Puisi: Sejak Semula (Karya Mahdi Idris)

Puisi “Sejak Semula” karya Mahdi Idris mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya menjaga alam dan menghargai sejarah kehidupan yang diwariskan ...
Sejak Semula

Sejak semula semua menerka batu-batu diperam asin laut. Seperti rentetan waktu yang mengeja bisu hingga batu-batu mendulang mimpi di sungai. Namun tak disangka batu-batu dimamah hantu rimba yang cukup tamak menanak hasrat ingin menggumul sungai menjadi payau. Hingga anak-anak kami tak berani berada di tepi sungai. Mereka takut, kelak sungai membawanya ke alam arwah. Tubuh-tubuh mereka diseret arus ke muara.

Sejak semula, aku takut cintaku lekang dari sungai ibu yang menyusuiku dengan air sungai nan jernih. Ikan-ikan landok tinggal seonggok dongeng yang dihikayatkan dari musim panen ke musim tanam.

Maka aku percaya, batu-batu di sungai kami  digerus zaman meninggalkan kerikil yang terbawa  arus ke muara. Bahkan sejak semula, aku percaya kata indatu kami tak lagi memiliki sungai.

Pondok Kates, 2016

Sumber: Radar Pagi (30 April 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Sejak Semula” karya Mahdi Idris menghadirkan narasi alam dan kehidupan sungai yang sarat makna simbolis. Melalui citraan alam dan imaji sosial, penyair membangun suasana yang melankolis, reflektif, dan penuh keprihatinan terhadap perubahan lingkungan dan warisan budaya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam, perubahan zaman, dan kehilangan warisan budaya. Sungai bukan hanya sebagai elemen fisik, tetapi menjadi simbol kehidupan, sejarah, dan sumber cinta yang menghidupi generasi. Puisi ini juga menyinggung tema ketakutan akan bencana dan keterasingan manusia dari alamnya sendiri.

Puisi ini bercerita tentang perubahan sungai dan dampaknya pada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Beberapa hal yang tergambar:
  • Batu-batu di sungai yang dimamah hantu rimba, simbol ancaman alam atau kehancuran yang mengintai kehidupan sungai.
  • Anak-anak yang takut berada di tepi sungai, menunjukkan hilangnya rasa aman dan keterhubungan generasi muda dengan alam.
  • Kenangan tentang sungai ibu yang jernih dan kaya ikan, menjadi simbol cinta, sumber kehidupan, dan masa lalu yang harmonis.
  • Kerikil yang terbawa arus ke muara, metafora tentang perubahan zaman yang meninggalkan sisa-sisa kehidupan lama.
Secara keseluruhan, puisi ini mengisahkan perjalanan waktu dan kehilangan yang terjadi pada lingkungan dan budaya lokal, sekaligus menunjukkan keterikatan emosional manusia dengan alam.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan dan hilangnya warisan budaya. Sungai yang dulunya hidup dan aman kini menjadi tempat yang menakutkan karena bencana atau perubahan alam. Penyair juga menyiratkan ketakutan pribadi terhadap kehilangan cinta dan identitas, diwakili oleh sungai ibu yang menyusui dan ikan-ikan landok yang tinggal sebagai dongeng.

Selain itu, ada refleksi terhadap waktu dan generasi, di mana batu-batu yang digerus zaman melambangkan perubahan yang tak terelakkan dan hilangnya keseimbangan antara manusia dan alam.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini melankolis, suram, dan reflektif. Pembaca dibawa merasakan ketakutan, kehilangan, dan kerinduan terhadap masa lalu yang lebih harmonis dengan alam. Ada nuansa mistis dan menakutkan pada bagian hantu rimba yang menelan batu-batu sungai, menambah ketegangan emosional.

Imaji

Beberapa imaji penting dalam puisi ini:
  • “Batu-batu diperam asin laut”, imaji visual dan sensorik yang menekankan proses alam yang panjang dan keras.
  • “Hantu rimba yang cukup tamak menanak hasrat ingin menggumul sungai menjadi payau”, imaji mitologis dan visual yang membangun nuansa ancaman dan mistik.
  • “Anak-anak kami tak berani berada di tepi sungai”, imaji sosial yang menampilkan ketakutan dan hilangnya interaksi manusia dengan alam.
  • “Ikan-ikan landok tinggal seonggok dongeng”, imaji simbolik yang menunjukkan hilangnya kehidupan nyata dan tersisa sebagai cerita.
Puisi “Sejak Semula” karya Mahdi Idris adalah puisi reflektif tentang hubungan manusia dengan alam dan waktu, yang menyoroti perubahan lingkungan, hilangnya warisan budaya, dan keterasingan generasi muda dari alamnya sendiri. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya menjaga alam dan menghargai sejarah kehidupan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Mahdi Idris
Puisi: Sejak Semula
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.