Permainan
malam itu, sepimu
sepiku jadi
api
malam ini, apiku
apimu jadi
bayi
(potret di rak buku
mengutuk kau aku)
1973
Sumber: Horison (Februari, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Permainan" karya Soekoso DM tampil sangat singkat, namun menyimpan kepadatan makna dan emosi. Dengan larik-larik pendek dan pilihan diksi yang sederhana, puisi ini memperlihatkan dinamika relasi dua subjek yang saling berhadapan, saling memengaruhi, sekaligus saling mengutuk dalam kesunyian malam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah relasi emosional yang berubah-ubah antara dua individu, terutama permainan perasaan antara kesepian, hasrat, dan kenangan. Puisi ini juga menyentuh tema transformasi emosi: dari api menjadi bayi, dari panas menjadi rapuh.
Puisi ini bercerita tentang dua malam yang berbeda, dua keadaan batin yang saling berkelindan antara “aku” dan “kau”. Pada malam pertama, kesepian masing-masing melebur menjadi api. Pada malam berikutnya, api tersebut berubah menjadi bayi, simbol sesuatu yang baru, rapuh, dan membutuhkan perhatian. Namun pada akhirnya, potret di rak buku menghadirkan ingatan yang justru “mengutuk” kedua tokoh.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa hubungan yang berangkat dari kesepian dan gairah bisa melahirkan sesuatu yang tidak selalu membawa kebahagiaan. Api yang berubah menjadi bayi menyiratkan konsekuensi dari permainan perasaan, sementara potret yang mengutuk menandakan bahwa masa lalu dan kenangan tidak pernah sepenuhnya netral.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana dalam puisi yang intim, sunyi, dan ambigu. Ada kehangatan sekaligus kecemasan, kedekatan yang dibayangi rasa bersalah dan penyesalan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai peringatan akan konsekuensi dari relasi yang dijalani tanpa kesadaran penuh. Permainan perasaan, betapapun tampak sederhana, dapat meninggalkan jejak yang mengikat dan menghantui.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Paralelisme, pada struktur larik “sepimu / sepiku” dan “apiku / apimu”.
- Personifikasi, ketika potret digambarkan mampu “mengutuk”.
Puisi "Permainan" menunjukkan kemampuan Soekoso DM dalam meramu puisi minimalis yang sarat makna. Melalui permainan diksi yang hemat dan simbol yang tajam, puisi ini menghadirkan refleksi tentang relasi, kesepian, dan konsekuensi emosional yang kerap luput disadari.
Karya: Soekoso DM
Biodata Soekoso DM:
- Soekoso DM, lahir di Purworejo, 17 Juli 1949.
