Puisi: Nokturno (Karya Muhammad Haji Salleh)

Puisi “Nokturno” karya Muhammad Haji Salleh bercerita tentang dua manusia yang pada malam hari mencari ketenangan dan makna hidup melalui alam, ...

Nokturno


malam ini kita punya laut
dan langit untuk menolong kita hidup.
angin yang datang dari belakang
memujuk kita mencoba keluasan di depan,
menyusuh kita tidak takut-takut
menyusuh kita tidak takut-takut
pada ketenangan atau kelainan.

larut malam ini kita pinjam lagu alam
untuk membetulkan irama jiwa
yang patah-patah pada rentak mesin
kupegang tanganmu
untuk kuhubungi jasadku kepada keheninganmu.

subuh pagi ini
kita ketemui dunia
yang memahami kita.
kita rangkaikan kebaikan
untuk kita buktikan kemanusiaan.

Sumber: Horison (Agustus, 1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Nokturno” karya Muhammad Haji Salleh menghadirkan lanskap malam sebagai ruang refleksi, kedekatan antarmanusia, dan pemulihan jiwa. Penyair Malaysia terkemuka ini dikenal sering memadukan alam dengan pengalaman batin manusia, dan puisi ini memperlihatkan ciri tersebut dengan kuat: malam, laut, langit, angin, hingga subuh menjadi medium simbolik perjalanan manusia dari keterasingan menuju pemahaman dan kemanusiaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian harmoni batin dan kemanusiaan melalui kedekatan dengan alam dan sesama manusia. Malam menjadi ruang kontemplatif untuk memperbaiki “irama jiwa” yang rusak oleh kehidupan modern (“rentak mesin”), lalu subuh menjadi lambang kebangkitan menuju dunia yang lebih memahami.

Puisi ini bercerita tentang dua manusia yang pada malam hari mencari ketenangan dan makna hidup melalui alam, lalu pada pagi hari menemukan kembali kemanusiaan dan kebaikan bersama.

Perjalanan dalam puisi bergerak kronologis:
  • Malam → kesadaran, ketenangan, keberanian menghadapi diri
  • Larut malam → pemulihan jiwa melalui kedekatan dan alam
  • Subuh → pertemuan kembali dengan dunia dan kemanusiaan

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini cukup kaya:
  • Alam sebagai penyembuh jiwa modern. Frasa “rentak mesin” menyiratkan kehidupan modern yang mekanis, keras, dan mematahkan jiwa. Alam (laut, langit, angin) menjadi penyeimbang.
  • Cinta sebagai jembatan eksistensial. Baris “kupegang tanganmu / untuk kuhubungi jasadku kepada keheninganmu” menyiratkan bahwa hubungan manusia mampu menyatukan kembali diri yang terpecah.
  • Kemanusiaan ditemukan kembali setelah refleksi. Subuh bukan sekadar waktu, tetapi simbol kesadaran baru: manusia menemukan dunia yang “memahami kita” setelah melalui malam perenungan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi bergerak bertahap:
  • Malam awal → hening, luas, kontemplatif
  • Larut malam → intim, lembut, spiritual
  • Subuh → hangat, optimistis, penuh harapan
Perubahan suasana ini memperkuat perjalanan batin dari keterasingan menuju kebersamaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa pesan yang dapat ditangkap:
  • Manusia perlu kembali pada alam untuk memulihkan jiwanya.
  • Kedekatan dengan sesama adalah jalan memahami diri.
  • Kemanusiaan dibangun melalui kebaikan yang dirangkai bersama.
  • Refleksi dan ketenangan diperlukan untuk menghadapi dunia modern.
Puisi “Nokturno” menghadirkan perjalanan batin manusia dari kegelisahan modern menuju harmoni melalui alam dan hubungan manusiawi. Dengan simbol malam hingga subuh, Muhammad Haji Salleh menegaskan bahwa kemanusiaan dan kebaikan tidak lahir dari dunia mekanis, tetapi dari keheningan, kedekatan, dan refleksi bersama. Puisi ini pada akhirnya adalah meditasi tentang bagaimana manusia menemukan kembali dirinya—dan sesamanya—di tengah luasnya alam dan waktu.

Muhammad Haji Salleh
Puisi: Nokturno
Karya: Muhammad Haji Salleh

Biodata Muhammad Haji Salleh:
  • Muhammad Haji Salleh (Prof. Dr. Muhammad bin Haji Salleh) lahir pada tanggal 26 Maret 1942 di Taiping, Perak, Malaysia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.