Puisi: Lembu Jantan (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Lembu Jantan” karya Nirwan Dewanto bercerita tentang sebuah wujud “aku” yang lahir dari proses melukis: sapuan warna biru-hijau, kuning, ...

Lembu Jantan

Ke hamparan biru-hijau pelukis itu membubuhkan kuning berkali-kali sehingga jadilah aku, dan ia berkata, inilah gelombang yang kuimpi-impikan sejak aku remaja.

Kekasihnya yang sejak semalam berdiri telanjang di hadapannya segera menyentuh wujudku sampai ujung jarinya terluka, dan darah itu pun menetes ke wajahku.

Karena kau tak menyalin aku, perempuan itu berkata, biarlah kububuhkan merah ke bidangmu agar kau mampu juga merasakan sawanku, dendamku, birahiku.

Ketika aku menjauh ke ufuk pagi, pelukis itu tak sabar menarik pacarnya memburuku dan melaburkan seleret hitam cemerlang ke kepalaku dan ia berkata, inilah jantungmu, cintaku, sebab kau juga gelombang yang pandai memainkan mata.

Lihatlah, kini aku bermahkota, maka dengan sukacita, nyaris buta pula, aku mengendus-endus pasangan itu sampai mereka bergulung-gulung seperti gumapalan jerami.

Ah, kauberi aku tanduk lembu jantan, kata si perempuan sambil mengempaskan kekasihnya ke sabanaku, mungkin ke bawah duli kakiku, namun disinilah asalnya, ia berseru, menunjuk ke bawah pusar si lelaki.

Kulumatkan jubah pelukis itu agar si pacar leluasa mematangkan raganya, mengulum tanduknya, menghisap seluruh catnya, sehingga jadilah aku lubang mahabesar yang memangsa keduanya.

Tidak, sesungguhnya aku hanya dahaga, hanya kupilih si perempuan sebab aku bisa minum dari payudaranya yang bulai belia selagi ia menjilat-jilat mahkotaku, sampai ia berbisik padaku, betapa kau merah daging, hai gelombang yang mengasah segenap puncak dan lembahku

Kusemburkan putih-mutih yang lebih subur daripada terang siang dan lebih lezat daripada getah mani ketika si pelukis bangkit dari bawah bayanganku dan menggoreskan buli-buli sebesar sarang lebah dan berkata, inilah zakar lembu yang sudah lama kutanggalkan, kualpakan, tapi tetap regang juga.

Tapi aku bukan lagi miliknya, sebab aku mahir, terlalu mahir memuja si betina di haribaanku.

2006

Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Lembu Jantan” karya Nirwan Dewanto merupakan teks yang kompleks, simbolik, dan sarat metafora. Puisi ini mempertemukan dunia seni rupa (pelukis, warna, bidang), tubuh manusia, serta figur hewan mitologis dalam satu ruang puitik yang intens. Dengan sudut pandang “aku” yang tidak lazim, puisi ini menggugat batas antara pencipta dan ciptaan, antara subjek dan objek, sekaligus menghadirkan renungan tentang hasrat, kekuasaan, dan transformasi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penciptaan dan hasrat dalam relasi yang timpang antara seniman, karya, dan tubuh. Puisi ini juga mengangkat tema metamorfosis identitas—bagaimana sesuatu yang diciptakan perlahan memperoleh kehendak dan kuasa atas penciptanya.

Puisi ini bercerita tentang sebuah wujud “aku” yang lahir dari proses melukis: sapuan warna biru-hijau, kuning, merah, hitam, dan putih membentuk sosok yang kemudian menjelma sebagai “lembu jantan”. Dalam proses itu, hadir relasi intim antara pelukis dan kekasihnya, yang turut memengaruhi pembentukan wujud dan kesadaran “aku”. Seiring waktu, ciptaan ini tidak lagi pasif; ia bergerak, memburu, dan akhirnya menguasai pencipta serta pasangannya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini berkisar pada kritik terhadap ilusi kontrol dalam proses kreatif dan relasi hasrat. Karya yang diciptakan bukan sekadar hasil kehendak seniman, melainkan entitas yang dapat melampaui niat awal penciptanya. “Lembu jantan” dapat dibaca sebagai simbol energi naluriah—daya hidup, birahi, dan kekuasaan—yang ketika dilepaskan, sulit dikendalikan. Puisi ini juga menyiratkan bahwa hasrat kerap menyamarkan batas moral, estetika, dan identitas.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa intens, liar, dan transgresif. Ada ketegangan yang terus meningkat dari awal hingga akhir, seiring pergeseran posisi kuasa dari pelukis kepada ciptaannya. Suasana ini menimbulkan rasa tidak nyaman sekaligus memikat, memaksa pembaca untuk tetap berada di dalam pusaran metafora yang ditawarkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan tentang bahaya pengultusan hasrat dan kekuasaan tanpa kesadaran etis. Puisi ini seolah menegaskan bahwa pencipta—baik dalam seni maupun kehidupan—tidak selalu berdaulat atas apa yang ia lahirkan. Ketika naluri dan keinginan dilepaskan tanpa kendali, peran dapat berbalik: yang diciptakan justru menguasai pencipta.

Puisi “Lembu Jantan” merupakan puisi yang menantang pembacaan sederhana. Nirwan Dewanto menghadirkan teks yang berani, simbolik, dan penuh lapisan makna, memadukan seni, tubuh, dan mitologi untuk menggugat relasi kuasa antara pencipta, ciptaan, dan hasrat manusia itu sendiri.

Nirwan Dewanto
Puisi: Lembu Jantan
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.