Sumber: Mereka Menunggu Ibunya (1983)
Analisis Puisi:
Puisi “Manusia” gubahan Abdul Hadi WM merupakan puisi reflektif bernuansa nasihat yang menyoroti hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna. Melalui gaya tutur sederhana dan pengulangan sapaan “Anak-anakku”, penyair menghadirkan suara kebijaksanaan moral yang mengingatkan manusia agar rendah hati dan berbuat baik.
Tema
Tema puisi ini adalah ketidaksempurnaan manusia dan pentingnya moralitas. Puisi menekankan bahwa manusia penuh kesalahan sehingga perlu menjaga perilaku, berbuat baik, dan tidak sombong.
Puisi ini bercerita tentang nasihat seorang bijak kepada generasi muda (“Anak-anakku”) mengenai hakikat manusia. Manusia digambarkan tidak sempurna, penuh dosa, sering bertengkar dan berebut harta. Ia diibaratkan seperti kain putih yang mudah kotor. Karena itu manusia harus membersihkan diri melalui perbuatan baik, doa, dan sikap saling menolong. Puisi diakhiri dengan peringatan agar tidak sombong meskipun pandai dan kaya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kesucian manusia bukanlah keadaan tetap, melainkan sesuatu yang harus dijaga dan diupayakan. Perumpamaan kain putih menandakan fitrah atau potensi kebaikan manusia, sedangkan kotoran melambangkan dosa dan kesalahan.
Puisi juga menyiratkan bahwa kekayaan dan kepandaian tidak menjamin kemuliaan; nilai manusia justru ditentukan oleh akhlak dan kerendahan hati.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa didaktis, hangat, dan bijak. Sapaan berulang “Anak-anakku” menciptakan kesan kasih sayang sekaligus otoritas moral, seperti seorang guru atau orang tua yang menasihati dengan lembut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat puisi jelas: manusia harus menyadari ketidaksempurnaannya, menjaga diri dari kesalahan, serta memperbanyak kebaikan dan doa. Selain itu, manusia diingatkan untuk tidak sombong meskipun memiliki kelebihan duniawi. Kerendahan hati dan akhlak baik adalah ukuran kemanusiaan sejati.
Puisi “Manusia” gubahan Abdul Hadi WM menghadirkan refleksi sederhana namun mendalam tentang hakikat manusia. Dengan perumpamaan kain putih yang mudah kotor, penyair menegaskan bahwa manusia perlu terus membersihkan diri melalui kebaikan, doa, dan kerendahan hati. Puisi ini menempatkan moralitas sebagai inti kemanusiaan dan mengingatkan bahwa kesombongan bertentangan dengan kesadaran akan ketidaksempurnaan manusia.
Gubahan: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
