Puisi: Man Roa Minkum Munkaron (Karya Aldian Aripin)

Puisi "Man Roa Minkum Munkaron" karya Aldian Aripin mengingatkan bahwa agama bukan sekadar suara yang diputar atau kitab yang dipajang, melainkan ...
Man Roa Minkum Munkaron

Sesungguhnya
telah enggan para malaikat
menyentuh mesjid-mesjid yang megah
yang setiap menjelang waktu sholat
memutar kaset mengumandangkan ayat-ayat
sedang di situ berjejer lusinan kitab
dan di antara jamaah pun ada yang fasih
dan lancar membaca Al-Qur'an.

Namun para nazir jarang
yang menyadari akan kealpaan ini
ia malah terlena termangu-mangu dibuai
oleh alunan lagu dari qori yang telah
direkamkan.

Sabda telah dilecehkan
Firman telah diperjualbelikan
kita tinggal menerima laknat dan kutukan
bencana yang berkepanjangan.

Sumber: Ribeli 1966 (Penerbit Sastera Leo Medan, 1966)

Analisis Puisi:

Puisi "Man Roa Minkum Munkaron" tampil sebagai sajak kritik religius yang tajam dan berani. Judulnya sendiri—yang merujuk pada hadis tentang kewajiban mencegah kemungkaran—menjadi pintu masuk pembacaan terhadap isi puisi yang menyoroti praktik keberagamaan yang tampak megah secara lahiriah, namun rapuh secara batiniah dan etis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemunafikan dan kemerosotan nilai dalam praktik keagamaan. Puisi ini juga mengusung tema kritik sosial-religius, komodifikasi agama, serta kelalaian moral umat yang berlindung di balik simbol-simbol kesalehan.

Puisi ini bercerita tentang kondisi masjid-masjid yang megah secara fisik, namun kehilangan ruh spiritualnya. Ayat-ayat suci dikumandangkan melalui kaset rekaman, kitab-kitab berjajar rapi, dan jamaah fasih membaca Al-Qur’an. Namun semua itu hanya menjadi pertunjukan formalitas, tanpa kesadaran dan penghayatan yang sejati. Para pengelola (nazir) digambarkan terlena, tidak peka terhadap kealpaan yang sedang berlangsung.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah agama direduksi menjadi suara, simbol, dan tampilan, bukan lagi sebagai pedoman hidup. Ketika sabda dilecehkan dan firman diperjualbelikan, maka yang tersisa hanyalah ritual kosong. Puisi ini menyiratkan bahwa kelalaian kolektif terhadap kemungkaran akan berujung pada kerusakan moral dan bencana sosial yang berkepanjangan.

Suasana dalam puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah muram, getir, dan penuh peringatan. Tidak ada kelembutan liris, melainkan nada kecaman yang tegas dan serius, seolah penyair sedang menyampaikan peringatan keras kepada pembaca.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah keharusan menghidupkan kembali kesadaran moral dalam beragama. Puisi ini mengingatkan bahwa ibadah tidak cukup dijalankan sebagai rutinitas atau tontonan, melainkan harus disertai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mencegah kemungkaran—sebagaimana amanat ajaran agama itu sendiri.

Puisi "Man Roa Minkum Munkaron" karya Aldian Aripin merupakan sajak kritik yang lantang dan tidak kompromistis. Ia menelanjangi praktik keberagamaan yang terjebak pada kemegahan dan formalitas, tetapi kehilangan kepekaan etis. Melalui bahasa yang lugas dan simbol yang kuat, puisi ini mengingatkan bahwa agama bukan sekadar suara yang diputar atau kitab yang dipajang, melainkan amanah moral yang harus dijaga dan dihidupkan dalam tindakan nyata.

Aldian Aripin
Puisi: Man Roa Minkum Munkaron
Karya: Aldian Aripin

Biodata Aldian Aripin:
  • Aldian Aripin lahir pada tanggal 1 Agustus 1938 di Kotapinang, Sumatera Utara.
  • Aldian Aripin meninggal dunia pada tanggal 15 Oktober 2010 di Medan
  • Aldian Aripin merupakan Penyair Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.