Puisi: Pemetik Bunga (Karya Fitri Yani)

Puisi “Pemetik Bunga” karya Fitri Yani menunjukkan bahwa hubungan manusia, seerat apa pun, tetap rapuh ketika kepercayaan dilanggar. Namun ...
Pemetik Bunga

ka, kebersamaan kita menjelma cermin yang retak. aku tak lagi melihat sesuatu yang utuh di wajahmu. berulangkali aku berusaha meletakkan tanganku di situ, berulangkali pula tanganku berdarah. sementara kau kian mengabur dari pandanganku. aku membayangkan matamu sembab. mengutuki peristiwa yang barangkali tak kau kehendaki. di sinilah mestinya kau mengerti, apa yang layak dan patut disimpan. seperti rajutan kain yang memiliki jalinannya sendiri, sedikit saja kita salah memintalnya maka hancurlah.

ka, apa yang bisa kuterjemahkan dari perpisahan yang seharusnya tak pernah ada. bukankah kita sama-sama merekam setiap upacara dan ritual menjelang kita dewasa. bahkan sebagian dari diriku aku ikhlaskan untuk melengkapimu. sungguh aku tak mampu menjawabnya. kata-kataku tiba-tiba saja membeku. dan aku merasa ingin muntah. 

kita lahir di rumah yang sama meski dari rahim yang berbeda. aku gemar sekali melihatmu menari, sementara kau kecanduan larik-larik puisiku. senja terkadang merona di pipimu setiap kali kukatakan aku jatuh cinta pada kekasihku. aku juga masih ingat beberapa mimpimu yang kau simpan di sebuah kotak hijau, tahukah kau, kotak itu masih terpajang di antara rak buku yang tak beraturan. 

akulah yang selalu mendengar makian-makianmu terhadap ketidakadilan, membelai rambutmu yang makin panjang itu. ah, hujan memang sering sekali turun di matamu tanpa mengenal musim. aku hafal air matamu bahkan rasanya yang sedikit tawar. remah-remah hidupmu bertaburan bagai bunga kamboja di tanah makam. aku pun mencatat siapa saja yang meninggalkan tanda di tubuhmu, namun mengapa kau sembunyi dan diam-diam mencuri mata kekasihku. sehingga ia kepayahan menemukan jalan pulang.

ka, mengapa begini sulit memaafkanmu. malam ini aku terjaga hingga pagi, entah apa yang mencuri rasa kantukku. aku lelah menangis, paru-paruku menyempit. kau tahu, bukan hanya kehilangan yang paling kutakutkan, tapi juga suara-suara yang tak henti membaca mantra di kepalaku, yang menghisap sel-sel darahku. aku terus mengusirnya tapi suara-suara itu teramat kuat. aku kalah.

aku tak bisa membelokkan cerita ini, sebab peristiwa selalu dibatasi waktu. kini hiburlah dirimu dengan kebaikan-kebaikan. bunga yang kau tanam di kebun yang tak seharusnya kau masuki telah mati dengan sendirinya, namun entah mengapa bunga itu tumbuh kian rimbun di ingatanku. 

aku pergi dengan kereta malam yang penuh kekecewaan. mengunjungi seorang teman yang matanya seteduh subuh. bulan akan basah karena rindu, namun awan-awan selalu pandai menutupinya, bukan. begitu pula dengan padi-padi di sawah yang menguning, tentu pandai merunduk dengan sendirinya.

Juli, 2011

Sumber: Jurnal Nasional (20 Mei 2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Pemetik Bunga” karya Fitri Yani menghadirkan kisah perpisahan emosional antara dua sosok yang memiliki ikatan sangat dekat—bahkan lebih dari sekadar persahabatan. Melalui metafora bunga, rumah, dan kenangan masa kecil, penyair membangun narasi batin tentang pengkhianatan, kehilangan, dan kesulitan memaafkan. Puisi ini bergerak dari kenangan ke luka, dari kebersamaan menuju keterputusan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengkhianatan dalam hubungan keluarga atau persaudaraan yang sangat dekat serta luka batin akibat perpecahan.

Kedua tokoh digambarkan “lahir di rumah yang sama meski dari rahim yang berbeda”, yang mengisyaratkan relasi saudara (mungkin saudara tiri atau saudara batin). Kedekatan masa lalu kontras dengan konflik masa kini, sehingga tema lain yang menyertai adalah:
  • Retaknya kepercayaan.
  • Kehilangan orang terdekat.
  • Kenangan yang tak bisa dihapus.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terluka karena pengkhianatan sosok “ka” (kakak/perempuan dekat) yang diam-diam menjalin hubungan dengan kekasihnya.

Relasi mereka dulunya sangat intim: berbagi rumah, mimpi, masa remaja, bahkan saling melengkapi diri. Namun semuanya retak ketika “ka” mencuri cinta sang penyair. Akibatnya, penyair mengalami konflik batin mendalam: marah, sedih, jijik, sekaligus rindu pada masa lalu.

Pada akhirnya, penyair memilih pergi (“kereta malam”) membawa kekecewaan, tetapi kenangan terhadap “bunga” (relasi mereka) tetap tumbuh di ingatan.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat yang dapat dibaca dari puisi ini:
  • Pengkhianatan paling menyakitkan datang dari orang terdekat. Luka terasa dalam karena pelakunya bukan orang asing, melainkan sosok yang pernah menjadi bagian diri (“sebagian dari diriku aku ikhlaskan untuk melengkapimu”).
  • Relasi manusia rapuh seperti rajutan. Metafora rajutan kain menunjukkan hubungan yang indah tetapi mudah hancur bila satu simpul salah.
  • Kenangan tidak mati meski hubungan berakhir. Bunga yang mati di dunia nyata tetap “tumbuh kian rimbun di ingatan”, menandakan memori emosional yang abadi.
  • Kesulitan memaafkan diri dan orang lain. Konflik batin penyair (“mengapa begini sulit memaafkanmu”) menunjukkan bahwa pengampunan bukan proses mudah, terutama dalam pengkhianatan intim.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi didominasi oleh:
  • Pilu dan sedih mendalam.
  • Getir dan pahit.
  • Nostalgia terhadap masa lalu.
  • Kekecewaan dan kelelahan emosional.
Perpindahan suasana dari kenangan hangat menuju luka memperkuat efek tragedi personal dalam puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap antara lain:
  • Hubungan yang paling dekat sekalipun bisa retak jika kepercayaan dilanggar.
  • Manusia perlu berhati-hati menjaga batas dalam relasi.
  • Kenangan indah tidak selalu hilang meski hubungan berakhir.
  • Memaafkan adalah proses panjang dan menyakitkan.
Puisi “Pemetik Bunga” karya Fitri Yani merupakan puisi naratif-liris tentang retaknya hubungan persaudaraan akibat pengkhianatan cinta. Melalui simbol bunga, rumah, dan perjalanan malam, penyair menggambarkan luka emosional yang dalam sekaligus kenangan yang tak pernah benar-benar mati.

Puisi ini menunjukkan bahwa hubungan manusia, seerat apa pun, tetap rapuh ketika kepercayaan dilanggar. Namun sekaligus, ia menegaskan bahwa kenangan tentang cinta dan kebersamaan akan terus hidup dalam ingatan—seperti bunga yang tetap tumbuh meski telah lama gugur di kenyataan.

Fitri Yani
Puisi: Pemetik Bunga
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.