Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Laut Disenyapkan (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi "Laut Disenyapkan" menciptakan lukisan puitis tentang perjalanan hidup, tantangan, dan realitas sosial di tengah pandemi. Dengan penggunaan ...
Laut Disenyapkan

pasangan betinaku
mari kita berangkat
matahari sudah makin tinggi
di sana sudah menunggu
tubuh laut untuk sambut
calon-calon baptisan surga

nyaris menabrak rambu-rambu
batas samudera teluk jakarta
sepanjang jalan kita hanya melihat
lahan kereta api yang ditumbuhi ilalang
suasana perkantoran yang gelap
dampak pandemi tak kunjung berlari

perahu sudah harus bersandar di dermaga
bendera merah putih berkibar amat lambat
virus juga sudah disuntik vaksin satu kali

ada orang-orang shooting
adegan menguras air samudera di tanah jawa
menikmati santap siang di bandar kesunyian
di dompet celana ada jus jeruk dan melon
suguhan mata uang

Pamulang, 31 Mei 2021

Analisis Puisi:

Puisi "Laut Disenyapkan" karya Pulo Lasman Simanjuntak menciptakan gambaran yang menarik tentang perjalanan hidup, tantangan, dan kondisi sosial. Penyair menggunakan bahasa yang lugas untuk menyampaikan pengamatan tentang kehidupan sehari-hari, pandemi, dan perubahan lingkungan.

Perjalanan Hidup dan Keberangkatan: Puisi dimulai dengan ajakan kepada "pasangan betinaku" untuk berangkat. Perjalanan ini menciptakan gambaran perjalanan hidup, yang diwakili oleh perjalanan fisik melalui laut. Matahari yang tinggi memberikan kesan bahwa saatnya untuk memulai sesuatu yang baru atau menghadapi tantangan.

Tantangan dalam Perjalanan: Gambaran "nyaris menabrak rambu-rambu" menunjukkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu mulus. Rambu-rambu yang hampir tertabrak bisa diartikan sebagai peringatan atau kendala dalam mencapai tujuan. Ilalang yang tumbuh di lahan kereta api menciptakan gambaran tentang kesunyian dan ketidakpastian.

Dampak Pandemi dan Suasana Gelap: Penyair menggambarkan suasana perkantoran yang gelap dan dampak pandemi yang belum berlalu. Ini menciptakan gambaran kekhawatiran dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Suasana perkantoran yang gelap bisa diartikan sebagai gambaran kelesuan dan ketidakpastian di dunia pekerjaan.

Berlabuh di Dermaga: Perahu harus bersandar di dermaga, menciptakan gambaran berlabuhnya perjalanan hidup. Bendera merah putih yang berkibar lambat menciptakan gambaran keterlambatan atau kesulitan dalam mencapai tujuan nasional. Angin pantai yang masuk ke akuarium bisa diartikan sebagai semangat dan energi baru.

Vaksinasi dan Realitas Pandemi: Penyair menyebutkan bahwa "virus juga sudah disuntik vaksin satu kali." Ini menciptakan gambaran tentang upaya mengatasi pandemi dan harapan untuk pemulihan. Namun, penyair tidak memberikan kepastian apakah vaksinasi sudah cukup efektif atau masih memerlukan langkah-langkah lebih lanjut.

Adegan Penguras Air Samudera: Ada gambaran orang-orang sedang "shooting adegan menguras air samudera di Tanah Jawa." Adegan ini bisa diartikan sebagai metafora tentang pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan atau eksploitasi lingkungan. Menikmati santap siang di bandar kesunyian menciptakan gambaran ketenangan dalam keheningan dan kesendirian.

Suguhan Mata Uang: Puisi ditutup dengan gambaran "di dompet celana ada jus jeruk dan melon, suguhan mata uang." Ini menciptakan citra tentang keindahan alam dan kebahagiaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan materi atau kekayaan.

Bahasa yang Lugas: Penyair menggunakan bahasa yang lugas dan deskriptif untuk menyampaikan pengamatannya. Pilihan kata dan gambaran yang digunakan memberikan kejelasan dan mudah dipahami oleh pembaca.

Puisi "Laut Disenyapkan" menciptakan lukisan puitis tentang perjalanan hidup, tantangan, dan realitas sosial di tengah pandemi. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana namun padat makna, penyair berhasil menggambarkan suasana yang kompleks dan memberikan pemikiran mendalam tentang kondisi kehidupan saat ini.

Lasman Simanjuntak
Puisi: Laut Disenyapkan
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir pada tanggal 20 Juni 1961 di Surabaya. Ia pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Ia belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.
      Pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), SKM. Simponi, SKM. Inti Jaya, SKM. Dialog, HU. Bhirawa (Surabaya), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan masih banyak lainnya.
        Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani(2016), Bercumbu Dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), dan Rumah Terbelah Dua (2021).
          Sajaknya juga termuat dalam 15 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.
            Namanya juga telah masuk dalam Buku Pintar Sastra Indonesia Halaman 185-186 diterbitkan oleh Kompas (PT. Kompas Media Nusantara) cetakan ketiga tahun 2001 dengan Editor Pamusuk Eneste, serta Buku Apa & Siapa Penyair Indonesia halaman 451 diterbitkan oleh Yayasan Puisi Indonesia dengan Editor Maman S Mahayana dan Kurator Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K. Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, dan Hasan Aspahani.
              Lasman Simanjuntak saat ini menjabat sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), dan bekerja sebagai wartawan media online.
              © Sepenuhnya. All rights reserved.