Puisi: Sekawan Semut (Karya Frans Nadjira)

Puisi “Sekawan Semut” karya Frans Nadjira bercerita tentang sekawanan semut yang menyeret kepala ikan di halaman menjelang malam. Peristiwa kecil ...
Sekawan Semut

Sekawanan semut
menyeret
kepala ikan
sebelum menyebar
gelap malam
di halaman.

Langit mencerca
        dirinya sendiri
sepanjang hari.
Seorang tua mengeja
berita koran di dinding:

        "Diketemukan tulang-tulang purba
        ditaksir berumur 1500 tahun"

Kamboja jatuh
    setangkai
Genangan air di bawah
Tersucikan.

"Walau sakit mengatakannya, tapi
telah kusaksikan sengketa berkepanjangan
jadi kupikir, tulang-tulang purba itu bukan mayat
seorang dukun atau orang sakti, atau
seorang muda yang tersesat".

Maka langit pun mencercanya.

Seperti nyala api
    di perladangan
Gemertak suara
Di seberang bukit.

    "Mereka tentu telah memperabukan
    tulang-tulang purba itu di sana"


Kucingnya yang rintik
melompat ke pangkuannya.

Manjaku, jangan kau mengira
bulan telah berbaik hati meninggalkan
pesona cahayanya di matamu.
Sinarnya, hanya ilmu para maling
untuk meluncur ke dalam
kamar tetangga.

kucing mengibaskan ekornya.
Menjilati bibirnya
memandangi
iring-iringan semut di lantai.

Sekonyong-konyong atap
    terpukul
ranting menggeliat.
Gemertak.
Gemertak menancap ke seluruh
ruangan.

Terlonjak ia menggigil.
Meraba matanya. Menemukan lobang gelap
yang dalam, Astaga.
Jadi gemertak itu bukan kilatan api
di seberang bukit. Tapi semut-semut itu.
Mereka telah menyeretku dari dalam.

Sumber: Horison (Oktober, 1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Sekawan Semut” karya Frans Nadjira merupakan puisi naratif-reflektif yang bergerak dari peristiwa kecil dan konkret menuju pengalaman batin yang menggetarkan. Melalui citraan semut, langit, tulang purba, suara gemertak, hingga tubuh manusia yang akhirnya “diseret”, puisi ini menyingkap relasi antara sejarah, kekerasan, ingatan, dan kefanaan manusia. Dunia luar dan dunia batin saling menembus, hingga batas antara pengamat dan korban menjadi kabur.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kefanaan manusia dan kekerasan sejarah yang terus berulang. Puisi ini juga menyentuh tema keterhubungan antara makhluk kecil dan nasib besar manusia, serta bagaimana konflik, sengketa, dan kematian meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar selesai.

Puisi ini bercerita tentang sekawanan semut yang menyeret kepala ikan di halaman menjelang malam. Peristiwa kecil ini menjadi pintu masuk ke rangkaian perenungan yang lebih luas: langit yang mencerca, seorang tua yang membaca berita tentang tulang-tulang purba, sengketa berkepanjangan, hingga suara gemertak yang semula disangka kilatan api. Di bagian akhir, penyair menyadari bahwa ancaman itu bukan datang dari luar, melainkan dari semut-semut yang perlahan “menyeretku dari dalam”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap cara manusia memandang sejarah dan kekerasan. Tulang-tulang purba yang diperdebatkan asal-usulnya menyiratkan bahwa korban konflik sering direduksi menjadi objek tafsir, bukan tragedi kemanusiaan. Semut—makhluk kecil yang bekerja kolektif—menjadi metafora kekuatan tak terlihat yang perlahan menggerogoti tubuh, ingatan, dan kesadaran manusia. Pada akhirnya, manusia tidak hanya menyaksikan sejarah kekerasan, tetapi juga menjadi bagian darinya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bergerak dari tenang dan kontemplatif menuju mencekam dan mengganggu. Awalnya terasa sunyi dan sehari-hari, namun perlahan berubah menjadi gelap, gelisah, dan penuh ancaman. Bagian akhir menghadirkan suasana horor eksistensial ketika batas antara pengamat dan objek runtuh sepenuhnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dibaca sebagai peringatan bahwa kekerasan dan konflik yang dianggap jauh atau purba sesungguhnya dekat dengan kehidupan manusia hari ini. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa pengabaian terhadap penderitaan dan sejarah kelam dapat berbalik menyeret manusia itu sendiri.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, seperti “langit mencerca dirinya sendiri”, yang memberi dimensi emosional pada alam.
  • Repetisi, pada kata “gemertak”, untuk memperkuat kesan ancaman dan ketegangan.
Puisi “Sekawan Semut” karya Frans Nadjira adalah puisi yang kompleks dan menggugah. Dengan memanfaatkan peristiwa kecil sebagai pintu masuk ke persoalan besar, puisi ini menunjukkan bagaimana sejarah, kekerasan, dan kematian bekerja secara perlahan namun pasti. Karya ini mengingatkan bahwa manusia bukan hanya saksi dunia, tetapi juga bagian rapuh di dalamnya—yang suatu saat bisa ikut “diseret” oleh kekuatan yang selama ini dianggap remeh.

Frans Nadjira
Puisi: Sekawan Semut
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira:
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.