Puisi: Momento Mori (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi "Momento Mori" karya Korrie Layun Rampan bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang bergerak melalui berbagai lanskap simbolik: ...

Momento Mori


Irama nyanyian mengangkat sayap-sayap burung ke angkasa
Ai, wanginya angin kemerdekaan, wanginya taman Kekasih
Cinta mekar di padang-padang tanah janjian
Mengelus dada insan, menerobos dinding Kerajaan Tuhan

Menderap kuda putihku dalam angin, memacu waktu
Ai, wanginya mawar batu, wanginya padang rindu
Kudaku memintas padang cahaya, melagu jerit langit
Meraih kodrat yang meluncur menunjam dataran benua

Kucium tanganmu di luar jamah, wahai Junjunganku
Ai, wanginya belantara telanjang, wanginya jiwa yang basah
Berperang dalam sepi, berbenah di bilik Waktu
Memanjat ke Tuhan, ke Hati yang Indah!

1976

Sumber: Suara Kesunyian (1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Momento Mori” karya Korrie Layun Rampan menghadirkan perenungan mendalam tentang kehidupan, cinta, dan relasi manusia dengan waktu serta Tuhan. Judul puisi ini sendiri—yang mengingatkan pada konsep memento mori (ingatlah akan kematian)—menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan isi puisi sebagai perjalanan spiritual dan kesadaran akan kefanaan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran spiritual tentang hidup, cinta, dan kematian dalam bingkai waktu dan ketuhanan. Puisi menempatkan kehidupan sebagai perjalanan yang indah namun sementara, yang pada akhirnya bermuara pada Tuhan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang bergerak melalui berbagai lanskap simbolik: padang, angin, kuda putih, cahaya, dan belantara. Perjalanan tersebut bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual menuju pemahaman kodrat hidup, cinta, dan hubungan hamba dengan Sang Junjungan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia dan menempatkan cinta, waktu, serta kehidupan dalam kerangka ilahi. Keharuman yang berulang kali disebut bukan sekadar aroma fisik, melainkan lambang kesadaran, kebebasan jiwa, dan keintiman spiritual. Puisi ini menegaskan bahwa di balik gairah hidup dan cinta, manusia tetap berhadapan dengan waktu yang terus bergerak menuju akhir.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana lirih, sakral, dan penuh kekhusyukan. Nuansa spiritual terasa kuat melalui diksi yang lembut namun agung, seolah pembaca diajak memasuki ruang meditasi yang tenang dan penuh rasa pasrah.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah agar manusia senantiasa mengingat hakikat hidup yang fana, namun tidak kehilangan cinta dan keindahan dalam menjalaninya. Kesadaran akan kematian bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menuntun manusia agar hidup lebih bermakna dan dekat dengan Tuhan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, di antaranya:
  • Imaji visual dan gerak pada “sayap-sayap burung ke angkasa” dan “kuda putih ... memacu waktu”,
  • Imaji penciuman melalui pengulangan kata “wanginya” yang menciptakan sensasi batin,
  • Imaji cahaya dan ruang spiritual pada “padang cahaya” dan “Hati yang Indah”.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan transendental dan kontemplatif puisi.

Puisi "Momento Mori" karya Korrie Layun Rampan merupakan sajak spiritual yang memadukan keindahan bahasa dengan kedalaman makna. Melalui simbol alam, perjalanan, dan cinta, puisi ini mengajak pembaca untuk mengingat kefanaan hidup sekaligus merayakan kedekatan manusia dengan Tuhan dalam kesadaran penuh akan waktu dan akhir kehidupan.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Momento Mori
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.