Puisi: Seperti Biasa (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Puisi "Seperti Biasa" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa bercerita tentang seseorang yang berulang kali “menelepon” Tuhan—sebuah metafora untuk berdoa ..
Seperti Biasa

Seperti biasa, aku harus menelepon-Mu berulang-ulang. Sebelum
peta perjalanan terlihat makin rabun dan gamang. Sekedar bertanya
tentang letak warung makan, bekal perjalanan, hingga arah jalan
pulang. barangkali, aku memang butuh pemandu jalan, yang bisa
mengantarku ke rumah-Mu sebelum hari beranjak petang. Sebelum
angin dingin kian merasuk ke pori-pori dan sumsum tulang.

Seperti biasa, kalbu ini menyeru berulang-ulang. Tentang janji
yang terucap saat ruh dipanggil datang. Sebelum menempati tubuh
mungil dalam perut yang mengembang. Sebelum tangis pertama
pecah di atas ranjang, di samping wajah teduh yang penuh kasih
sayang: berangkat dari kegelapan rahim menuju sinar terang.

Seperti biasa, air mata ini kembali datang, usai tubuh tercebur
ke dalam lubang. Seperti rindu yang memanggil berulang-ulang.
Seperti biasa, Sayang.

Jepara, 28 Maret 2012

Sumber: Merintis Gerimis (Dirgan Publishing, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Seperti Biasa” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menghadirkan perenungan religius dan eksistensial melalui bahasa yang lembut dan berulang. Ungkapan “seperti biasa” yang terus diulang justru menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam hidup—lahir, hidup, dan mati—sering dialami manusia dengan kesadaran yang tenang, rutin, dan penuh kepasrahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah relasi spiritual manusia dengan Tuhan dalam siklus kehidupan. Puisi menempatkan doa, ingatan akan asal-usul, dan kesadaran akan kematian sebagai bagian yang “biasa”, namun sarat makna.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berulang kali “menelepon” Tuhan—sebuah metafora untuk berdoa dan memohon petunjuk. Ia mengingat perjalanan hidup sejak janji ruh sebelum lahir, kelahiran dari rahim menuju terang, hingga peristiwa kematian yang digambarkan sebagai tubuh yang tercebur ke dalam lubang.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran bahwa hidup manusia selalu berada dalam bimbingan Tuhan, meski sering dijalani secara rutin dan tanpa kegaduhan. Kebutuhan akan “pemandu jalan” menandakan keterbatasan manusia dalam menentukan arah hidupnya sendiri, sementara pengulangan “seperti biasa” menyiratkan kepasrahan dan keikhlasan atas takdir.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana khidmat, lirih, dan penuh ketenangan. Meski membicarakan kelahiran dan kematian, puisi ini tidak terasa tragis, melainkan lembut dan reflektif.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk senantiasa mengingat Tuhan dalam setiap fase kehidupan. Doa, ingatan akan janji ruh, dan kesadaran akan kematian seharusnya menjadi bagian alami dari hidup manusia, bukan hanya hadir saat genting atau putus asa.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan dekat dengan pengalaman manusia, antara lain:
  • Imaji perjalanan pada “peta perjalanan”, “warung makan”, dan “arah jalan pulang”,
  • Imaji tubuh dan ruang pada “perut yang mengembang”, “rahim”, dan “ranjang”,
  • Imaji dingin dan senyap pada “angin dingin” dan “lubang” sebagai simbol kematian.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan siklus hidup yang utuh.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada “menelepon-Mu” sebagai simbol doa,
  • Repetisi, pada frasa “seperti biasa” untuk menegaskan siklus dan kepasrahan,
  • Personifikasi, pada kalbu yang “menyeru”.
Puisi "Seperti Biasa" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa adalah puisi perenungan yang sederhana namun mendalam. Dengan bahasa yang lembut dan pengulangan yang bermakna, puisi ini mengajak pembaca melihat kembali kehidupan—dari lahir hingga mati—sebagai perjalanan spiritual yang senantiasa memerlukan bimbingan Tuhan, meski semuanya berlangsung “seperti biasa”.

Puisi: Seperti Biasa
Puisi: Seperti Biasa
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
© Sepenuhnya. All rights reserved.