Puisi: Ruang Tunggu (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany bercerita tentang pengalaman menunggu sesuatu yang tak pasti, yang meliputi kehidupan dan kematian.
Ruang Tunggu

ada yang kita tunggu. bangkai-bangkai dan
sampah yang mengalir di sungai. antarkan
sampai kelok arus dan batu karang. laut
teramat luas buat segala.

ada yang kita tunggu. kesementaraan
dan isyarat-isyarat rahasia: ajal
yang manis dan renta

kau pemancing, lepaskan ikan
tangkapanmu!

1993

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany adalah karya yang reflektif dan filosofis, menghadirkan pengalaman batin manusia dalam menghadapi kehidupan, kematian, dan arus waktu. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair menekankan ketidakpastian hidup, pertemuan dengan takdir, dan kesementaraan segala sesuatu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakpastian hidup, kesementaraan, dan keterhubungan manusia dengan alam dan kematian. Puisi ini juga menyinggung tema penerimaan atas arus waktu dan nasib, serta kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari keseluruhan alam semesta yang luas.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman menunggu sesuatu yang tak pasti, yang meliputi kehidupan dan kematian. Dalam bait pertama, pembaca diperkenalkan pada arus sungai yang membawa “bangkai-bangkai dan sampah,” simbol dari peristiwa, kehilangan, dan hal-hal yang harus dilepaskan. Laut yang “teramat luas” menjadi metafora bagi keseluruhan eksistensi, tempat segala sesuatu diterima dan berlangsung.

Bait kedua menekankan kesementaraan dan isyarat-isyarat rahasia, termasuk kematian yang digambarkan sebagai “ajal yang manis dan renta.” Puisi diakhiri dengan metafora “kau pemancing, lepaskan ikan tangkapanmu,” mengajak pembaca untuk melepaskan, menerima, dan berdamai dengan proses hidup yang terus bergerak.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah penerimaan terhadap kefanaan, ketidakpastian, dan arus kehidupan yang tidak bisa dikendalikan manusia. Arus sungai dan laut yang luas menjadi simbol bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari siklus yang lebih besar, dan segala sesuatu, termasuk kesedihan, kehilangan, dan kematian, harus dilepaskan.

Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang kepasrahan dan penerimaan sebagai bentuk kebijaksanaan, bahwa manusia tidak selalu dapat menahan atau mengubah alur kehidupan, melainkan harus mampu melepaskan dan membiarkan waktu dan alam bekerja sesuai hukum alamnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini tenang, kontemplatif, dan sedikit melankolis, dengan nuansa reflektif yang menekankan kesabaran dan kepasrahan. Imaji arus sungai dan laut yang luas menghadirkan kesan damai sekaligus penuh kekuatan alam yang tak terduga, seolah mengingatkan pembaca tentang ketidakberdayaan manusia terhadap waktu dan kematian.

Puisi “Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany adalah puisi kontemplatif yang menekankan kesementaraan hidup, ketidakpastian, dan kepasrahan manusia terhadap arus waktu dan kematian. Dengan bahasa simbolik dan imaji yang kaya, puisi ini mengajak pembaca merenungkan posisi manusia dalam alam semesta, serta pentingnya melepaskan, menerima, dan berdamai dengan perjalanan hidup yang terus bergerak.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Ruang Tunggu
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.