Puisi: Seminggu di Banten Selatan (Karya Adri Darmadji Woko)

Puisi "Seminggu di Banten Selatan" bercerita tentang pengalaman seseorang yang menghabiskan waktu selama seminggu di wilayah Banten Selatan, ...

Seminggu di Banten Selatan


BERSAMA naik truk menyisir Teluk Lada, kulihat bapak itu berpegangan pada tumpukan barang dengan wajahnya mengeras diterpa angin dari depan.

SEPERTI juga mereka, aku tak bisa diam saja berjalan sepanjang perkampungan Teluk Lada di pasar tempat mereka bertemu dan mereka memandang padaku sebagai orang asing yang terlempar dari Jakarta.

KESENANGANKU pada mereka adalah pada saudaraku di mana aku menginap dan senyum tuan rumah bagai senyum ramahmu.

KEHIDUPAN mereka sehari-hari yang menjadikan butir pada di belakang rumah mereka rasanya melupakan nasib diriku yang rasanya bagai benalu.

PADA malam yang dingin dan sepi kudengarkan radio dan aku menyetelnya pada gelombang demi gelombang untuk mempermainkan sepi. (barangkali belu sampai padamu kabar, di mana sampan nelayan Teluk Lada hilang dibawa ombak dan beberapa perempuan menangis kehilangan suami tercinta).

LALU pada setiap aku pergi ke pantai kudengar suara ombak bergemuruh seperti suara panggilanmu supaya aku kembali, tapi juga bimbang dengan Jakarta yang bising maka rasanya aku ingin hidup saja di pedalaman ini dengan saudaraku petani.

1972

Sumber: Horison (Oktober, 1974)

Analisis Puisi:

Puisi "Seminggu di Banten Selatan" merupakan catatan puitik tentang pengalaman tinggal sementara di wilayah pesisir dan pedalaman Banten Selatan. Melalui pengamatan yang tenang, personal, dan reflektif, penyair menghadirkan pertemuan antara diri “aku” dengan kehidupan masyarakat desa, alam pantai, serta bayangan kota yang ditinggalkan. Puisi ini tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga pergulatan batin antara keterasingan, kedekatan, dan kerinduan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan pencarian makna hidup melalui perjumpaan dengan kehidupan sederhana masyarakat desa. Di dalamnya juga terdapat tema perbandingan antara kehidupan kota (Jakarta) yang bising dengan kehidupan desa yang tenang, meskipun tidak lepas dari kesedihan dan tragedi.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang menghabiskan waktu selama seminggu di wilayah Banten Selatan, khususnya Teluk Lada. Ia naik truk bersama warga, menyusuri perkampungan, mengamati kehidupan pasar, menginap di rumah saudara, mendengarkan radio di malam hari, hingga berjalan ke pantai. Dalam proses itu, ia merasakan dirinya sebagai orang luar—“orang asing yang terlempar dari Jakarta”—namun perlahan menemukan kehangatan dan kedekatan emosional dengan penduduk setempat.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada kritik halus terhadap kehidupan kota yang menjauhkan manusia dari kesederhanaan, kepekaan, dan relasi antarmanusia. Perasaan “bagai benalu” menunjukkan krisis identitas dan rasa tidak berguna yang dialami subjek lirik ketika membandingkan dirinya dengan kehidupan petani dan nelayan yang meski sederhana, tampak lebih menyatu dengan alam dan realitas. Tragedi nelayan yang hilang di laut juga menyiratkan bahwa kehidupan desa tidak romantis sepenuhnya, tetapi penuh risiko dan kehilangan yang diterima dengan ketabahan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana dalam puisi yang kontemplatif, sunyi, dan melankolis. Suasana dingin dan sepi pada malam hari, bunyi radio, serta gemuruh ombak menciptakan kesan batin yang sedang merenung dan bimbang. Ada ketenangan yang menenangkan, tetapi juga kesedihan yang halus dan mendalam.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk merenungkan kembali arah hidup dan makna keberadaan diri. Puisi ini seolah menyampaikan bahwa manusia perlu sesekali menjauh dari hiruk-pikuk kota untuk memahami kehidupan dari sudut yang lebih sederhana dan jujur. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan agar tidak memandang rendah kehidupan desa, karena di sanalah nilai kebersamaan, ketulusan, dan kedekatan dengan alam masih terjaga.

Puisi "Seminggu di Banten Selatan" adalah puisi reflektif yang memotret perjalanan batin seseorang yang terombang-ambing antara kota dan desa, antara kebisingan dan kesunyian, serta antara keterasingan dan keinginan untuk pulang pada kehidupan yang lebih sederhana. Puisi ini mengajak pembaca untuk ikut berhenti sejenak dan mendengarkan suara alam serta suara hati sendiri.

Adri Darmadji Woko
Puisi: Seminggu di Banten Selatan
Karya: Adri Darmadji Woko

Biodata Adri Darmadji Woko:
  • Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.