Laut
Kumasukkan hati dalam
Liang tubuhmu. Kau serba tahu:
menggenggam nasibku. Aku
menggelepar. Toh aku tambah
lapar. Tambah jahat
menggigit hari. Pahit
menjilat laut
yang makin dekat
pada sekarat.
Sumber: Horison (November, 1977)
Analisis Puisi:
Puisi "Laut" karya Wing Kardjo menghadirkan ungkapan batin yang intens, gelap, dan penuh tekanan. Dengan larik-larik pendek dan diksi yang keras, puisi ini menampilkan relasi antara penyair dan “laut” yang tidak sekadar hadir sebagai bentang alam, melainkan sebagai simbol kekuasaan, hasrat, dan nasib yang menelan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterjebakan eksistensial dan pertarungan batin manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Laut tampil sebagai ruang dominasi yang menentukan arah hidup penyair.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memasukkan hatinya ke dalam “liang tubuh” laut, suatu tindakan yang menandai penyerahan sekaligus perlawanan. Ia sadar bahwa laut “menggenggam nasibnya”, namun tetap menggelepar, semakin lapar, dan semakin jahat dalam menghadapi hari-hari yang pahit.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan gambaran manusia yang terjebak dalam lingkaran hasrat dan penderitaan. Semakin dekat dengan sumber kekuasaan atau kenikmatan (laut), manusia justru semakin kelelahan dan menuju sekarat. Laut yang “makin dekat pada sekarat” dapat dimaknai sebagai cermin kondisi manusia itu sendiri: sama-sama berada di ambang kehancuran.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana dalam puisi yang suram, sesak, dan agresif. Kata-kata seperti “menggelepar”, “lapar”, “jahat”, “pahit”, dan “sekarat” menegaskan atmosfer batin yang penuh tekanan dan keputusasaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai peringatan tentang bahaya menyerahkan diri sepenuhnya pada dorongan gelap—baik hasrat, kekuasaan, maupun ambisi. Ketika manusia tidak lagi menjaga jarak dan kesadaran, ia berisiko kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Puisi "Laut" memperlihatkan ciri khas Wing Kardjo dalam menghadirkan puisi yang keras, padat, dan penuh ketegangan batin. Melalui simbol laut, puisi ini menyingkap konflik eksistensial manusia yang terus bergulat antara penyerahan dan perlawanan.
