Puisi: Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam (Karya Darmanto Jatman)

Puisi “Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam” karya Darmanto Jatman menegaskan bahwa manusia terus mencari makna dan kehadiran Tuhan.
Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam

Tiada kusaksikan sesuatu
Waktu aku menatap jauh kepadamu
Angin membunyikan suara tak tentu
Meraba bibirku:
Ia seolah bisikan
Ia seolah nyanyi

Sebab aku tak boleh berdusta
Maka kubilang padamu:
Ia hanyalah angin yang menyentuh bibirku belaka
(Wah. Aku sudah cemas
Kalau-kalau aku bilang itu peri
Padahal sekadar ilalang yang berayun
Sentuh-menyentuh pucuk ke pucuk).

Namun daripada kita diam
Ayo kita nyanyikan bukan dusta dari nenek moyang kita
Sir sir pong dele gosong
Sir sir pong dele gosong

Tentu bukan dusta
Sebab sebagai kata mereka:
Itulah milik kita yang sah
Yang telah diuji dan diasah oleh sejarah.

Tiada kudengar sesuatu
Waktu aku menilingkan telingaku kepadamu
Angsa-angsa berbaris di bawah bulan
Mendongak-dongakkan kepala secara serempak:
Seolah menjerit
Seolah menari

Namun
Sebab aku tak boleh berdusta
Maka kubilang padamu:
Mereka tentu tidak minta keajaiban
Dari terang bulan menuju ke hujan
(Wah. Sulaiman
Wah. Anglingdarma)

Sungguh
Tiada kudengar
Tiada kusaksikan
Riuh rendah
Karnaval topeng-topeng
(Namun toh terasa
gemuruh yang menyesak
gemerlap yang me…….

Haii!
Siapa yang paling bodoh
Copot topengmu!
Buka suaramu!

Dan tiba-tiba:
Wah!
Tuhan tersipu-sipu di muka kita
Tapi
Siapakah Dia?

Sumber: Horison (Juni, 1971)

Analisis Puisi:

Puisi “Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam” memperlihatkan perenungan eksistensial yang khas Darmanto Jatman: dialog antara pengalaman inderawi, kesadaran rasional, tradisi, dan spiritualitas. Penyair menghadirkan suasana malam di padang ilalang sebagai ruang refleksi tentang realitas, imajinasi, dan pencarian makna ilahi. Puisi bergerak dari pengamatan alam sederhana menuju pertanyaan metafisik tentang Tuhan dan kebenaran.

Tema

Tema puisi ini adalah pencarian kebenaran dan kehadiran ilahi di antara pengalaman nyata, tradisi, dan imajinasi manusia. Penyair mempertanyakan batas antara yang faktual, mitos, dan spiritual.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memandang padang ilalang pada malam hari. Ia merasakan angin, gerak ilalang, dan suasana alam yang tampak seperti bisikan atau nyanyian. Namun ia berusaha jujur bahwa semua itu hanyalah fenomena alam. Ia lalu mengajak kembali pada nyanyian tradisional nenek moyang, simbol warisan budaya. Pada bagian akhir, pengalaman inderawi dan imajinatif itu memuncak menjadi kesadaran spiritual: seolah Tuhan hadir, tetapi tetap misterius.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia selalu berada di antara rasionalitas dan imajinasi dalam memahami realitas dan Tuhan. Alam bisa terasa magis, tetapi akal menyebutnya biasa. Tradisi memberi makna kolektif, namun pengalaman spiritual tetap personal dan tak terdefinisi.

Pertanyaan “Siapakah Dia?” menegaskan bahwa Tuhan dirasakan hadir, tetapi tidak sepenuhnya dapat dipahami atau didefinisikan manusia.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi berubah-ubah dan berlapis:
  • Hening dan kontemplatif (pengamatan alam malam).
  • Reflektif dan ironis (penyangkalan mitos).
  • Folkloris (nyanyian nenek moyang).
  • Tegang dan eksistensial (seruan membuka topeng).
  • Mistis (kemunculan Tuhan).
Perubahan suasana ini memperkuat perjalanan batin penyair.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa manusia perlu jujur terhadap pengalaman nyata, namun tetap terbuka pada dimensi budaya dan spiritual. Puisi juga mengajak manusia melepaskan “topeng” kepalsuan dan mencari kebenaran yang lebih dalam. Pada akhirnya, kehadiran Tuhan tidak selalu hadir sebagai kepastian rasional, melainkan sebagai misteri yang dirasakan.

Puisi “Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam” karya Darmanto Jatman adalah perenungan tentang batas antara realitas, mitos, dan spiritualitas. Melalui pengamatan alam malam, tradisi nenek moyang, dan simbol topeng, penyair menegaskan bahwa manusia terus mencari makna dan kehadiran Tuhan. Puisi ini menutup dengan pertanyaan terbuka tentang siapa Tuhan, menegaskan bahwa pengalaman ilahi selalu melampaui definisi manusia.

Puisi Darmanto Jatman
Puisi: Memandang Padang Alang-Alang pada Suatu Malam
Karya: Darmanto Jatman

Biodata Darmanto Jatman:
  • Darmanto Jatman lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di Jakarta.
  • Darmanto Jatman meninggal dunia pada tanggal 13 Januari 2018 (pada usia 75) di Semarang, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.