Puisi: Pengembaraan (Karya Alizar Tanjung)

Puisi “Pengembaraan” karya Alizar Tanjung bercerita tentang perjalanan pengembaraan batin seseorang yang mencoba menemukan “manusia” di balik tubuh ..
Pengembaraan

setelah pengembaraan itu kepada tubuh, yang aku temukan
daging, tulang, darah: di manakah manusia? yang terbentuk
dari nama.

berdetik, bermenit, berjam, bertahun, beratus, bermiliaran
tahun aku tanyakan manusia: yang aku temukan daging,
tulang, darah.

lalu aku menemukan entah: bertanya kepada daging, tulang,
darah, di mana manusia? aku tunjuk daging, ini daging.
aku tunjuk tulang, ini tulang. aku tunjuk darah, ini darah.

di manakah manusia?

Padang, 2011

Analisis Puisi:

Puisi “Pengembaraan” karya Alizar Tanjung menghadirkan refleksi filosofis tentang pencarian identitas manusia. Dengan bahasa yang lugas namun penuh pertanyaan eksistensial, penyair menyoroti kontras antara tubuh fisik manusia—daging, tulang, darah—dan hakikat manusia itu sendiri, yang tak bisa direduksi menjadi sekadar materi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri manusia dan pertanyaan tentang esensi kemanusiaan. Puisi ini menekankan bahwa manusia bukan sekadar tubuh atau komponen fisik, tetapi sesuatu yang lebih dalam dan abstrak, yang kadang sulit ditemukan dalam kenyataan sehari-hari.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan pengembaraan batin seseorang yang mencoba menemukan “manusia” di balik tubuh fisik. Dalam prosesnya, ia melihat daging, tulang, dan darah, namun tetap merasa kosong karena hakikat manusia—kesadaran, jiwa, atau nama—tidak tampak secara fisik. Pengembaraan ini menjadi perenungan panjang tentang arti keberadaan manusia.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap cara manusia seringkali hanya dipandang dari fisiknya, sementara esensi moral, spiritual, atau identitasnya terabaikan. Pertanyaan yang terus diulang “di manakah manusia?” menunjukkan kekosongan dan kebingungan eksistensial, sekaligus menegaskan bahwa kemanusiaan tidak bisa diukur dari bentuk tubuh saja.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa serius, kontemplatif, dan sedikit gelisah. Ada rasa ketidakpuasan dan kegelisahan batin karena jawaban yang dicari tidak ditemukan dalam daging, tulang, atau darah, melainkan berada pada sesuatu yang lebih abstrak: identitas, kesadaran, atau hakikat manusia itu sendiri.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi, pada pengulangan kata “di manakah manusia?” untuk menegaskan kebingungan dan pencarian eksistensial.
  • Metafora, tubuh manusia (daging, tulang, darah) digunakan sebagai simbol yang mewakili wujud fisik, namun tidak memuat esensi kemanusiaan.
  • Hipérbola, pada pengulangan rentang waktu “berdetik, bermenit, berjam, bertahun, beratus, bermiliaran tahun” untuk menekankan pencarian yang tiada akhir dan intensitas refleksi batin.
Puisi “Pengembaraan” menantang pembaca untuk merenungkan kemanusiaan di luar bentuk fisik. Alizar Tanjung mengajak kita mempertanyakan: apakah manusia hanya tubuh semata, ataukah ada esensi yang lebih dalam yang membentuk identitas sejati kita? Puisi ini adalah perjalanan batin yang membuka ruang refleksi eksistensial bagi setiap pembacanya.

Alizar Tanjung
Puisi: Pengembaraan
Karya: Alizar Tanjung

Biodata Alizar Tanjung:
  • Alizar Tanjung lahir pada tanggal 10 April 1987 di Solok.
© Sepenuhnya. All rights reserved.