Puisi: Lereng Merbabu (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Lereng Merbabu” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang seseorang yang datang dari jauh ke lereng Merbabu, menyusuri jalan setapak ...
Lereng Merbabu

hutan cemara, hutan cemara...
ke arah mana halimun sirna

jalan setapak, tanah basah
peladang tembakau pulang senja

gamelan jawa mengalun
dari dusun-dusun pedalaman

aku tiba dari jauh
membawa cinta sepenuh jiwa

halimun, halimun...
ke mana perginya hutan cemara.

2014

Sumber: Montase (2016)

Analisis Puisi:

Puisi “Lereng Merbabu” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan potret alam pegunungan Jawa yang sederhana namun sarat rasa. Dengan larik-larik pendek dan pengulangan yang lirih, puisi ini menampilkan perjumpaan antara alam, manusia, dan perasaan batin penyair. Lereng Merbabu bukan sekadar lokasi geografis, melainkan ruang kenangan, kerinduan, dan pertanyaan tentang perubahan yang perlahan terjadi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap alam dan kesadaran akan perubahan yang menggerusnya. Puisi ini juga memuat tema perjalanan pulang, keterikatan emosional pada kampung dan lanskap budaya Jawa.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang datang dari jauh ke lereng Merbabu, menyusuri jalan setapak berlumpur, menyaksikan peladang tembakau pulang saat senja, dan mendengar gamelan mengalun dari dusun-dusun pedalaman. Di tengah kehadiran itu, muncul pertanyaan lirih tentang hilangnya halimun dan hutan cemara—sebuah kegelisahan atas perubahan alam yang dirasakan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menyentuh kekhawatiran akan lenyapnya alam dan memudarnya lanskap yang dulu akrab. Pertanyaan “ke mana perginya hutan cemara” tidak sekadar menyoal kabut atau pepohonan, melainkan menyiratkan hilangnya keseimbangan antara manusia dan alam. Cinta yang dibawa “sepenuh jiwa” terasa berhadapan dengan kenyataan perubahan yang tak terelakkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa tenang, lirih, dan melankolis. Senja, kabut, dan bunyi gamelan menciptakan keheningan yang hangat, namun di baliknya tersimpan rasa kehilangan yang halus.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan pesan agar manusia menjaga alam dan merawat hubungan harmonis dengan lingkungan serta budaya lokal. Perubahan yang tidak disadari dapat menghilangkan keindahan yang selama ini dianggap abadi.

Puisi “Lereng Merbabu” karya Wayan Jengki Sunarta adalah sajak yang hening dan membumi. Melalui gambaran alam, kehidupan desa, dan pengulangan lirih, puisi ini mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam dan kampung halaman. Sebuah puisi tentang cinta, kepulangan, dan kegelisahan atas perubahan yang perlahan namun nyata.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Lereng Merbabu
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.