Pandangan dari sebuah Terminal Bas
tidak ada yang abadi
di pelabuhan riuh dan tergesa ini
penumpang-penumpang tiba dan berangkat
meninggalkan jemu mengepul
dan udara yang menghamilkan suara
tidak ada yang hening
di lautan yang senantiasa berdebur ini
penumpang-penumpang tiada waktu
memuja langit kulit limau
atau mengutip tembaga senja
yang ada di sini
di perhentian papas dan sementara ini
ribut yang sukar dimaknakan
debu kering bergulingan
di antara ketibaan dan keberangkatan
tidak ada yang seresah
mata mencari penumpang-penumpang
1989
Sumber: Horison (Desember, 1990)
Analisis Puisi:
Puisi “Pandangan dari sebuah Terminal Bas” karya T. Alias Taib menggambarkan kesibukan, pergerakan, dan ketidakteraturan yang muncul di sebuah terminal bus. Dengan pengamatan yang detail dan bahasa puitis, penyair menangkap dinamika manusia dan waktu yang bergerak cepat, sekaligus menyoroti sifat fana dari kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketidakkekalan hidup dan kesibukan manusia dalam rutinitas urban. Terminal bus menjadi metafora kehidupan yang terus bergerak: datang, pergi, tanpa henti, tanpa memberi ruang untuk diam atau hening.
Puisi ini bercerita tentang pengamatan penyair terhadap aktivitas di terminal bus. Penumpang datang dan pergi, udara dipenuhi suara dan debu, dan tidak ada yang benar-benar hening. Terminal menjadi tempat di mana waktu dan pergerakan manusia menumpuk, menampilkan kontradiksi antara keramaian dan kesendirian. Penyair mencatat bahwa meski terminal riuh, setiap individu tetap tenggelam dalam kesibukannya sendiri, tidak saling menyentuh atau berhenti merenung.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan itu bersifat sementara dan penuh kesibukan tanpa henti. Terminal bus menjadi simbol dunia yang cepat, di mana manusia bergerak tanpa jeda, sibuk dengan kedatangan dan keberangkatan, tetapi jarang menemukan ketenangan atau makna yang abadi. Ada kesan bahwa manusia hidup dalam ritme yang mirip arus terminal: selalu berpindah dan bergerak, namun kesadaran tentang kefanaan jarang muncul.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa riuh, tergesa, dan sedikit kacau, mencerminkan kebisingan dan ketergesaan terminal. Namun, di balik itu, ada nuansa pengamatan reflektif dari penyair, yang menyoroti debu yang bergulingan dan mata-mata yang mencari penumpang—menimbulkan rasa hampa dan kesendirian di tengah keramaian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa hidup bersifat sementara dan setiap individu terperangkap dalam ritme kesibukan masing-masing. Terminal menjadi simbol kehidupan manusia: datang dan pergi tanpa berhenti, sementara hening dan ketenangan sulit ditemukan.
Puisi “Pandangan dari sebuah Terminal Bas” karya T. Alias Taib menyajikan pengamatan kritis terhadap kehidupan manusia yang bersifat sementara dan sibuk. Dengan bahasa yang imajinatif dan penggambaran terminal yang riuh, penyair mengajak pembaca merenungi kefanaan, kesendirian di tengah keramaian, dan ritme kehidupan yang terus bergerak tanpa henti. Terminal bus di sini menjadi simbol dunia yang dinamis, di mana setiap orang datang dan pergi, namun hening sejati jarang ditemui.
Karya: T. Alias Taib
Biodata T. Alias Taib:
- T. Alias Taib lahir pada tanggal 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, Malaysia. Ia mulai menulis puisi dan cerpen pada tahun 1960.
- T. Alias Taib meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kuala Lumpur, Malaysia.
