Puisi: Ruh (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi "Ruh" karya Abdul Hadi WM bercerita tentang ruh yang meratap dan mengembara dalam dunia yang digambarkan penuh api, kehancuran, dan keinginan.
Ruh

Ruh meratap dan bersedih, sayang
menggetar dalam permainan api
mahadahsyat ini
Ruh tiada tidur, mengembara dengan sayapnya
kudus dan putih

Hutan-hutan hangus terbakar
Ruh terbang dan minum arak
Dikoyak-koyak keinginan
Ruh meratap dan bersedih, sayang

Dan di bibir jasad yang bermimpi ini
Ruh mendahaga dan berlagu pedih

Dengan jasad
Ruh punya jarak waktu - memintas-mintas
Jam dinding yang biru.

1969

Sumber: Madura, Luang Prabhang (2006)

Analisis Puisi:

Puisi "Ruh" merupakan karya pendek yang padat simbol dan bernuansa sufistik. Abdul Hadi WM dikenal sebagai penyair yang banyak mengolah tema spiritualitas, tasawuf, dan relasi ruh–jasad dalam bahasa metaforis. Dalam puisi ini, “ruh” dipersonifikasikan sebagai entitas hidup yang meratap, mengembara, dan terpisah dari jasad dalam pengalaman eksistensial yang getir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan ruh dalam dunia jasad serta pergulatan spiritual manusia antara kesucian dan hasrat. Tema lain yang menyertai adalah kerinduan transendental, penderitaan batin, dan konflik antara dimensi rohani dan material.

Puisi ini bercerita tentang ruh yang meratap dan mengembara dalam dunia yang digambarkan penuh api, kehancuran, dan keinginan. Ruh digambarkan memiliki sayap kudus, tetapi juga “minum arak” dan “dikoyak keinginan”, menandakan pergulatan antara kemurnian dan godaan dunia.

Di bagian akhir, hubungan ruh dan jasad ditampilkan sebagai jarak waktu yang saling memintas—seolah ruh tidak sepenuhnya menyatu dengan tubuh manusia yang fana.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat yang dapat dibaca:
Keterpisahan ontologis ruh dan jasad. Ruh digambarkan memiliki dunia sendiri yang tidak sepenuhnya serasi dengan jasad (“Ruh punya jarak waktu”).
Dunia material sebagai api dan kehancuran. “Hutan-hutan hangus terbakar” melambangkan dunia yang rusak oleh nafsu dan hasrat.
Kerinduan spiritual yang tak terpuaskan. Ruh “mendahaga dan berlagu pedih” menunjukkan dahaga akan asal-usul ilahi.
Pergulatan sufi antara suci dan fana. Ruh yang kudus tetapi “minum arak” adalah simbol paradoks mistik: jiwa suci yang terjerat pengalaman dunia.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, kontemplatif, dan mistis, dengan nada ratapan spiritual dan kesepian eksistensial.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyiratkan bahwa manusia hidup dalam ketegangan antara ruh yang suci dan jasad yang terikat dunia. Kesadaran akan jarak ini menumbuhkan kerinduan pada sumber spiritual yang lebih tinggi.

Puisi "Ruh" karya Abdul Hadi WM merupakan refleksi sufistik tentang keterasingan jiwa dalam tubuh dan dunia material. Melalui bahasa simbolik yang padat, puisi ini menampilkan ruh sebagai entitas suci yang terluka oleh hasrat dan waktu. Ratapan ruh menjadi gambaran kerinduan manusia pada asal-usul spiritualnya—sebuah kesadaran bahwa keberadaan jasad di dunia hanyalah persinggahan sementara bagi jiwa.

Puisi: Ruh
Puisi: Ruh
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.