Sumber: Jurnal Nasional (20 Mei 2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Pemetik Bunga” karya Fitri Yani menghadirkan kisah perpisahan emosional antara dua sosok yang memiliki ikatan sangat dekat—bahkan lebih dari sekadar persahabatan. Melalui metafora bunga, rumah, dan kenangan masa kecil, penyair membangun narasi batin tentang pengkhianatan, kehilangan, dan kesulitan memaafkan. Puisi ini bergerak dari kenangan ke luka, dari kebersamaan menuju keterputusan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengkhianatan dalam hubungan keluarga atau persaudaraan yang sangat dekat serta luka batin akibat perpecahan.
Kedua tokoh digambarkan “lahir di rumah yang sama meski dari rahim yang berbeda”, yang mengisyaratkan relasi saudara (mungkin saudara tiri atau saudara batin). Kedekatan masa lalu kontras dengan konflik masa kini, sehingga tema lain yang menyertai adalah:
- Retaknya kepercayaan.
- Kehilangan orang terdekat.
- Kenangan yang tak bisa dihapus.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terluka karena pengkhianatan sosok “ka” (kakak/perempuan dekat) yang diam-diam menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Relasi mereka dulunya sangat intim: berbagi rumah, mimpi, masa remaja, bahkan saling melengkapi diri. Namun semuanya retak ketika “ka” mencuri cinta sang penyair. Akibatnya, penyair mengalami konflik batin mendalam: marah, sedih, jijik, sekaligus rindu pada masa lalu.
Pada akhirnya, penyair memilih pergi (“kereta malam”) membawa kekecewaan, tetapi kenangan terhadap “bunga” (relasi mereka) tetap tumbuh di ingatan.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat yang dapat dibaca dari puisi ini:
- Pengkhianatan paling menyakitkan datang dari orang terdekat. Luka terasa dalam karena pelakunya bukan orang asing, melainkan sosok yang pernah menjadi bagian diri (“sebagian dari diriku aku ikhlaskan untuk melengkapimu”).
- Relasi manusia rapuh seperti rajutan. Metafora rajutan kain menunjukkan hubungan yang indah tetapi mudah hancur bila satu simpul salah.
- Kenangan tidak mati meski hubungan berakhir. Bunga yang mati di dunia nyata tetap “tumbuh kian rimbun di ingatan”, menandakan memori emosional yang abadi.
- Kesulitan memaafkan diri dan orang lain. Konflik batin penyair (“mengapa begini sulit memaafkanmu”) menunjukkan bahwa pengampunan bukan proses mudah, terutama dalam pengkhianatan intim.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi didominasi oleh:
- Pilu dan sedih mendalam.
- Getir dan pahit.
- Nostalgia terhadap masa lalu.
- Kekecewaan dan kelelahan emosional.
Perpindahan suasana dari kenangan hangat menuju luka memperkuat efek tragedi personal dalam puisi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap antara lain:
- Hubungan yang paling dekat sekalipun bisa retak jika kepercayaan dilanggar.
- Manusia perlu berhati-hati menjaga batas dalam relasi.
- Kenangan indah tidak selalu hilang meski hubungan berakhir.
- Memaafkan adalah proses panjang dan menyakitkan.
Puisi “Pemetik Bunga” karya Fitri Yani merupakan puisi naratif-liris tentang retaknya hubungan persaudaraan akibat pengkhianatan cinta. Melalui simbol bunga, rumah, dan perjalanan malam, penyair menggambarkan luka emosional yang dalam sekaligus kenangan yang tak pernah benar-benar mati.
Puisi ini menunjukkan bahwa hubungan manusia, seerat apa pun, tetap rapuh ketika kepercayaan dilanggar. Namun sekaligus, ia menegaskan bahwa kenangan tentang cinta dan kebersamaan akan terus hidup dalam ingatan—seperti bunga yang tetap tumbuh meski telah lama gugur di kenyataan.
Karya: Fitri Yani
Biodata Fitri Yani:
- Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
