Puisi: Menjelang Amarah (Karya Mahdi Idris)

Puisi “Menjelang Amarah” karya Mahdi Idris bercerita tentang perasaan seseorang yang menghadapi kemarahan yang akan muncul, diwarnai oleh rindu dan ..
Menjelang Amarah

Seutas tali rindu masih melilit di keningmu
Di senja kemarau
Melirik sebatang resah air mata

Seperti senja kala
Selembar senyum mengikis amarahmu
Menjelang luka, menoreh di sudut bola mata.

Sekadar tetesan air gaunmu
Penuh, sesaki dada
Biarkan pepohonan berjajar
Dalam gubuk kita
Membiar dedaunan gugur
Dalam gerimis debu

Menjelang amarah,
Awan mendung di langit kamarmu
Menetes kenangan sejengkal debu amarahmu.

Rayeuk Kuta, 11 Maret 2009

Analisis Puisi:

Puisi “Menjelang Amarah” karya Mahdi Idris adalah puisi yang sarat dengan emosi halus dan simbolisme alam, menggambarkan pergulatan batin manusia saat menghadapi rasa marah, rindu, dan kenangan yang tersisa. Dengan bahasa yang lembut namun intens, penyair memadukan pengalaman emosional pribadi dengan citraan alam yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kontemplasi emosi, khususnya amarah, rindu, dan luka batin. Puisi ini juga menyinggung tema hubungan interpersonal dan fragmen kehidupan yang terekam dalam memori dan perasaan, di mana amarah bukan sekadar kemarahan, tetapi juga proses refleksi dan pengendalian diri.

Puisi ini bercerita tentang perasaan seseorang yang menghadapi kemarahan yang akan muncul, diwarnai oleh rindu dan kenangan. Beberapa peristiwa atau kondisi yang tergambar antara lain:
  • Seutas tali rindu yang melilit, menggambarkan keterikatan emosional dan kerinduan yang tersisa.
  • Senja kemarau dan resah air mata, menekankan suasana hati yang muram dan penuh pergulatan.
  • Awan mendung dan gerimis debu sebagai simbol dari amarah yang sedang menumpuk dan kenangan yang membayang.
Secara keseluruhan, puisi ini menggambarkan ketegangan emosional manusia menjelang ledakan perasaan, di mana rindu dan kenangan menjadi penghalus atau penahan amarah.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah proses pengendalian diri dalam menghadapi amarah dan keterikatan emosi terhadap orang atau kenangan tertentu. Frasa seperti “Selembar senyum mengikis amarahmu” menyiratkan bahwa kasih sayang, kenangan manis, atau momen lembut mampu meredam kemarahan yang membara.

Selain itu, penggunaan citraan alam seperti senja, dedaunan gugur, dan gerimis debu menekankan bahwa emosi manusia selalu terkait dengan lingkungan dan pengalaman hidup, serta bahwa amarah dan rindu adalah bagian alami dari eksistensi manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini muram, tenang, dan reflektif, sekaligus memiliki ketegangan halus menjelang ledakan emosi. Senja, dedaunan gugur, gerimis debu, dan awan mendung menghadirkan atmosfer yang melankolis dan sedikit menegangkan, menekankan emosi yang tertahan dan perlahan muncul. Nada puisi cenderung lembut dan kontemplatif, membiarkan pembaca merasakan dinamika batin secara intens.

Puisi “Menjelang Amarah” karya Mahdi Idris adalah puisi reflektif yang memadukan emosi manusia dengan alam dan simbolisme, menghadirkan pengalaman batin menjelang ledakan amarah, sekaligus menekankan kekuatan rindu, kasih sayang, dan kenangan sebagai penahan emosi. Dengan bahasa puitis, citraan alam yang kuat, dan nuansa melankolis, puisi ini mengajak pembaca merenungkan kompleksitas emosi manusia dan hubungan antara rindu, amarah, dan pengalaman hidup.

Mahdi Idris
Puisi: Menjelang Amarah
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.