Analisis Puisi:
Puisi “Seperti Biasa” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menghadirkan perenungan religius dan eksistensial melalui bahasa yang lembut dan berulang. Ungkapan “seperti biasa” yang terus diulang justru menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam hidup—lahir, hidup, dan mati—sering dialami manusia dengan kesadaran yang tenang, rutin, dan penuh kepasrahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah relasi spiritual manusia dengan Tuhan dalam siklus kehidupan. Puisi menempatkan doa, ingatan akan asal-usul, dan kesadaran akan kematian sebagai bagian yang “biasa”, namun sarat makna.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berulang kali “menelepon” Tuhan—sebuah metafora untuk berdoa dan memohon petunjuk. Ia mengingat perjalanan hidup sejak janji ruh sebelum lahir, kelahiran dari rahim menuju terang, hingga peristiwa kematian yang digambarkan sebagai tubuh yang tercebur ke dalam lubang.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa hidup manusia selalu berada dalam bimbingan Tuhan, meski sering dijalani secara rutin dan tanpa kegaduhan. Kebutuhan akan “pemandu jalan” menandakan keterbatasan manusia dalam menentukan arah hidupnya sendiri, sementara pengulangan “seperti biasa” menyiratkan kepasrahan dan keikhlasan atas takdir.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana khidmat, lirih, dan penuh ketenangan. Meski membicarakan kelahiran dan kematian, puisi ini tidak terasa tragis, melainkan lembut dan reflektif.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk senantiasa mengingat Tuhan dalam setiap fase kehidupan. Doa, ingatan akan janji ruh, dan kesadaran akan kematian seharusnya menjadi bagian alami dari hidup manusia, bukan hanya hadir saat genting atau putus asa.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan dekat dengan pengalaman manusia, antara lain:
- Imaji perjalanan pada “peta perjalanan”, “warung makan”, dan “arah jalan pulang”,
- Imaji tubuh dan ruang pada “perut yang mengembang”, “rahim”, dan “ranjang”,
- Imaji dingin dan senyap pada “angin dingin” dan “lubang” sebagai simbol kematian.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan siklus hidup yang utuh.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada “menelepon-Mu” sebagai simbol doa,
- Repetisi, pada frasa “seperti biasa” untuk menegaskan siklus dan kepasrahan,
- Personifikasi, pada kalbu yang “menyeru”.
Puisi "Seperti Biasa" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa adalah puisi perenungan yang sederhana namun mendalam. Dengan bahasa yang lembut dan pengulangan yang bermakna, puisi ini mengajak pembaca melihat kembali kehidupan—dari lahir hingga mati—sebagai perjalanan spiritual yang senantiasa memerlukan bimbingan Tuhan, meski semuanya berlangsung “seperti biasa”.
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
