Pipit
pipit-kaji, pipit-peking
prit prit prit prit bunyimu nyaring
lagumu merdu merindu padi menguning
tapi di sawah aku betah menunggu padi ngemping
begitu kalian neba berkawan
kuhalau dengan orang-orangan
pipit-peking berbulu coklat
leher putih paruh hitam mengkilat
beribu-ribu sebesar jari
mencuri padi takkunjung henti
pipit-kaji kepala putih
bulu abu-abu paruh pipih
meski taktampak banyak
karna kau padiku bisa rusak
pipit-kaji, pipit-peking
sarangmu di reranting
ketahuan bocah dijuing-juing
kedapatan telurmu buat mainan
kedapatan piyikmu masuk kurungan
kau kan sedih berkepanjangan
Sumber: Horison (November, 1971)
Catatan:
- Neba = hinggap di sawah bersama-sama
- Dijuing-juing = dihancur-lumatkan
- Piyik = anak burung
Analisis Puisi:
Puisi “Pipit” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menampilkan gambaran sederhana kehidupan pedesaan dengan tokoh utama burung pipit dan sawah. Melalui bahasa yang ringan, repetitif, dan bernuansa liris, puisi ini menyimpan persoalan yang lebih dalam: relasi manusia dengan alam, kekuasaan atas yang lemah, serta penderitaan makhluk hidup yang kerap dianggap sepele. Puisi ini tampak seperti nyanyian anak-anak, tetapi menyimpan kepedihan yang sunyi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah konflik antara manusia dan alam, khususnya nasib makhluk kecil yang terpinggirkan oleh kepentingan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kekerasan yang dinormalisasi, ketimpangan kuasa, dan hilangnya empati terhadap kehidupan lain.
Puisi ini bercerita tentang burung pipit—pipit-kaji dan pipit-peking—yang datang neba, yakni hinggap bersama-sama di sawah yang padi mulai menguning. Kehadiran burung-burung ini dianggap sebagai hama oleh manusia, sehingga dihalau dengan orang-orangan sawah.
Penyair kemudian menggambarkan ciri fisik kedua jenis pipit tersebut, sekaligus menekankan jumlah mereka yang banyak dan aktivitas “mencuri padi”. Namun cerita tidak berhenti pada konflik di sawah. Puisi bergerak lebih jauh, memperlihatkan sarang pipit yang dihancurkan bocah-bocah (dijuing-juing), telur yang dijadikan mainan, dan piyik yang dikurung—menghadirkan penderitaan yang berlapis dan berkepanjangan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap cara pandang manusia yang memusatkan kebenaran pada kepentingannya sendiri. Burung pipit dilabeli sebagai perusak dan pencuri, padahal mereka hanya bertahan hidup sebagaimana manusia.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kekerasan terhadap makhluk lemah sering dianggap wajar, bahkan dilakukan dengan ringan dan tanpa rasa bersalah. Kesedihan pipit yang “berkepanjangan” menjadi cermin kepedihan yang jarang disadari oleh pelaku kekuasaan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini pada awalnya terasa ceria dan akrab, dengan bunyi-bunyian burung dan irama pengulangan kata. Namun perlahan suasana berubah menjadi sendu dan getir, terutama ketika digambarkan penghancuran sarang, telur, dan penangkapan piyik. Peralihan suasana ini berlangsung halus, tetapi meninggalkan kesan emosional yang kuat.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat agar manusia lebih berempati terhadap makhluk hidup lain dan tidak menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang. Kehidupan, sekecil apa pun, memiliki hak untuk tumbuh dan bertahan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa tindakan yang dianggap biasa dapat meninggalkan luka yang panjang bagi pihak yang lemah.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji auditif dan visual, antara lain:
- Bunyi “prit prit prit prit” yang menghadirkan suara nyaring burung pipit.
- Burung-burung kecil “sebesar jari” yang menciptakan kesan rapuh.
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca seolah menyaksikan langsung peristiwa di sawah dan pepohonan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Onomatope, pada bunyi “prit prit prit prit” untuk menirukan suara burung.
- Personifikasi, dalam ungkapan kesedihan pipit yang “berkepanjangan”.
Puisi “Pipit” karya Piek Ardijanto Soeprijadi adalah puisi yang sederhana di permukaan, namun menyimpan kritik kemanusiaan yang tajam. Melalui kisah burung pipit dan sawah, puisi ini berbicara tentang empati, kekuasaan, dan penderitaan yang kerap diabaikan. Ia mengingatkan bahwa di balik padi yang menguning dan panen yang ditunggu, ada kehidupan lain yang turut menanggung luka.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.