Puisi: Lagu Bulan April (Karya Acep Zamzam Noor) Lagu Bulan April Sebuah kolam adalah kekekalan Dengan akar-akar bakung yang khusyuk Serta bunga-bunganya ya…
Puisi: Rocca Paolina (Karya Acep Zamzam Noor) Rocca Paolina Sebuah lorong gelap Dengan ruang-ruang berceruk Dinding kasar dan tangga-tangga Yang berkelok…
Puisi: Fontana Maggiore (Karya Acep Zamzam Noor) Fontana Maggiore Tiba-tiba tubuhmu penuh hujan Seperti patung di tengah air mancur itu Dan waktu menjadi pohon yang ditinggalkan daun-daun …
Puisi: Amsal Subuh (Karya Acep Zamzam Noor) Amsal Subuh Hikmati fajar yang datang Sebelum dingin subuh menyelimutimu Karena cemburu. Langit yang bertekstur itu Cukup lapang untuk tanganmu menul…
Puisi: Sebelum Senja Tiba (Karya Acep Zamzam Noor) Sebelum Senja Tiba (1) Kau percaya seseorang akan datang Ke pelabuhan malam itu. Kau masih percaya Bahwa seseorang akan datang dari pulau seberang Da…
Puisi: Dua Pantai (Karya Acep Zamzam Noor) Dua Pantai Di antara dua pantai, seperti juga alamat rindu Tersesatlah kita dalam panjangnya sebuah ciuman …
Puisi: Awal Kata (Karya Acep Zamzam Noor) Awal Kata Lentik sunyi di ujung alismu Detak rindu di palung jantungku 2014 Sumber: Berguru kepada Rindu (2017) Analisis Puisi: Puisi “Awal Kata” mer…
Puisi: Desember (Karya Acep Zamzam Noor) Desember Buat Lisa Pandansari Kidung malaikat Tetes hujan di bumi Ujung tahun yang rinai Basah di hati Kidung malaikat Merangkai lampu-lampu natal Se…
Puisi: Di Masjid Salman (Karya Acep Zamzam Noor) Di Masjid Salman ( Buat Anne Rufaidah ) Pertemuan tercipta dari kata Malam putih berlantai sabda Di rumah…
Puisi: Rumah yang Terbuka (Karya Acep Zamzam Noor) Rumah yang Terbuka Jarum penglihatanku memasuki seluruh pori-pori Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api Yang menyalakan s…
Puisi: Dari Kota Hujan (Karya Acep Zamzam Noor) Dari Kota Hujan (1) Kaulah kesepian yang bangkit Sepanjang rimbun bebukit Ketika aku lewat Menghirup udara pagi Kesegaran dedaun hijau Kaulah gerimis…
Puisi: Nyanyian (Karya Acep Zamzam Noor) Nyanyian Aku siap Melayani hidup ini Asalkan Engkau bantu Terima-kasih, Tuhan Bahwa aku masih bisa meng…
Puisi: Waktu yang Sehitam Dedak Kopi (Karya Acep Zamzam Noor) Waktu yang Sehitam Dedak Kopi Waktu yang sehitam dedak kopi di gelasmu itu Adalah sepi. Tahun-tahun merayap pelahan Dari hutan yang terbakar…