Puisi: Saksikanlah (Karya Leon Agusta)

Puisi "Saksikanlah" karya Leon Agusta bercerita tentang ajakan untuk melihat realitas setelah segala “runtuhan” terjadi—runtuhan kegelapan, ...
Saksikanlah

Di belakang runtuhan dinding-dinding kegelapan
runtuhan bait-bait yang rapuh
pandanglah musim bagimu:
Hamparan warna-warna yang hijau berangsur lenyap
Setelah kau baca setiap bait
Setelah malam nyenyak terpejam
Saksikanlah
Dalam kebisuan kata
Terapung bumi yang kian kecil
Dalam kepulan-kepulan prahara
Dalam debu-debu cinta yang musnah
Berkembangan payung-payung bianglala

April, 1970

Sumber: Horison (Desember, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi "Saksikanlah" karya Leon Agusta menghadirkan suasana kontemplatif yang kuat dengan bahasa simbolik dan imaji kosmik. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyaksikan perubahan, keruntuhan, dan keterasingan manusia di tengah dunia yang terus menyusut maknanya. Kata “saksikanlah” berfungsi sebagai seruan sekaligus perintah reflektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keruntuhan dan perubahan eksistensial, baik pada tataran personal maupun kosmik. Puisi ini menyoroti kehancuran makna, pudarnya harapan, dan kesadaran manusia terhadap dunia yang tidak lagi utuh.

Puisi ini bercerita tentang ajakan untuk melihat realitas setelah segala “runtuhan” terjadi—runtuhan kegelapan, runtuhan bait-bait, dan hilangnya warna hijau musim. Penyair seolah mengajak pembaca menyaksikan dunia dari jarak tertentu, saat kata-kata menjadi bisu dan bumi tampak semakin kecil di tengah prahara.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengandung kritik terhadap kondisi manusia dan peradaban yang kehilangan daya hidup dan cinta. Warna hijau yang lenyap dan debu-debu cinta yang musnah menyimbolkan kepunahan harapan, kesuburan, dan kasih. Bumi yang “kian kecil” menandakan keterasingan manusia dari alam dan nilai-nilai kemanusiaan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana dalam puisi yang hening, muram, dan reflektif. Kesunyian kata, kepulan prahara, serta gambaran bumi yang mengecil menciptakan atmosfer keprihatinan dan kontemplasi mendalam.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menyadari dan merenungkan kondisi dunia yang rapuh. Puisi ini seolah menegaskan pentingnya kesaksian batin: melihat, menyadari, dan tidak menutup mata terhadap kehancuran nilai, alam, dan cinta.

Puisi "Saksikanlah" merupakan puisi yang menuntut kesadaran pembaca untuk tidak sekadar membaca, tetapi benar-benar menyaksikan realitas yang ditampilkan. Leon Agusta menghadirkan bahasa puitik yang padat dan simbolik untuk menggugah kepekaan terhadap dunia yang sedang berada dalam krisis makna.

Leon Agusta
Puisi: Saksikanlah
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.