Puisi: Semadi (Karya Ngurah Parsua)

Puisi “Semadi” karya Ngurah Parsua bercerita tentang proses semadi atau tapa batin yang berlangsung di ruang sunyi—baik ruang alam maupun ruang ...
Semadi

gadis memetik sukma
serangga bernyanyi
ngarai sunyi
pasraman tua
mengirim segala
berita api korban
besar oleh doa
kesepian panjang
cukupkan saja

lalang tumbuh tajamnya
runcing diasah sepi
mengalir ke anak sungai
he, jero gede
dilingkari umbul-umbul
besar karena sepi
semadi

segala hidup jadi tak mati
segala miskin sederhana
makna segala makna
tak siap diucapkan
lebih baik memejam mata
ditabuh kulkul
hidup dan mati abadi mencari
lembah sunyi senyap saja
tertidur resah pada lembah
carilah! Tak guna gelisah!!!
di balik jendela dan pintu rumah

Denpasar, 1983

Sumber: 99 Puisiku (Lembaga Seniman Indonesia Bali, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Semadi” karya Ngurah Parsua menampilkan lanskap spiritual yang kental dengan nuansa kesunyian, perenungan, dan laku batin. Puisi ini tidak bergerak dalam alur cerita linear, melainkan melalui fragmen-fragmen simbolik yang saling berkelindan, menghadirkan pengalaman semadi sebagai proses batin yang dalam dan personal. Latar alam, istilah kultural, serta citraan religius menjadi unsur penting dalam membangun makna puisi ini.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual dan pencarian makna hidup melalui kesunyian. Semadi dipahami sebagai jalan menuju pemurnian diri, penerimaan hidup dan mati, serta upaya memahami makna terdalam dari keberadaan manusia. Tema kesederhanaan, keheningan, dan pelepasan dari kegelisahan duniawi juga tampak kuat.

Puisi ini bercerita tentang proses semadi atau tapa batin yang berlangsung di ruang sunyi—baik ruang alam maupun ruang kesadaran. Gambaran seperti ngarai sunyi, pasraman tua, lembah senyap, dan bunyi kulkul menghadirkan suasana ritual dan kontemplatif. Subjek lirik seolah berada dalam perjalanan spiritual, menyaksikan kehidupan, doa, korban, kesepian, hingga akhirnya berhadapan dengan makna hidup dan mati.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa makna sejati kehidupan tidak selalu bisa diucapkan dengan kata-kata. Kesadaran spiritual justru lahir dari keheningan, dari keberanian untuk memejamkan mata, menerima kesepian, dan berdamai dengan ketidaktahuan. Ungkapan “makna segala makna / tak siap diucapkan” menyiratkan keterbatasan bahasa dalam menjelaskan pengalaman batin yang mendalam.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kegelisahan manusia sering kali bersumber dari keinginan memahami segalanya secara rasional, padahal makna dapat ditemukan justru ketika manusia berhenti gelisah dan menyerahkan diri pada proses batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sunyi, sakral, dan kontemplatif, dengan sentuhan kesepian yang panjang namun tidak menakutkan. Kesunyian digambarkan sebagai ruang pembesaran jiwa, bukan kehampaan. Pada bagian akhir, suasana berubah menjadi semacam seruan batin yang tegas namun tetap reflektif: sebuah ajakan untuk mencari tanpa gelisah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menempuh jalan batin dengan kesederhanaan dan keikhlasan. Manusia diingatkan agar tidak terjebak pada kegelisahan berlebihan, karena hidup dan mati adalah bagian dari pencarian yang abadi. Dengan menerima kesunyian, manusia justru dapat menemukan ketenangan dan kebijaksanaan.

Puisi “Semadi” karya Ngurah Parsua merupakan puisi spiritual yang menempatkan kesunyian sebagai ruang pencarian dan pemahaman hidup. Dengan bahasa yang padat simbol dan kaya rujukan kultural, puisi ini tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan mengajak pembaca untuk ikut menyelam ke dalam keheningan dan menemukan makna melalui pengalaman batin masing-masing.

Ngurah Parsua
Puisi: Semadi
Karya: Ngurah Parsua

Biodata Ngurah Parsua:
  • Ngurah Parsua memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Parsua.
  • Ngurah Parsua lahir di Bondalem, Singaraja, Buleleng.
© Sepenuhnya. All rights reserved.