Sendawar
Sumber: Dayak! Dayak! Di manakah Kamu? (2014)
Catatan:
- Kewangkey = upacara kematian.
- Wara = mantra kematian.
- Puti rahaaq = benggeris; (puti = bahasa Benuaq; rahaaq = bahasa Tonyooi).
- Jaji = cerdas.
Analisis Puisi:
Puisi “Sendawar” karya Korrie Layun Rampan adalah refleksi mendalam tentang budaya, perubahan zaman, dan ancaman terhadap lingkungan hidup masyarakat Dayak. Melalui simbolisme dan istilah-istilah khas budaya Dayak seperti kewangkey, wara, puti rahaaq, dan jaji, puisi ini menampilkan perenungan yang sarat filosofi dan kritik sosial.
Tema
Tema utama puisi ini berkisar pada konflik antara tradisi dan modernitas, serta ancaman kerusakan lingkungan terhadap kebijaksanaan lokal dan pengetahuan nenek-moyang. Penyair menyoroti bagaimana praktik budaya yang kaya akan filosofi, seperti upacara kewangkey dan tarian leluhur, menghadapi tekanan dari eksploitasi alam modern, seperti pertambangan batu bara dan perkebunan sawit. Selain itu, puisi ini mengangkat tema perlindungan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal.
Puisi ini bercerita tentang kesadaran akan warisan budaya Dayak yang kini terancam oleh perubahan zaman dan kerusakan lingkungan. Bait pertama membuka dengan simbol macan dahan, hewan yang memetik babi, sebagai lambang keberanian atau api semangat. Selanjutnya, penyair menyinggung upacara kewangkey dan mantra wara, yang menjadi sarana penyembuhan dan penguatan spiritual bagi masyarakat.
Istilah puti rahaaq disebut sebagai “istana” dan simbol dari kepintaran (jaji), yang kini terancam oleh galian batu bara dan perkebunan sawit. Puisi ini menekankan bahwa meski tradisi seperti madu Dayak memiliki khasiat fisik dan simbolik, modernisasi dan kerusakan lingkungan telah mengurangi kemampuan budaya untuk “menghidangkan kepintaran” atau menyalurkan kebijaksanaan leluhur kepada generasi sekarang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik sosial terhadap destruksi lingkungan dan hilangnya nilai-nilai budaya tradisional. Melalui simbol-simbol budaya dan alam, penyair menekankan bahwa kemajuan material dan eksploitasi sumber daya sering mengorbankan kearifan lokal yang sudah teruji oleh waktu. Selain itu, puisi ini menyiratkan kepedulian terhadap kesinambungan hidup dan perlunya menjaga identitas budaya di tengah modernisasi.
Puisi “Sendawar” adalah refleksi yang kuat tentang keberlanjutan budaya dan lingkungan. Korrie Layun Rampan menggunakan simbol-simbol Dayak dan metafora lingkungan untuk menyampaikan pesan bahwa tradisi, kebijaksanaan, dan alam harus dijaga agar generasi mendatang tetap memiliki pondasi nilai yang kuat. Puisi ini bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai peringatan dan seruan agar manusia tidak mengabaikan warisan budaya dan lingkungan hidup.
Karya: Korrie Layun Rampan
Biodata Korrie Layun Rampan:
- Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
- Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
- Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
