Puisi: Sementara Tawaf (Karya Ajip Rosidi)

Puisi "Sementara Tawaf" mengeksplorasi pengalaman spiritual yang intens selama ritual tawaf di Ka'bah.
Sementara Tawaf

Kukitari rumah-Mu
Kukitari rumah-Mu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata:
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tangan-Mu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

Kukitari rumah-Mu
Berdesakan kukitari rumah-Mu
yang memberi kedamaian dalam diri
menyadari betapa busuk dan hina
segala pikiran keji
yang selalu tumbuh menggoda hati:
Tuhanku, Tuhanku, selamatkan kami
dari segala godaan setani
Percikkan hidayah-Mu, hindarkan kami
dari jalan yang mengarah ke api abadi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

Kukitari rumah-Mu
Kukitari rumah-Mu, ketika Engkau menurunkan
sayap-sayap ketenteraman
ke dalam jutaan hati umat
yang berdatangan dari segala penjuru
memenuhi panggilan-Mu
Labbaika, Allahumma labbaika
Labbaika, la syarikalaka.

Allahuma
berilah kami kekuatan
untuk menjauhi larangan-Mu
untuk mematuhi suruhan-Mu.

Beri kami kebaikan
Di bumi ini
dan di akhirat nanti

Dan jauhkan kami
dari api abadi.

Amin.

Sumber: Sajak-Sajak Anak Matahari (1979)

Analisis Puisi:

Puisi "Sementara Tawaf" karya Ajip Rosidi menawarkan sebuah refleksi mendalam tentang pengalaman spiritual dan permohonan dalam konteks ritual tawaf di Ka'bah, Mekah. Melalui bahasa yang penuh perasaan dan simbolisme yang kuat, puisi ini mengeksplorasi tema pengabdian, permohonan ampunan, dan pencarian kedamaian di tengah kerumunan umat.

Struktur dan Tema

Puisi ini dibagi menjadi beberapa bait, masing-masing menggambarkan aspek berbeda dari pengalaman tawaf—ritual penting dalam ibadah haji atau umrah bagi umat Muslim. Struktur puisi yang teratur ini mencerminkan urutan ritual tawaf dan perasaan yang mendalam dari penulis.

Permohonan dan Pengakuan di Rumah Tuhan

"Kukitari rumah-Mu / Kukitari rumah-Mu bersama jutaan umat / Ketika Kauturunkan rahmat / meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata:"

Baris-baris ini menggambarkan pengalaman penulis saat melaksanakan tawaf di sekitar Ka'bah, simbol rumah Tuhan. Penulis menyatakan rasa syukur dan permohonan untuk rahmat Tuhan yang turun dan meresap ke dalam hati, menciptakan momen spiritual yang mendalam. "Kauturunkan rahmat" menunjukkan harapan akan pengampunan dan bimbingan dari Tuhan.

Permohonan Ampunan dan Perlindungan

"Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami / Ulurkan tangan-Mu, bimbing kami / ke jalan lurus yang Kauridoi. / Di bumi ini / dan di akhirat nanti."

Dalam bagian ini, penulis meminta ampunan dan bimbingan Tuhan untuk menjalani hidup dengan benar. Pengulangan "Tuhanku" menunjukkan kedekatan emosional dan kebutuhan mendalam akan perlindungan serta arah. Permohonan ini tidak hanya berlaku untuk kehidupan di dunia ini tetapi juga di akhirat.

Kesadaran Diri dan Permohonan Kebaikan

"Berdesakan kukitari rumah-Mu / yang memberi kedamaian dalam diri / menyadari betapa busuk dan hina / segala pikiran keji / yang selalu tumbuh menggoda hati:"

Baris ini menggambarkan pengalaman spiritual dan kesadaran diri yang mendalam selama tawaf. Penulis merasakan kedamaian di tengah kerumunan dan menyadari kelemahan serta godaan batin yang harus dihindari. Permohonan berikutnya adalah untuk perlindungan dari godaan dan jalan yang menyesatkan.

Pengakuan dan Permohonan Kekuatan

"Allahuma / berilah kami kekuatan / untuk menjauhi larangan-Mu / untuk mematuhi suruhan-Mu. / Beri kami kebaikan / Di bumi ini / dan di akhirat nanti / Dan jauhkan kami / dari api abadi."

Di bagian akhir, penulis memohon kekuatan untuk mengikuti petunjuk Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Ada permohonan untuk kebaikan dan perlindungan dari api abadi, yang melambangkan kesadaran akan kehidupan setelah mati dan harapan untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan abadi.

Interpretasi

Puisi "Sementara Tawaf" mengeksplorasi pengalaman spiritual yang intens selama ritual tawaf di Ka'bah. Ajip Rosidi menggunakan bahasa yang penuh perasaan untuk menggambarkan momen-momen refleksi dan permohonan di tengah kerumunan umat Muslim yang melaksanakan ibadah haji atau umrah.

Ritual tawaf, yang melibatkan berputar di sekitar Ka'bah, adalah simbol dari ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Dalam puisi ini, proses tawaf digambarkan sebagai waktu yang penuh dengan permohonan ampunan, kesadaran diri, dan pencarian kedamaian. Penulis menyadari betapa pentingnya pengabdian dan bagaimana ritual ini membantu membersihkan hati serta jiwa dari dosa dan godaan.

Puisi ini juga menekankan betapa pentingnya memiliki kekuatan untuk mengikuti petunjuk Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Permohonan untuk perlindungan dari api abadi menunjukkan kesadaran akan kehidupan setelah mati dan harapan untuk mendapatkan keselamatan.

Secara keseluruhan, "Sementara Tawaf" adalah sebuah meditasi tentang spiritualitas, pengabdian, dan pencarian kedamaian di tengah kerumunan umat. Dengan bahasa yang kuat dan imaji yang mendalam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna ritual tawaf dan bagaimana hal tersebut berhubungan dengan permohonan ampunan dan bimbingan Tuhan.

Puisi Ajip Rosidi
Puisi: Sementara Tawaf
Karya: Ajip Rosidi

Biodata Ajip Rosidi:
  • Ajip Rosidi lahir pada tanggal 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.
  • Ajip Rosidi meninggal dunia pada tanggal 29 Juli 2020 (pada usia 82 tahun) di Magelang, Jawa Tengah.
  • Ajip Rosidi adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.