Puisi: Pelabuhan (Karya Hijaz Yamani)

Puisi "Pelabuhan" karya Hijaz Yamani bercerita tentang seseorang yang datang ke pelabuhan di ujung kota kelahirannya. Kedatangan itu membawa ...
Pelabuhan

Di ujung kota lahir yang gerimis
sepinya kapal berlabuh
Tapi betul engkau itu yang kukenal
dalam jukung merangkul pengayuh

Hei! Inilah aku yang datang
bersama anugerah dari sebelah laut selatan
buat kotaku yang berangkat tua
buat kerabatku yang dibesarkan ibu angkatnya

Di ujung kota lahir pelabuhan penghabisan
engkau ketuki hatiku beku dingin
Ketika kujelajah pinggir kota bendul dan luka
berjalan, berjalan estafet sarana tanah kita

1970

Sumber: Horison (April, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi "Pelabuhan" karya Hijaz Yamani menghadirkan ruang perjumpaan antara ingatan, kota asal, dan perjalanan batin penyair. Pelabuhan dalam puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat kapal berlabuh, melainkan menjadi simbol batas—antara datang dan pergi, antara masa lalu dan masa kini, serta antara harapan dan luka yang dibawa oleh perjalanan hidup.

Dengan bahasa yang ekonomis namun sugestif, puisi ini menyimpan banyak lapisan makna tentang asal-usul, kerinduan, dan relasi emosional antara penyair dengan kota yang membesarkannya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kepulangan, identitas, dan relasi emosional dengan kota asal. Selain itu, puisi ini juga memuat tema perjalanan, keterasingan, dan usaha berdamai dengan sejarah pribadi maupun kolektif.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang datang ke pelabuhan di ujung kota kelahirannya. Kedatangan itu membawa “anugerah dari sebelah laut selatan”, seolah hasil perjalanan panjang yang kini dipersembahkan kembali kepada kota dan kerabatnya. Dalam perjalanannya menyusuri pinggir kota, penyair berhadapan dengan kenangan, luka, dan rasa beku yang mengetuk hatinya.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa pelabuhan adalah simbol titik akhir sekaligus titik mula. Kepulangan tidak selalu membawa kehangatan; ia justru dapat menghadirkan jarak emosional, dingin, dan kesadaran akan perubahan. Kota digambarkan “berangkat tua”, menyiratkan waktu yang telah berjalan tanpa bisa ditahan, sementara penyair datang sebagai seseorang yang telah berubah oleh pengalaman.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sendu dan reflektif. Gerimis, sepinya kapal, dan hati yang “beku dingin” membangun atmosfer melankolis, seolah kepulangan ini tidak sepenuhnya disambut dengan kegembiraan, melainkan dengan perenungan dan keheningan batin.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menyadari bahwa pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal, melainkan juga menghadapi perubahan, luka, dan kenyataan yang mungkin tidak lagi sama. Puisi ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup selalu meninggalkan jejak, baik pada diri manusia maupun pada ruang yang pernah ia sebut rumah.

Puisi "Pelabuhan" adalah puisi yang memadukan ruang geografis dan ruang batin. Hijaz Yamani berhasil menjadikan pelabuhan sebagai simbol refleksi diri, tempat di mana perjalanan hidup, kenangan, dan identitas saling bertaut dalam suasana yang tenang namun sarat makna.

Hijaz Yamani
Puisi: Pelabuhan
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.