fitnah, dan penderitaan dengan indah melalui simbol-simbol alamiah dan historis, sehingga pembaca diajak untuk merenungkan hubungan antara manusia, sejarah, dan alam sebagai saksi kehidupan.

Puisi Rusli Marzuki Saria
Puisi: Langit. Awan. Angin
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.