Puisi: Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram” bercerita tentang para abdi atau pengikut tahta Mataram yang hidup dalam sikap tunduk dan takzim, ...
Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram

Dengan surjan biru tua, bersila
luluh merawat takzim
sembah sejiwa
seperti belum ingin, Mataram
terkunci sebagai petilasan. Dan paseban
seterusnya angan-angan

Kenapa menyimpang, mengarang
benteng gerbang penjara mati
tombak almanak luntur dalam almari
hingga percaya dongeng, buah kisah pembarang
rendah lelah abdi
bungkuk sepenuh hati
diikat sejengkal tanah magersari

Bagaimana menjawab, sebelum dekat
seperti api dengan asap
seperti cacat dengan sebab?
Sungguh! Hari demi hari mereka ukur
mujur sekecil apa
hanya terkail selama jauh tidur
seumpama tikar saat digelar
dan istana sekadar altar

Sengaja mereka bertapa
di balik surjan biru tua. Seperti huruf Jawa
tak lagi dibaca; tapi berbunyi
sebagai legenda. Serupa catatan kaki
denyut nadi sendiri
rusuk tempat jantung terdengar ada
alamat kita bernaung, berlindung
pada sebuah peta

1993

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram” menghadirkan refleksi historis dan kultural tentang para abdi kerajaan Jawa yang hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu. Dengan simbol-simbol tradisi seperti surjan, paseban, dan huruf Jawa, penyair menyoroti kesetiaan, keterikatan, sekaligus stagnasi mental para pengabdi yang tetap memuja tahta Mataram meskipun zaman telah berubah.

Tema

Tema puisi ini adalah kesetiaan tradisional terhadap kekuasaan feodal dan keterikatan pada warisan budaya Mataram. Di dalamnya juga terdapat tema identitas budaya, sejarah Jawa, dan kesadaran akan perubahan zaman.

Puisi ini bercerita tentang para abdi atau pengikut tahta Mataram yang hidup dalam sikap tunduk dan takzim, mengenakan surjan biru tua sebagai simbol tradisi. Mereka terus merawat penghormatan kepada Mataram yang telah menjadi petilasan sejarah, seakan-akan kejayaan itu masih hidup dalam batin mereka.

Namun, kehidupan mereka tampak sempit: terikat tanah magersari, membungkuk setia, dan hanya berharap mujur kecil. Mereka bertapa dalam bayang-bayang masa lalu, seperti huruf Jawa yang tak lagi dibaca, tetapi masih dianggap sakral sebagai legenda.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik halus terhadap mentalitas feodal dan romantisasi masa lalu yang membuat manusia terjebak dalam simbol dan nostalgia sejarah.

Penyair seakan mempertanyakan: apakah kesetiaan pada tradisi dan kekuasaan lama masih relevan jika hanya menjadikan manusia pasif dan terbelenggu? Mataram dalam puisi bukan sekadar kerajaan, tetapi lambang sistem nilai lama yang terus dipuja meski kehilangan fungsi nyata.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa hening, kontemplatif, sekaligus ironis. Ada rasa hormat pada tradisi, tetapi juga kesedihan karena kehidupan para abdi tampak statis dan terkurung masa lalu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa pesan yang dapat ditarik:
  • Tradisi perlu dihargai, tetapi tidak boleh membelenggu kehidupan.
  • Kesetiaan tanpa kesadaran kritis dapat menjadi bentuk keterikatan yang stagnan.
  • Masa lalu budaya harus dimaknai ulang agar tetap hidup dan relevan.
  • Identitas tidak seharusnya hanya bergantung pada kejayaan sejarah.
Puisi “Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram” menggambarkan potret para abdi yang hidup dalam kesetiaan mendalam terhadap warisan feodal Jawa. Melalui simbol budaya yang kuat, Iman Budhi Santosa menyampaikan refleksi kritis tentang hubungan manusia dengan sejarah dan tradisi. Puisi ini menegaskan bahwa penghormatan pada masa lalu perlu disertai kesadaran baru agar identitas budaya tidak berubah menjadi belenggu.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Pengabdi-Pengabdi Tahta Mataram
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.