Puisi: Menjadi Lautan (Karya Acep Zamzam Noor)

Puisi “Menjadi Lautan” karya Acep Zamzam Noor bercerita tentang pengalaman seseorang yang “berenang” dalam tubuh dan kehadiran sosok yang dicintai, ..
Menjadi Lautan

Lelehan keringatmu telah menjadi lautan
Kembali aku berenang dan kerasukan
Dalam panjangnya ciuman. Dadamu
Gelombang yang penuh lekukan
Selalu menyediakan ruang
Bagi lahirnya kata-kata

Kudengar deru ombak
Pantai tinggal sehamparan pasir
Dan sungai hanya perpanjangan garis
Yang menguap di udara. Aku berenang lagi
Tanpa gerakan yang menakjubkan
Tanpa membalikkan badan
Atau memutar tangan
Kuturuni pinggulmu yang curam
Senja telah menyarungkan pisaunya
Ke tengah-tengah malam

Aku berenang
Aku minum
Aku bermimpi menjadi sufi
Sebuah goa hijau penuh kaligrafi
Pelan-pelan kumasuki. Pohon-pohon bakau
Menjadi rambut dan janggutku
Sedang terumbu karang
Yang mekar di selangkanganmu
Masih juga menyisakan ruang
Bagi kata-kata. Aku terus berenang
Dan semakin kerasukan

Sumber: Membaca Lambang (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Menjadi Lautan” karya Acep Zamzam Noor menghadirkan perjumpaan intens antara tubuh, bahasa, dan pengalaman spiritual. Lautan dalam puisi ini bukan semata bentang alam, melainkan ruang penyatuan: antara aku dan kau, antara hasrat dan kontemplasi, antara dunia jasmani dan pencarian makna yang lebih dalam. Bahasa puisinya mengalir, sensual, sekaligus mistis, menunjukkan ciri khas Acep Zamzam Noor dalam mengolah pengalaman personal menjadi perenungan eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penyatuan tubuh, cinta, dan spiritualitas. Puisi ini juga mengangkat tema transformasi diri, di mana pengalaman jasmani menjadi jalan menuju kesadaran batin dan kelahiran kata-kata.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang “berenang” dalam tubuh dan kehadiran sosok yang dicintai, yang dimetaforakan sebagai lautan. Lelehan keringat, dada, pinggul, hingga selangkangan dihadirkan sebagai lanskap alam—pantai, gelombang, terumbu karang—yang terus menyediakan ruang bagi lahirnya kata-kata. Perjalanan ini tidak hanya fisik, tetapi juga batiniah, hingga penyair bermimpi “menjadi sufi”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa tubuh dan cinta dapat menjadi jalan menuju pengalaman spiritual dan penciptaan bahasa. Hasrat tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang profan semata, melainkan sebagai energi yang menggerakkan kesadaran, imajinasi, dan pencarian makna. “Menjadi lautan” menyiratkan peleburan ego, di mana penyair larut sepenuhnya dalam pengalaman, kehilangan batas antara diri, tubuh, dan semesta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa intim, intens, dan transendental. Ada panas hasrat, aliran kenikmatan, sekaligus kedalaman perenungan yang membuat puisi bergerak dari sensualitas menuju kesunyian batin yang mistis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyiratkan pesan bahwa pengalaman paling manusiawi—cinta, tubuh, dan hasrat—dapat menjadi pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam. Bahasa dan kata-kata lahir dari keberanian menyelami pengalaman itu tanpa rasa takut atau penyangkalan.

Puisi “Menjadi Lautan” karya Acep Zamzam Noor adalah sajak yang berani dan mendalam. Ia menjembatani tubuh dan spiritualitas, hasrat dan bahasa, tanpa menghakimi salah satunya. Dengan metafora laut yang konsisten dan imaji yang kuat, puisi ini menunjukkan bahwa dari pengalaman paling intim sekalipun, kata-kata—dan makna—dapat terus lahir dan mengalir.

Acep Zamzam Noor
Puisi: Menjadi Lautan
Karya: Acep Zamzam Noor

Biodata Acep Zamzam Noor:
  • Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
  • Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
© Sepenuhnya. All rights reserved.