Puisi: Matinya Seorang Hakim Agung (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi “Matinya Seorang Hakim Agung” karya Asep S. Sambodja bercerita tentang seorang hakim agung yang sedang menuju tempat kerjanya di Mahkamah ...
Matinya Seorang Hakim Agung

seorang hakim agung
melaju dengan mobil
menuju mahkamah agung
ia bayangkan pelangi muncul di cakrawala

di tengah jalan yang sepi sepoi
ia dicegat dua berandalan
yang menghujaninya dengan pelor

hakim agung itu mati
tubuhnya bersimbah darah

polisi segera menyelidiki penembakan hakim agung itu
ternyata ia baru saja menjatuhkan vonis
dua tahun penjara pada anak presiden
yang kemudian buron di ibukota

berita pagi mengabarkan hakim agung itu mati
setelah menyentuh kasus
anak presiden

Jogja, 30 September 2010

Analisis Puisi:

Puisi “Matinya Seorang Hakim Agung” karya Asep S. Sambodja menampilkan kritik sosial dan politik melalui narasi tragis tentang kematian seorang hakim yang menjadi korban kekuasaan dan ketidakadilan. Dengan bahasa yang lugas dan alur cerita yang jelas, puisi ini menggambarkan hubungan antara integritas hukum, kekuasaan politik, dan risiko moral yang dihadapi individu yang berani menegakkan keadilan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah integritas dan risiko penegakan hukum dalam konteks kekuasaan politik. Puisi ini juga mengangkat tema ketidakadilan, bahaya melawan korupsi atau privilese elit, dan keberanian moral seorang individu yang menempatkan prinsip di atas keselamatan pribadi.

Puisi ini bercerita tentang seorang hakim agung yang sedang menuju tempat kerjanya di Mahkamah Agung dengan penuh harapan dan imaji pelangi di cakrawala, yang mungkin melambangkan keadilan atau harapan pada masa depan. Namun, di tengah perjalanan, ia dicegat dua berandalan dan ditembaki hingga tewas. Peristiwa ini terjadi setelah hakim tersebut menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada anak presiden yang kemudian buron.

Berita pagi melaporkan kematiannya, menekankan ketegangan antara penegakan hukum dan pengaruh kekuasaan politik, serta konsekuensi fatal yang harus ditanggung oleh individu yang berani menegakkan keadilan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa keberanian dan integritas tidak selalu dihargai dalam sistem yang korup atau dipenuhi kepentingan politik. Kematian hakim agung bukan hanya peristiwa tragis, tetapi juga simbol ancaman terhadap independensi hukum dan keadilan yang sejati. Puisi ini menyiratkan kritik terhadap ketidakadilan sistemik dan realitas pahit bagi mereka yang mencoba menegakkan hukum secara benar.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung tegang, tragis, dan ironis. Perpaduan antara harapan awal yang digambarkan melalui “pelangi muncul di cakrawala” dan kekerasan brutal yang dialami hakim menciptakan kontras emosional yang kuat. Suasana ini menekankan ketidakpastian dan bahaya yang menyertai perjuangan moral dalam dunia nyata.

Puisi “Matinya Seorang Hakim Agung” karya Asep S. Sambodja adalah puisi kritik sosial-politik yang tajam, menyoroti risiko moral yang harus dihadapi individu berintegritas dalam sistem hukum yang dipenuhi tekanan kekuasaan. Dengan alur naratif yang jelas, simbol yang kuat, dan bahasa yang lugas, puisi ini menyampaikan pesan tentang bahaya ketidakadilan, keberanian, dan konsekuensi dari melawan kekuasaan yang korup.

Asep S. Sambodja
Puisi: Matinya Seorang Hakim Agung
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.