Puisi: Pujangga Anak Peladang (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Pujangga Anak Peladang” menggambarkan manusia peladang sebagai sosok yang hidup dalam keselarasan dengan alam, musim, dan suara kehidupan ...
Pujangga Anak Peladang

Suara-suara yang menebar di gunung-gunung
begitu menjelujuri suasana yang syahdu
dan merindui kegairahan hidup – pada diri-diri
sebab rahasia alam terpantul di dada yang terkaca lena

kita sama-sama di satu daerah yang terpancang panorama
yang sama-sama mendaki dan menurun
yang sama-sama dilecut deru di bukit-bukit sendu
ooo, betapa dalam di sini mempertaruh hidup

kalau musim-musim dikantongi dalam diri
hidup ini penuh kenangan indah di hari-hari sepi
seperti telanjang dari noda yang menyiksa
sebab di sini jiwa-jiwa diwajahi bening

dan di hatinya masih bersuara murni
menebar nadanya di gunung-gunung
mengusapi wajah anak gembala

Suara-suara yang menebar di gunung-gunung
begitu menjelujuri suasana yang syahdu
dan merindui kegairahan hidup – pada diri-diri
sebab rahasia alam terpantul di dada yang terkaca lena

ooo, begitu bening musim ini
begitu matahati mengandung unsur-unsur dunia dan manusia

Banjarmasin, 6 Oktober 1966

Sumber: Malam Hujan (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Pujangga Anak Peladang” menghadirkan suasana pedalaman yang lekat dengan alam, kehidupan sederhana, dan kedalaman batin manusia yang hidup dekat dengan tanah serta musim. Hijaz Yamani menampilkan suara kolektif masyarakat peladang sekaligus kesadaran puitik yang lahir dari pengalaman hidup agraris. Puisi ini menggabungkan lanskap alam, spiritualitas, dan identitas manusia desa dalam satu kesatuan reflektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan manusia peladang yang menyatu dengan alam serta kemurnian batin yang lahir dari kedekatan dengan lingkungan pedesaan. Selain itu, puisi juga menyinggung tema kesadaran puitik (kepenyairan) yang tumbuh dari pengalaman hidup sederhana.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan orang-orang peladang di daerah pegunungan yang menjalani hidup selaras dengan musim, tanah, dan suara alam. Penyair menggambarkan bagaimana kehidupan mereka penuh perjuangan (“mempertaruh hidup”), tetapi sekaligus menghadirkan ketenangan batin, kenangan indah, dan kejernihan jiwa.

Tokoh “anak gembala” dan masyarakat peladang menjadi simbol manusia desa yang jiwanya masih murni, jauh dari kerumitan dunia modern.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kemurnian jiwa dan kebijaksanaan hidup justru lahir dari kehidupan yang dekat dengan alam dan kerja keras tanah, bukan dari kehidupan kota yang modern.

Puisi juga menyiratkan bahwa kepenyairan sejati berasal dari pengalaman hidup yang autentik, bukan semata pendidikan atau budaya kota. Alam menjadi “guru” yang membentuk kesadaran batin manusia peladang.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi didominasi hening, syahdu, dan kontemplatif. Ada nuansa damai pedesaan sekaligus kekhidmatan spiritual yang muncul dari kedekatan manusia dengan alam pegunungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap antara lain:
  • Manusia sebaiknya menjaga kedekatan dengan alam sebagai sumber kejernihan jiwa.
  • Kehidupan sederhana tidak berarti miskin makna; justru di sanalah kebijaksanaan hidup tumbuh.
  • Pengalaman hidup nyata lebih berharga daripada kemegahan dunia modern.
Puisi “Pujangga Anak Peladang” menggambarkan manusia peladang sebagai sosok yang hidup dalam keselarasan dengan alam, musim, dan suara kehidupan pedesaan. Dari kehidupan sederhana itu lahir kejernihan jiwa, kenangan indah, dan kesadaran puitik yang mendalam. Hijaz Yamani menegaskan bahwa alam bukan sekadar latar hidup, melainkan sumber kebijaksanaan dan kemurnian batin manusia.

Hijaz Yamani
Puisi: Pujangga Anak Peladang
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.