Puisi: Desember (Karya Acep Zamzam Noor) Desember Buat Lisa Pandansari Kidung malaikat Tetes hujan di bumi Ujung tahun yang rinai Basah di hati Kidung malaikat Merangkai lampu-lampu natal Se…
Puisi: Di Masjid Salman (Karya Acep Zamzam Noor) Di Masjid Salman ( Buat Anne Rufaidah ) Pertemuan tercipta dari kata Malam putih berlantai sabda Di rumah…
Puisi: Rumah yang Terbuka (Karya Acep Zamzam Noor) Rumah yang Terbuka Jarum penglihatanku memasuki seluruh pori-pori Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api Yang menyalakan s…
Puisi: Dari Kota Hujan (Karya Acep Zamzam Noor) Dari Kota Hujan (1) Kaulah kesepian yang bangkit Sepanjang rimbun bebukit Ketika aku lewat Menghirup udara pagi Kesegaran dedaun hijau Kaulah gerimis…
Puisi: Nyanyian (Karya Acep Zamzam Noor) Nyanyian Aku siap Melayani hidup ini Asalkan Engkau bantu Terima-kasih, Tuhan Bahwa aku masih bisa meng…
Puisi: Waktu yang Sehitam Dedak Kopi (Karya Acep Zamzam Noor) Waktu yang Sehitam Dedak Kopi Waktu yang sehitam dedak kopi di gelasmu itu Adalah sepi. Tahun-tahun merayap pelahan Dari hutan yang terbakar…
Puisi: Menjumpaimu (Karya Acep Zamzam Noor) Menjumpaimu Menjumpaimu di sebuah kota Seperti menemui kenyataan dunia ini Kota itu tak bernama, gedung-gedungnya sangat tua Dan musik mengg…
Puisi: Kepada Seorang Penyanyi Dangdut (Karya Acep Zamzam Noor) Kepada Seorang Penyanyi Dangdut Di tengah melambungnya harga-harga Suaramu semakin merdu saja. Di tengah membengkaknya hutang negara Waj…
Puisi: Montmarte (Karya Acep Zamzam Noor) Montmarte ( Buat Agam Wispi ) Sesuatu yang mirip bukit, bertangga-tangga Sesuatu yang mengingatkanku pada pu…
Puisi: Ada yang Belum Kuucapkan (Karya Acep Zamzam Noor) Ada yang Belum Kuucapkan Ada yang belum kuucapkan ketika sua ini Mempercepat kita: di sebuah kota mati senja turun di matamu Lalu kita bicara tentang…
Puisi: Mengapa Selalu Kutulis Sajak (Karya Acep Zamzam Noor) Mengapa Selalu Kutulis Sajak Mengapa selalu kutulis sajak Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus…