Puisi: Senandung di Kamar Kecil (Karya Abrar Yusra)

Puisi “Senandung di Kamar Kecil” karya Abrar Yusra bercerita tentang seseorang yang merasa dirinya sedang berada di ruang tunggu, berhadapan dengan ..
Senandung di Kamar Kecil

Misalkan aku di ruang tunggu dan berhadapan dengan pintu
terkunci. Maka aku sedang mencari sebuah kunci rahasia
untuk masuk ke dalam. Tapi kunci tak pernah ada
di tanganku. Aku tak pernah sabar dan tak pernah bisa sabar
menunggu. Dan sifat buruk ini amat memperdayakan
orang-orang seperti aku! Amat tak sabar dan amat gusar kuketok
pintu. Kuketok dan kuketok-ketok
selama hidupku:
        Alangkah sia-sia hidupku ini!
        Lagi pula bayangkan betapa tragis
sebab sebenarnya aku tak melakukan apapun sebab tak ada
pintu. Tak ada

19 Oktober 1984

Sumber: Horison (Juni, 1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Senandung di Kamar Kecil” karya Abrar Yusra menghadirkan perenungan batin yang getir dan ironis tentang manusia, penantian, serta kegelisahan eksistensial. Melalui situasi yang tampak sederhana—seseorang berhadapan dengan pintu terkunci—penyair membangun refleksi mendalam tentang hidup, kesabaran, dan ilusi tindakan. Bahasa yang lugas namun repetitif menegaskan rasa frustasi sekaligus kesadaran pahit akan kesia-siaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan eksistensial dan kesia-siaan hidup. Puisi ini juga menyentuh tema penantian, ketidaksabaran, serta pencarian makna yang berujung pada kesadaran bahwa yang dicari mungkin tidak pernah ada.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa dirinya sedang berada di ruang tunggu, berhadapan dengan sebuah pintu yang terkunci. Ia mengira harus mencari kunci rahasia untuk masuk, tetapi kunci itu tak pernah ada di tangannya. Tokoh "aku" digambarkan sebagai sosok yang tidak sabar, gusar, dan terus-menerus mengetuk pintu sepanjang hidupnya. Pada akhirnya, muncul kesadaran tragis bahwa sebenarnya tidak ada pintu sama sekali—dan karenanya, semua usaha yang dilakukan menjadi sia-sia.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap manusia yang terjebak dalam ilusi tujuan dan tindakan. Manusia sering merasa sibuk “mengetuk pintu” kehidupan—mengejar makna, jawaban, atau keselamatan—tanpa pernah mempertanyakan apakah pintu itu benar-benar ada. Puisi ini menyiratkan bahwa kegelisahan hidup kerap lahir dari asumsi-asumsi palsu yang diterima tanpa refleksi mendalam.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa gelisah, muram, dan ironis. Repetisi kata “mengetok” dan pengakuan ketidaksabaran membangun nuansa frustasi yang terus meningkat, hingga akhirnya berujung pada kesadaran pahit dan tragis tentang kesia-siaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk merenungkan ulang tujuan hidup dan cara manusia memaknainya. Puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua kegelisahan harus diselesaikan dengan tindakan tergesa-gesa; terkadang, yang lebih penting adalah mempertanyakan asumsi dasar tentang apa yang sedang kita kejar dan mengapa kita melakukannya.

Puisi “Senandung di Kamar Kecil” adalah puisi reflektif yang tajam dan getir. Abrar Yusra berhasil mengungkap kegelisahan manusia modern yang terus berusaha, terus gelisah, namun jarang berhenti untuk mempertanyakan dasar dari pencariannya. Puisi ini mengajak pembaca untuk menengok ke dalam diri, menimbang ulang makna tindakan, dan menyadari kemungkinan bahwa yang kita kejar selama ini mungkin hanya bayangan semata.

Abrar Yusra
Puisi: Senandung di Kamar Kecil
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.