Sapiku
sapiku berpacu
di atas seratus bukit
melintas jembatan tulang belulang
di sungai hijau berhulu roh
sepikul lengkuas celah dikunyah
disorong tuak siwalan
sapiku bertanduk tombak
karena tembok langit harus dibongkar
agar angin dari dunia lain
mengalir ke mari
dan menggali pori-pori
sapiku bertapa di delta sungai
memamah biak buah maja
karena ia lahir
dari perih dan dahaga
sapiku berkaki pena
semua daun ingin ditulisnya
dengan tinta air mata
telah dicantumkannya bulan di langit
yang ia tempa dari darah ibunya
sapiku berpacu, hurraaaaa!
menyeretku ke hening bapa
Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Sapiku” karya D. Zawawi Imron menghadirkan sosok “sapi” yang jauh dari pengertian harfiah. Melalui bahasa metaforis yang padat dan imajinatif, penyair menjadikan sapi sebagai simbol perjalanan batin, pergulatan spiritual, dan proses penciptaan yang lahir dari penderitaan serta ketekunan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual dan penciptaan yang lahir dari penderitaan. Sapi tidak hanya dilukiskan sebagai hewan, tetapi sebagai representasi daya hidup, kesadaran, dan kerja batin yang terus bergerak menembus batas-batas duniawi.
Puisi ini bercerita tentang “sapiku” yang berpacu melintasi bukit, sungai, dan ruang-ruang simbolik yang sarat makna. Ia bertapa, memamah, menulis, dan akhirnya menyeret seseorang menuju “hening bapa”. Perjalanan tersebut bukan perjalanan fisik semata, melainkan perjalanan jiwa menuju asal-usul, kesunyian, dan sumber makna terdalam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada proses kelahiran kesadaran dan kreativitas yang ditempa oleh perih, dahaga, dan pengorbanan. “Sapiku berkaki pena” mengisyaratkan proses kepenyairan atau penciptaan yang digerakkan oleh luka, air mata, dan ingatan akan asal-usul (ibu dan bapa). Puisi ini juga menyiratkan usaha menembus batas langit—batas pengetahuan dan pengalaman—agar energi kehidupan dan makna baru dapat mengalir.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana yang magis, ritualistik, dan kontemplatif. Ada kegairahan dalam gerak “berpacu”, namun juga kesunyian dan kekhusyukan ketika puisi bergerak menuju “hening bapa”.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa pencarian makna dan penciptaan sejati menuntut ketekunan, pengorbanan, serta kesediaan menanggung perih dan dahaga. Dari penderitaan itulah lahir kesadaran, karya, dan kedekatan dengan sumber kehidupan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan tidak lazim, antara lain:
- imaji visual: “seratus bukit”, “jembatan tulang belulang”, “bulan di langit”,
- imaji rasa dan gerak: “berpacu”, “memamah”, “menyeret”,
- imaji spiritual: “sungai hijau berhulu roh”, “hening bapa”.
Imaji-imaji ini menciptakan dunia puisi yang padat simbol dan berlapis makna.
Majas
Puisi ini sarat dengan majas, di antaranya:
- Metafora, pada sosok “sapi” sebagai simbol kesadaran, daya hidup, atau proses penciptaan,
- Personifikasi, seperti “sapiku berkaki pena” dan “semua daun ingin ditulisnya”,
- Hiperbola, pada gambaran ekstrem seperti “melintas jembatan tulang belulang” dan “tembok langit harus dibongkar”.
Puisi "Sapiku" karya D. Zawawi Imron merupakan sajak simbolik yang menuntut pembacaan mendalam. Dengan bahasa yang intens dan imajinasi yang liar, puisi ini menghadirkan perjalanan batin yang mempertemukan penderitaan, penciptaan, dan pencarian makna hingga akhirnya bermuara pada kesunyian dan asal-usul keberadaan manusia.

Puisi: Sapiku
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.